Nuri

Nuri
Bab 21



Hujan yang turun sejak pagi membuat jalanan licin. Papa Amran yang hendak pergi ke toko harus pun tak luput dri musibah. Motor tergelincir dan menimbulkan suara. Pak Amran naruh mengganti aspal.


"Astaga!" teriak warga yang berada di sekitar.


"Tolongin-tolongin," teriak yang lain sambil menghampiri. Tak peduli pakaian mereka basah.


Arsyan baru saja keluar dari pom bensin dan dia melihat kerumunan itu. "Ada apa pak?" dia bertanya pada salah seorang.


"Motor tergelincir, orangnya menghantam aspal. bisa bantu bawa dia ke rumah sakit?"


Arsyan melirik jam tangan, belum jam tujuh. "Boleh pak. Ayo bawa ke sini. Arsya membuka pintu kabin tengah.


Orang itu langsung berlari ke arah kerumunan dan memberikan kalau ada mobil yang bersedia membawa pak Amran ke rumah sakit.


Arsyan terkesiap melihat lelaki yang tengah dibopong oleh beberapa orang itu. Itu Pak Arman papa dari Nuri.


Mengesampingkan semua kepentingan dia membawa pak Amran ke rumah sakit Malik Abdullah. Rumah sakit yang sama dengan tempat kerja pak Irsya.


"Silahkan selesaikan administrasinya dulu pak si sebelah sana!" ujar seorang perawat.


"Oh, ok."


"Ini tas milik korban," ujar seorang laki-laki yang tadi ikut menolong pak Amran menyodorkan tas yang basah.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama, saya pamit."


Menghembuskan nafas berat Arsyan menghubungi Nuri. Tentu saja dia mendapatkan nomor perempuan itu dari ponsel pak Amran. Biarlah dikata tidak sopan.


Nuri yang sibuk mondar-mandor sejak pagi mengurus pengiriman barang tak mendengar ponselnya berdering. Nia yang disuruh Nuri mengambil ctmatatan di meja kerja Nuri melihat ponsel aang atasan terus berdering. Dia pun membawa ponsel itu pada Nuri.


"Berdering dari tadi Teh kayaknya." Nia menyodorkan ponsel yang masih penampilan nomor baru pasa layar.


"Nomor baru lagi, pasti orang iseng lagi," ujar Nuri.


"Kayaknya bukan orang iseng deh. Tadi saja aku melihat beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang sama Teh."


Nuri pun menggser ikon warna hijau saat ponsel kembali berdering. "Ya?"


Terdengar helaan nafas dari seberang sana. "Pak Amran kecelakaan dan sekarang sudah di rumah sakit Malik Abdullah," ujar Arsyan.


Nuri menutup mulutnya, tak percaya.


"Kamu masih di sana, Nuri?" tanya Arsyan saat tak mendengar jawaban sari Nuri.


"Aku akan segera kesana."


Nuri segera menyambar tas dan berlari menuju rumah. Dia bahkan tidak memikirkan pesan pada Nia tentang apa yang harus dikirim.


"Teteh kok lari-lari?" tanya Fitri yang sedang menyuapi Naura.


"Papa kecelakaan. Barusan teteh dapat telepon."


"Papa?" tanya mama panik datang dari dapur.


"Iya, aku mau ke sana, mama mau ikut?"


Mama mengguk kemudian berlari ke kamar. Mengambil tas dan mengganti kerudung.


"Ayo, Teh."


"Fit kasih tau Hamzah sama Latif ya, suruh mereka menyusul!"


"Iya Teh, hati-hati jangan panik,"


Nuri dan mama berlari ke arah ruang UGD setelah bertanya pada petugas.


Seorang laki-laki tengah berdiri dan menatap pintu ruangan UGD. Ya dia Arsyan yang kemudian menoleh dan tersenyum ke arah mereka.


Tak ada yang menyapa Arsyan. Keberadaan lelaki itu seolah tak terlihat. Nuri sibuk menenangkan mama.


Pintu ruang UGD terbuka menampilkan seorang dokter laki-laki yang sangat Nuri kenali.


"Gimana keadaan suami saya, Dok?"


"Papa baik-baik saja kan?" tanya Nuri.


"Pasien mengalami benturan pada kepalanya, beruntung tidak mengalami pendarahan pada kepala bagian belakang. Hanya pendarahan pada bagian kening saja api kita harus melakukan pemeriksaan MRI guna memastikan tidak ada cedera yang serius. " Pak Iraya memaparkan. Dia menolah pada lelaki yang sejak tadi ada di sana.


"Tapi kemungkinan untuk selamat, besar kan Dok?"


"Insyaallah Allah, doa tulus dari orang-orang terkasih korban akan membantunya berjuang untuk sembuh."


"Kita boleh melihat keadaan papa?"


"Silahkan!" Pak Irsya mempersilahkan Nuri dan mama masuk. Sementara Arsyan masih berdiri di sana. Hendak pamit tapi Nuri keburu masuk. Alhamdulillah dia harus menunggu lagi.


Setelah mengantar mama melihat keadaan papa, Nuri kembali ke luar san menemui Arsyan. "Terima kasih sudah menolong papa," ujar Nuri.


" Bukan aku yang menolong, aku hanya mengantar saja. Ini tas papa-mu. Motornya aki titip di pom bensin."


Bersamaan dengan itu Hamzah dan Latif datang. Latif menatap tajam sedangkan Hamzah menyunggingkan senyum sini. Sayangnya Arsyan tak peduli dengan tatapan mereka. Dia menoleh kembali pada Nuri sebelum pergi.


"Trikmu terlalu murah bos untuk mengambil simpati dan maaf dari kami," kata Latif saat mereka berpapasan.


Nuri melihat itu tapi ternyata Arsyan tak membalas. Lelaki itu seolah tak terganggu dengan perkataan adiknya itu.


"Gimana keadaan papa, Teh?"


"Nunggu papa sadar dulu baru dipindahkan ke ruang rawat."


Berhubung masuk ke dalam ruangan UGD dibatasi, mereka pun memilih duduk di kursi tunggu. Mantap pintu kaca yang tertutup.


Lalu lalang petugas menunjukan bagaimana mereka berkerja mendedikasikan diri untuk orang banyak.


Saat adzan dzuhur tiba mereka bergantian dengan mama untuk menunaikan kewajiban.


Allah, engkau maha pemilik kehidupan. Aku pasrahkan hidupku padamu gapi aku meminta berilah kesembuhan untuk papa. Izinkan aku membahagiakan beliau di usia yang semakin senja. Merawatnya seperti beliau merawatku waktu kecil. Izinkan aku memiliki waktu lebih lama untuk bersamanya.


Nuri dan mama yang kembali dari mushola harus berpapasan dengan Hardy juga Alisa.


Nuri membunga nafas kasar. Dia yakin Alisa akan mengeluarkan kalimat yang mencubit hatinya. Apalagi dia pasti tahu tentang Nuri saat video itu tersebar. Nuri memilih untuk tak menyapa, dia melewati pasangan itu.


"Kukira mahal ternyata murah ya." Nah kan baru saja Nuri menebak tapi perempuan itu sudah melontarkan kalimat.


Nuri menoleh pada Alisa yang juga tengah menataonya dengan tatapan mengejek.


"Ketika sesuatu yang mahal sulit diraih dengan materi bukan hal aneh jika barang itu diambil secara paksa."


Alisa tertawa sarkas, "begitu? Bersembunyi dibalik kata korban padahal murah ya murah aja."


Tanpa komando mama langsung menampar pipi Alisa. "Jika bibir sekali lagi mengucapkan kalimat hinaan pada putriku, jangan salahku aku kalau mulutmu tak bisa lagi dibuka." Mama mengancam Alisa. "Kamu lelaki, sebagai suami juga imam tapi tak bisa membimbing istrimu. Lemah." Tunjuk mama pada Hardy.


Entahlah lelaki itu seperti kalah oleh Alisa. Bahkan bukan terlihat sebagai seorang suami melainkan terlihat seperti pesuruh dan majikan.


"Beruntung putriku tak melanjutkan hubungannya dengan lelaki sepertimu."