
Bab 10 Nuri
Sudah beberapa hari Nuri tak pernah pergi jauh dari rumah. Paling jauh ia hanya pergi ke warung yang ada di belokan.
"Betah amat di rumah," Suara dari seberang telpon, " Lagi mengerami telur ya?" canda Via sambil tertawa.
"Iya biar cepet netas dan jadi kaya. Lagi pula gak ada yang penting-penting amat untuk aku keluar rumah. Bagiku rumah adalah tempat paling nyaman."
"Iya deh iya. Setengah jam lagi aku sampai, tunggu ya!" Via mematikan sambung telpon. Via mendorong pintu rumah tantenya.
"Tenteeee!" Via sekali berteriak heboh. "Bani ada?"
"Ada lagi di ruang olah raga. Tumben sekali kamu mampir dan nanyain dia. Kangen brantem ya?" Mama Bani mengacak rambut keponkannya.
"Ish tante gitu ah. Aku mau minta tolong dia buat nganterin aku," ucap Via cengengesan.
"Ternyata... Udang di balik bakwannya belum matang. Tunggu sebentar biar tante panggil dulu."
"Baiklah," Sambil menunggu, Via menikmati kue panggang yang baru saja dikeluarkan dari oven.
"Minta tolong apa?" Via segera menoleh, dia tau saudaranya itu tidak akan sampai hati menolak.
"Anterin Teteh dong mau ketemu temen. Mobil teteh lagi di bengkel. Aa juga lagi keluar kota. Mau ya nganterin. Bani kan baik."
"Akmal." Bani memutar bola mata sambil mengoreksi namanya. "Males ah, lagi ada maunya aja baik," lanjut lelaki itu.
"Iya Akmal Bani, Ayolah please. Masa kamu tega membiarkan sepupu-mu yang cantik ini naik ojek."
"Yang penting sampe 'kan?"
Meski mengatakan malas Bani aka Akmal tetap mengantakan Via. Tak sampai setengah jam mobil sudah memasuki gerbang komplek tempat tinggal Nuri.
"Teteh temennya di sini?"
"Huum, kenapa kamu sering ke daerah sini juga?"
"Enggak sih cuma pernah dengar aja. Abis nganterin aku langsung pulang yah."
"Hem. Belok kanan noh ada rumah bercat abu hitam itu berhenti ya!"
Akmal ikut turun saat menyadari rumah siapa yang tengah mereka datangi. "Loh kok ikut turun?"
"Pengen kenalan sama teman Kak Via. Rumah siapa sih?" Akmal ingin memastikan lebih dulu. Dia yakin alamat yang diberikan oleh IT jalanan itu adalah alamat rumah ini. Dia pun mencocokan alamat rumah ini dengan yang ada di ponselnya. Benar ini rumah Nuri, si Cinta pujaan hatinya.
Karena sudah biasa wara wiri orang-orang di sana sudah kenal lagi dengan Via. Mereka hanya tersenyum sambil mengangguk.
Di taman kecil dekat kolam ikan Akmal melihat seorang lelaki yang dipikirkan usia mereka tak terpaut begitu jauh. Sebuah ide berilian muncul di benak Akmal. Dia bisa sering bertemu pujaan hatinya kalau dia bisa berteman dengan lelaki yang tengah mencuci motor. Lelaki mudah akrab apalagi jika sudah menyangkut hobi yang sama. Memanfaat dengan baik kesempatan langka yang ia dapat.
Berhubung Via tak mengajaknya masuk, maka ini adalah kesempatan yang tepat untuknya. Akmal mulai berbasa-basi mengeluarkan jurus tengilnya.
"Anak motor?" tanya Akmal menghampiri.
"Bukan, anak mama."
"Ck..."
***
"Nuri ya ampun." Via mendorong pintu ruang kerja Nuri.
"Lok kok cepat sekali, naik apa?"
"Naik pesawat," jawab Via asal. Perempuan itu menghempaskan bobot tubuhnya pada sofa single yang tak jauh dari meja kerja Nuri. "Cepetan bersiap!"
"Tinggal ambil tas kok. Sebenarnya aku tuh males harus keluar-keluar."
"Nuri cucian aja kadang ke luar rumah kalau di laundry. Masa kamu mau di rumah aja, nanti lumutan loh."
"Ya iya iya, ayo ayo," Nuri bangkit setelah mematikan laptop. "Jadi mau kemana kita?"
"Dora the exsploler kali ah," kekeh Via dan ikut bangkit.
"Pakai maobil kamu, tadi aku kesini dianter sepupu."
"Kebiasaan, bilang saja kamu lagi ngirit." Meski begitu mereka tetap pergi menggunakan mobil milik Nuri. Dari tempat mobilnya berada Nuri melihat Bani aka Akmal. Tapi reaksi Nuri biasa saja.
"Bani, kamu gak usah nunggu, Teteh. Teteh pulang minta dijemput aja sama Aa," ujar Via.
"Oke."
"Yoi, naksir?"
"Mau gak ya dia sama gue?"
"Kakak gue sukanya sama duda, kalo lo mau jadi idaman dia lo jadi duda dulu!"
"Kampret, kampret." Mereka tertawa ternyata Akmal menemukan calon ipar yang satu frekuensi.
***
Nuru dan Via sudah sampai di tempat tujuan. Ya Via mengajak Nuri mengunjungi bazar buku di sebuah mall. Buku adalah surga bagi mereka .
"Nuri! Lihat tuh anak kecil aja ada yang gandeng. Kamu kapan?"
Buku yang dipegang Nuri seketika melayang dan mendarat di kening Via. "Jelas anak itu digandeng, kalau gak digandeng bisa diculik tuh anak."
"Eh, eh iya ya," Via tertawa, " bener juga."
Selesai dari bazar buku mereka mampir sejenak untuk makan siang. Mereka memesan beberapa makanan. Sambil menunggu makanan datang, seperti biasa Nuri akan mendengarkan keluhan dari sahabatnya itu. Mulai dari Via merasa tertekan karena selalu ditanya kapan punya anak, Suami yang kadang pulang malam dan pertengkaran-pertengkaran lain.
"Aslinya cape aku tuh Nuri."
"Namanya juga rumah tangga, Vi. Aku gak tau harus komen apa?" kekeh Nuri.
"Kamu nikah gih, biar aku pas curhat sama kamu itu dapat solusi."
Raut wajah Nuri langsung berubah. Via yang menyadari itu langsung minta maaf. "Santai Vi, santai."
"Nuri kamu menyimpan sesuatu yang aku gak tau?"
"Gak ada."
"Nuri aku tuh teman kamu. Apa pun yang kamu alami jangan kamu simpen sendiri. Ada kalanya diri sendiri tak bisa memberikan solusi. Kadang solusi bisa datang setelah kita membagi masalah pada orang yang kita percaya."
"Gak ada, Vi. Sungguh."
"Gak Nuri aku yakin kamu sedang menghadapi masalah. Kamu jarang keluar rumah, kamu seperti tak melihat laki-laki ada. Bahkan sejak kamu putus dengan Hardy, kamu tak pernah mengenalkan laki-laki padaku. Kamu masih mencintai Hardy?"
Nuri menggelengkan kepala.
"Ok, kamu simpan aja masalah kamu sendiri. Sekarang aku mau kasih tau kamu sesuatu."
"Apa tuh?"
"Mas Irsya menyukai kamu?"
Nuri sudah tahu akan hal itu, tapi dia bersikap biasa aja. "Oh,"
"Gitu doang? Kamu gak senang disukai seorang dokter, tampan, juga kaya."
"Biasa aja lagian ku tuh gak pantes sama dia. Level kita jauuuuuuuuhh,"
Via mendelik dan mendengus kesal. "Aneh kamu tuh. Biasanya kalu ditanya kapan nikah kamu selalu jawab nanti belum ketemu sama dudanya. Giliran udah ada tuh duda kamunya biasa aja."
Nuri tertawa, "dah ah, Mau ngisi amplop berapa sampai kamu nanya aku kapan nikah, aku kapan nikah. Giliran diundang isi amplopnya cuma lima puluh ribu."
"Heh semabarangan. Ya maksud aku tuh biar ada teman senasib sih. Jadi nanti ngeluhnya barengan,"
Ponsel Via berdering. "Bentar ya sepupu aku."
Nuri menunggu sambil menghabiskan makanan di piring.
"Aku balik ke rumah kamu lagi deh," kata Via setelah menutup panggilan.
"Loh, katanya dijemput sama suami."
"Gak jadi kasihan Bani nunggu di rumah kamu."
Benar saat mereka tiba, mobil Akmal masih berada di sana. "Gak mampir dulu?" tawar Nuri.
"Langsung pulang aja, capek."
"Harummu membuat tubuhku bergetar, gelisah dan hanya memikirkan kamu," ucap Akmal saat berpapasan dengan Nuri di pintu.
Nuri menoleh ke arah Akmal yang ternyata sedang tersenyum manis ke arahnya. Nuri membalasnya dengan tatapan tajam.
"Uuuhhh galaknya, aku bayangin kamu galak dan liar saat di ranjang."