Nuri

Nuri
Bab 39



Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Nuri siuman. Suster perempuan yang masih berada di sana langsung mengabarkan pada dokter.


Arsyan dapat tersenyum lega ketika suster mengatakan istrinya sudah siuman.


Nuri masih memperhatikan keadaan disekitarnya. Tidak bicara tapi sorot matanya jelas memancarkan ketakutan.


Nuri berteriak histeris dan beringsut saat dokter laki-laki yang tadi menanganinya datang. "Jangan sentuh aku, aku mohon, aku bukan perempuan seperti itu. Tidak jangan, tolong," racau Nuri.


Dokter berusaha meyakinkan Nuri kalau dirinya bukanlah orang jahat yang perlu ditakuti. Sayangnya Nuri tak bisa mencerna dengan baik ucapan dokter itu. Ia malah turun dari tempat tidur pasien dan hendak lari. Bibirnya juga tidak berhenti mengeluarkan kalimat-kalimat permohonan.


Terpaksa dokter pun harus menyuntikan obat penanang.


***


Arsyan dan Latif juga mama dam papa yang baru saja datang, menunggu dengan harap-harap cemas di depan pintu kamar rawat Nuri. Sedangkan Fitri tidak bisa ikut ke rumah sakit karen harus menjaga Naura juga Fisya.


Ingin rasanya menerobos masuk dan melihat apa yang membuat Nuri berteriak.


Dokter muncul dihadapan mereka dengan senyum samar.


"Bagaimana keadaan putri kami, Dok?" Mama dan papa langsung menyongsong sang dokter.


"Mari ikut saya."


Dokter memaparkan kalau Nuri mengalami gejala anxiety. Dimana terjadi gangguan pada mental pasien yang ditandai oleh gejala cemas, khawatir juga rasa takut yang teramat kuat.


"Apa bisa sembuh?" tanya papa.


"Bisa asalkan ditangani oleh tenaga medis profesional. Karena beliau merasa takut saat bertemu laki-laki, maka akan lebih baik jika yang merawat dan menganganinya dokter perempuan."


Mama menghela nafas berat. Baru saja Nuri merasakan bahagia kini dia harus kembali terpuruk.


Mereka pamit setelah mendengar penjelasan dokter. Memberi tahu apa yang mereka dengar dari dokter pada Latif juga Arsyan.


Saat Arsyan berbalik dan hendak pergi, dua orang polisi datang. Mengabarkan kalau Hanah akhirnya tertangkap setelah melewati drama kejar-kejaran.


Dokter Irsya yang tadi melihat mama dan papanya Nuri pun mengikuti mereka. Dia terhenyak saat mendengar nama Hanah di sebut oleh polisi.


"Maaf, Pak. Saya mendengar nama Hanah anda sebut. Memangnya apa yang terjadi?"


"Dia terlibat dalam kasus penculikan terhadap saudara Nuri. Dua orang termasuk yang namanya Hanah berhasil kami tangkap. Tapi dua orang lagi masih menjadi DPO."


"Benarkah?"


"Iya, dia kerja sama dengan mantan istri saya," jawab Arsyan dingin.


***


Setelah polisi pamit, Arsyan pun iku pamit. Dia mendatangi tempat tinggal orang tua Naima. Tidak mungkin kalau mereka tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh anaknya. Bisa jadi mereka bekerja sama.


"A-arsyan," Bu Lidya kaget saat membuka pintu dan mendapati Arsyan berdiri di sana.


"Siapa, Ma?" tanya Pak Robi-suaminya.


"Arsyan?" Pak Robi juga sama kagetnya saat melihat mantan menantunya ada di sana. "Ada apa?" kalimatnya berubah dingin. Dia menunjukan rasa tidak suka atas kehadiran Arsyan.


"Dimana Naima?"


Pak Robi terkekeh mendengar pertanyaan Arsyan. "Dia sudah meninggal ditangan laki-laki banci sepertimu."


Arisan tersenyum tipis. "Aku tidak ingin berdebat hal lain. Aku ingin tahu di mana dia sekarang? Aku yakin kalian juga tahu kalau Naima pura-pura tenggelam dan pulang ke sini. Katakan di mana dia sekarang."


"Mana aku tahu."


"Tidak perlu berbohong, atau anda akan kehilangan apa yang selama ini didapatkan dari keluarga saya."


Pak Robi langsung emosi dia menarik kerah baji Arsyan hendak melayangkan pukulan. Arsyan tidak menepis sama sekali. Andai pak Robi benar memukulnya maka dia semakin punya Alasan untuk menekan mereka agar memberi tahu keberadaan Naima.


"Jangan, Pa." Bu Lidya menahan tangan suaminya.


"Sekali lagi aku tanya di mana Naima?"


"Heh laki-laki bodoh. Kalau pun aku tahu di mana keberadaan putriku, aku tidak akan memberitahumu."


"Baiklah, kalau memang ingin bermain-main lagi denganku. Tunggu saja."


Arsyan pergi dari sana menuju rumah orang tuanya.


Arsyan memang belum mengganti pakiannya, sehingga pakaian yang kotor serta wajah yang masih terdapat lebam bekas pukulan sontak membuat mama khawatir.


Mama langsung membawa masuk putranya, lalu mengambil air juga kotak p3k untuk mengobati luka Arsyan.


"Kok kamu pulang-pulang dalam keadaan seperti ini sih? Apa yang terjadi?"


"Aku ingin bertemu papa, Ma."


"Sebentar lagi sepertinya papa pulang. Dia lagi ada pertemuan bersama para pegawai desa. Kamu sudah makan?" tanya mama selesai membersihkan wajah sang anak juga mengoleskan obat.


"Bagaiamana keadaan menantu mama?"


"Dia ... dia dalam kondisi tidak baik untuk saat ini."


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak kasih tau mama."


Papa yang ditunggu pun datang. Pria tua itu menyipitkan mata melihat kondisi sang anak. "Ada apa?"


"Aku ingin papa menarik saham diperusahaan keluarga Naima."


"Loh kenapa? Papa tidak bisa melakukan itu kalau tidak ada alasan."


"Naima membohongi kita semua, sepertinya orang tunggu pun terlibat. Sebelum aku ke sini aku sudah mendatangi keluarganya."


"Maksud kamu?"


"Naima tidak meninggal, bahkan selama ini dia ada disekitar kehidupanku. Bahkan lebih parahnya dia melakukan kejahatan pada keluargaku."


Mama menahan diri untuk bertanya. Membiarkan Arsyan menceritakan segalanya.


"Dia melakukan serangakiam teror pada Nuri, bahkan ... tadi siang Nuri sempat diculik dan hampir dilecehkan. Naima bergasil kabur tapi orang-orang suruhannya termasuk dua orang yang ikut bekerja sama dengannya sudah diamankan pihak kepolosian."


"Sebelum aku ke sini aku sempat mendatangi rumah orang tuanya. Mereka terlihat gugup saat pertama kali melihat kedatanganku. Aku tanya dimana Naima, tapi bukan jawaban pasti yang aku dapat. Kali ini aku minta tolong sama papa. Tolong tarik saham papa di perusahaan mereka. Aku ingin ada efek jera bagi mereka."


"Baiklah tunggu sebentar!" Papa menghubungi asisten pribadinya. Setelah bicara beberapa saat melalui sambungan telpon papa kembali. "Sekarang bagaimana keadaan Nuri?"


Arsyan pun menceritakan keadaan Nuri. Bahkan air matanya ikut jatuh saat dia bercerita. Baru kali ini dia menangis di hadapan orang tuanya.


***


Arsyan dan orang tuanya sudah tiba di rumah sakit. Mama langsung menyongsong besan perempuan. Memberikan pelukan untuk memberikan sedikit rasa nyaman.


Hanya Hamzah yang tidak terlihat. Pemuda itu tadi siang pamitnya ada janji dengan seseorang. Saat ini dia tengah menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang di sebuah kafe.


Padahal dia sudah menunggu hampir empat jam lebih. Bahkan dua gelas minuman sudah dia habiskan. Beberapa kali dia menghubungi tapi tak kunjung satu pun panggilan yang diangkat. Bahkan sekarang nomor kekasihnya dinyatakan tidak aktif.


Kesal itu yang dia rasakan. Beberapa panggilan dari Fitri pun dia abaikan. Entah panggilan keberapa dari Fitri akhirnya dia angkat.


"Kenapa, Teh?" ketusnya. Hamzah berubah tak lagi bersikap manis setelah Nuri menerima kehadiran Arsyan.


"Kamu itu di mana Hamzah, dari tadi teteh menghubungi kenapa gak angkat-angkat?"


"Iya maaf. Kenapa, Teh?"


"Teh Nuri masuk rumah sakit?"


"Kok bisa?"


"Gak tau teteh juga. Mama sama papa, A Latif juga di sana."


"Ya sudah aku akan ke sana sekarang."


Sekali lagi sebelum dia pergi memperhatikan sekitar. Kenapa pacarnya tak kunjung datang. Dia pun pergi menuju rumah sakit.


Selalu saja terjadi keributan saat Hamzah berharap dengan Arsyan. Pria muda itu selalu menyalahkan Arsyan atas apa yang terjadi pada kakak perempuannya.


Beruntung Lagii bisa meredam amarah adik bungsunya. Beberapa kali dia kenpuk pundak sang adik.


Malam semakin larut. Melihat kondisi mertunya yang belum sepenuhnya pulih, Arsyan berinisiatif memesankan kamar hotel agar mertuanya bisa beristirahat.


"Mama di sini saja, Syan," tolak Nena.


"Kasihan papa, Ma. Papa butuh istirahat untuk memulihkan kondisinya."


"Yang dikatakan Arsyan benar, Bu Nena. Pak Amran butuh istirahat. Jangan khawatir kalau tentang Nuri. Biarkan kami melakukan peran kami sebagai orang tuanya juga." Mama Arsyan iku bicara.


"Iya, Ma. Istirahat saja, Om dan Tante juga istirahat saja. Biar aku dan Arsyan yang berjaga di sini," ujar Latif.


Para orang tua Akhirnya setuju. Mereka diantar oleh Hamzah ke hotel yang sudah di pesan Arsyan dan tidak jauh dari sekitar rumah sakit.


***


Mobil Hitam keluar dari pintu gerbang rumah. Pak Robi dan Istrinya ada di dalam. Sebelum benar-benar meninggalkan rumahnya, pak Robi memperhatikan keadaan sekitar lebih dulu. Gerak gerik pak Robi sungguh mencurigakan.


Mobil menjauh dari kawasan tempat tinggalnya. Menyadari ada mobil lain di belakang kendaraanya, Pak robi membelokkan mobil menuju super market. Mereka turun dan bejalan menuju tempat kebutuhan sehari-hari.


Mobil yang tadi dibelakang mobilnya terlihat melesat dengan kecepatan tinggi. Pak Robi juga istrinya menhehla nafas. Tanggung karena sudah mengambil beberapa belanjaan, mereka terpaksa ikut antre bersama pembeli yang hendak membayar.


Sebelum kembali masuk ke dalam mobil, Pak Robi kembali memindai sekitar. Dia juga mengelilingi mobilnya khawatir ada alat penyadap yang terpasang pada mobilnya.


Ternyata Pak robi mengunjungi salah satu gedung apartemen. Bu Lidya terlihat menghubungi seseorang sampai akhirnya pintu masuk apartemen terbuka.


"Mereka mengunjungi apartemen di kawasan A." Pesan yang dikirim oleh orang yang mengikuti mobil Pak robi.