Nuri

Nuri
Bab 32



"Jangan takut, kalau kamu takut itu artinya teror mereka menang. Aku akan selalu menjagamu," ucap Arsyan tulus. Dia menggenggam tangan Nuri erat.


"Aku gak mengerti tujuan mereka melakukan segala teror ini. Selama ini aku merasa gak memiliki musuh."


Arsyan menarik bahu Nuri agar perempuan itu menyandarkan padanya. Arsyan senang karena Nuri rak menolak. "Tenang saja. Sebaik apapun rencana, tidak akan berhasil jika Allah tak menghendaki."


Tenang yang dirasakan oleh Nuri saat bersandar pada dada bidang suaminya. Dia mengingat ucapan mertuanya tentang lelaki ini yang tak menyentuh ibunya Fisya. Nuri mendongak, sedangkan Arsyan menunduk.


Reaksi alami dari tubuh membuat mereka hampir menyatukan nafas. Sayangnya pintu kamar lebih dulu terdengar diketuk sebelum bibir mereka melekat.


Nuri menjauhkan tubuhnya dari Arsyan. Dia berdehem untuk mengurangi rasa gugup sebelum membuka pintu.


"Masih sore kok udah ngamar aja." Ternyata Fitri si pengganggu itu.


"Apaan sih?"


"Mertua mau pamit katanya."


Nuri menoleh pada Arsyan yang mendengar percakapan mereka. Lelaki itu turun lebih dulu disusul Nuri dan juga Fitri.


"Mama pamit ya," ujar mama Arsyan sambil memeluk dan memberikan kecupan pada menantunya.


"Kapan-kapan bawa istrimu ke rumah kami. Kita perlu mengenalkannya pada sanak saudara." Papa ikut bicara. "Kalian tidak berencana mengadakan acara walimah?"


"Iya, Ma," balas Nuri.


"Tentu ada dong, Pa. Tapi nunggu Nuri siap dulu."


"O,o baiklah-baiklah. Sampaikan salam rindu dari seorang kakek pada cucunya."


Papa mengerti maksud Arsyan. Pria tua itu mengguk dan tersenyum pada menantunya. Mereka masuk ke dalam mobil dan mulai melaju.


Tuan rumah kembali masuk termasuk Arsyan dan Nuri yang kembali ke kamar mereka.


Arsyan menepuk kasur di sebelahnya meminta Nuri untuk duduk di sana. Nuri duduk dengan perasaan tak menentu. Apalagi setiap mengingat ucapan mama mertuanya.


"Tadi mama bilang apa?" tanya Ars memulai obrolan. Padahal dia sendiri mendengarkan apa yang mamanya katakan.


"Banyak. Emm, jadi Fisya?"


"Ya seperti yang kamu pikirkan. Aku dan dia tidak terikat hubungan darah sama sekali. Aku tidak tahu bagaimana Naima bisa mengatakan hamil olehku sementara aku saja tidak pernah menyentuhnya." Arsyan menoleh untuk melihat ekspresi sang istri.


"Tidak pernah menyentuhnya? Rasanya itu tidak mungkin."


"Tapi itu memang kenyataan yang ada. Menyentuh dalam arti meniduri itu memang tidak pernah, Nuri."


"Kenapa?"


"Karena aku jatuh cinta pada seseorang sejak dulu."


"Siapa?" Nuri penasaran.


"Kamu."


"Aku?" Nuri tak percaya pada ucapan Arsyan. Bisa saja lelaki itu tengah merayu demi mendapatkan haknya.


Nuri tetaplah perempuan seperti pada umumnya yang membutuhkan sebuah pujian. Dia mengerucutkan bibir karena kalimat terkahir Arsyan.


"Aku hanya bercanda," Arsyan mulai mendekatkan wajahnya pada Nuri. Sekali lagi sebuah kegaduhan di luar kamar mengacaukan bibir yang hampir terpaut.


Arsyan gegas melihat keadaan di kuar karena yang terdengar paling keras adalah suara Fisya. "Ada apa? Fisya kenapa?" tanya Arsyan pada pengasuh yang tengah menggendong anaknya. Selain ada pengasuh ada juga Fitri di sana.


Nuri ikut melihat keadaan di luar kamar.


"Huhu, daddy." Arsyan menulurkan tanganya untuk meraih Fisya.


Arsyan memperlakukan Fisya tetap seperti anaknya, meski jelas Fisya bukan anak kandungnya.


"Mereka kenapa, Fit?" tanya Nuri karena bukan hanya Fisya yang nangis. Naura juga.


"Enggak tau aku juga, karena tadi pas aku cek, mereka sudah sama-sama menangis."


Nuri dan Fitri menatap Fisya yang masih sesenggukan di pelukan Arsyan.


"Cup cup cup, udah anak daddy kan kuat. Sekarang bilang kenapa Fisya dan Naura bisa sama-sama menangis." Lelaki itu terus mengusap punggung anaknya.


"Aku ... aku ... lagi tidur tapi tiba-tiba mataku sakit sepertinya Naura mencolok mataku," ujar Fismya dengan sedu sedannya.


"Terus kenapa Naura bisa nangis juga?" tanya Nuri lembut. Ia bahkan ikut mengusap rambut panjang anak itu.


"Aku gak apa-apain kok, mungkin dia kaget saja mendengar aku teriak." Isan tangis masih terdengar oleh semua yang ada di sana.


Latif, mama Nena juga papa ikut menyusul ke sana.


"Loh kok malah pada berdiri di sini. Ini anak-anak kenapa?" tanya papa.


"Biasa anak kecil, Pa," jawab Nuri.


Arsyan meniup-niup mada Fisya lalu berkata, "matanya sudah sembuh, sudah daddy bacain mantra. Tidur lagi ya, kan besok harus sekolah."


"Aku boleh tidur sama mommy, Ga?" Tidur bersama mommy itu artinya niat Arsyan pada Nuri tadi tak bisa dilanjutkan.


Kacau kalau sang anak sudah ingin ikut tidur diantara orang tuanya. Padahal tadi Nuri dan Arsya sudah hamlir melangkah menuju puncak terindah dari salah satu tujuan pernikahan.


"Kan sudah di sediakan kamar sendiri," kata Fitri.


"Sama nenek mau?" tawar mama meskipun papa melotot.


"Sama mommy aja,"


"Kan mommy tidurnya sama daddy, di kamar sendiri aja ya. Besok daddy belikan coklat dan eskrim."


Nuri menyandarkan kepala pada daun pintu, dia tak ikut membujuk.


"Gak mau, aku mau sama mommy."


Latif menahan senyum melihat ekspresi Arsyan. Ada rasa puas dalam hatinya sebab ia paham alasan Arsyan menolak.


"Mommy boleh ya?" tanya Fisya menatap Nuri.