Nuri

Nuri
Bab 26



Pintu kamar Nuri tersemogakan diketuk. Nuri yang hampir lelap pun akhirnya bangun kembali. "Fit? ada apa?"


"Aku boleh masuk?"


"Masuk, ada apa kok kamu ngendap-ngedap ke kamar Teteh. Latif tau gak kamu ke sini?"


"Shuuuutt ini bukan tentang aku atau 'A Latif tapi ini tentang Teteh."


"Maksudnya?"


"Gini ...." Fitri membisikan sesuatu pada Nuri.


Nuri membulatkan mata, tak percaya dengan ide adik iparnya. "Eh kok ... bisa kepikiran ke situ sih, Fit."


"Begini, Teh. Kalau kita balas dendam menggunakan hukum sepertinya itu akan sulit. Apalagi itu sudah bertahun-tahun berlalu. Kedua orang yang punya uang akan memainkan pernannya. Bener gak? Menurut aku, pernikahan ini adalah cara Tuhan memberi kesempatan pada Teteh untuk menuntut keadilan. Ngerti kan?"


"Iya yah, kok Teteh gak kepikiran sejauh itu ya," kekeh Nuri. Perempuan itu sekarang terlihat santai tak terlihat tegang seperti tadi. Rupanya saran dari Fitri ada benarnya. Ya pernikahan dadakan itu adalah jalan.


Kadang saat kita tertekan semua jalan akan terlihat buntu. Akan tetapi bagi mereka yang sedang tenang dan pikiranmu jernih, merka akan mampu membaca peluang pada setiap masalah.


"Nah kan? Fight Teh! Semangat." Fitri mengangkat kedua tangannya memperlihatkan otot yang sebenarnya tak terlihat.


Nuri bisa tidur nyenyak setelah mendapatkan jalan dari Fitri. Dia harus tidur nyenyak malam ini agar esok siap bertarung.


Saat matahari pagi mulai memberikan kehangatan, Nuri sudah turun dari kamar dengan keadaan segar. Rasa khawatir di benak mama pun memudar bersama senyum cantik yang Nuri tampilkan.


"Baik-baik aja 'kan?"


"Baik dong."


Sebuah mobil berhenti di depan rumah Nuri. Arsyan turun bersama Fisya juga mbak pengasuh. Nuri sendiri gegas menyambut di depan pintu membuat Arsyan jadi bingung.


Kemarin dia tampak tertekan, tapi kok sekarang beda sekali. Emmmm aku harus berhati-hati sepertinya. Semoga saja dia tidak mendadak jadi psyco.


Arsyan jadi merinding.


"Mommy!"


"Hay sayang, sudah sarapan?" tanya Nuri sambil berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Fisya.


"Belum, tadi daddy buru-buru mengajakku ke sini."


"Oh ya?" Nuri menoleh pada Arsyan penampilan senyum yang tak pernah lagi dilihat Arsyan sejak kejadian itu.


Aneh ini benar-benar aneh. Enggak mungkin dia tiba-tiba menerima pernikahan ini kalau gak ada apa-apa.


Arsyan terus beemonolog sampai dia menurunkan tangannya pada benda keramat pencetak generasi bangsa.


"Em, itu ... aku, aku, ah papa sudah bangun."


Pemandangan pagi hari yang menyenangkan. Nuri tertawa puas dalam hatinya. "Ayo masuk, pelayan sudah menyiapkan pisaunya, upsss ...." Nuri menutup mulut pura-pura seperti keceplosan. "Maksudku sarapan," ralat Nuri secepatnya. Misi pertamanya harus selesai, yaitu mengacau pikiran Arsyan lebih dulu.


Meski sebenarnya kaget tapi Arsyan berusaha untuk tidak menampilkan rasa terkejutnya. Dia tau kalau orang psyco sangat menyukai lawannya ketakutan.


Ide Fitri seru juga, sangat menantang. Baiklah Arsyan ayo kita lihat siapa yang akan gila duluan. Jangan harap aku akan jatuh cinta padamu.


Nuri menggandeng tangan Fisya untuk berjalan lebih dulu. Mama dan para pelayan sangat heran melihat sikap Nuri. Begitu juga papa, Latif dan Hamzah. Hanya Fitri yang paham.


"Silahkan," Nuri menarik kursi untuk Arsyan duduk. Dia seolah tengah menjalankan kewajiban sebagai seorang istri yang saleha. Tak lupa sia pun mengambilkan nasi beserta lauknya untuk sang suami juga anak sambungnya. Fisya sangat senang, sedangkan Arsyan kebingungan.


Sikap Nuri pagi ini sungguh berbeda jauh dengan sikapnya selama lima tahun ini. Hari ini dia seperti kembali pada Nuri yang dulu. Nuri yang memiliki sikap hangat pada siapa pun.


Pak Amran dan istrinya tentu saja senang kalau Nuri memang beneran sembuh dari tarumanya. Ya walaupun dia tidak rela kalau Arsyan tidak merasakan akibat dari perbuatannya.


Mereka memulai sarapan. Sesekali Arsyan memperhatikan ekspresi Nuri yang datar.


Selesai makan satu persatu anggota kekuarga meninggalkan ruang makan dan bersiap untuk aktufitas mereka hari ini.


Fitri mengantar Latif yang hendak berangkat ke toko sampai ke pintu. Mama membeeikan obat yng masih harus diminum rutin oleh papa untuk pemilihan. Hamzah tengah memanaskan mesin motornya. Nuri merugikan pakaian sekolah Fisya dan mengatakan akan mengantarkannya ke sekolah. Anak itu teriak kegirangan.


"Giliranmu nanti," bisik Nuri pada Arsyan lalu mengedipkan mata begitu sensual. Harusnya Arsyan senang karena menikah dengan Nuri dan dilayani oleh perempuan itu merupakan angan yang berubah jadi harapan sejak dulu. Tapi kenapa dia malah merinding dengan tingkah Nuri.


***


Nuri menghempaskan tubuh pada sofa ruang kerjanya setelah kembali dari mengantar Fisya ke sekolahnya. Menarik nafas panjang berkali-kali. Pura-pura tegar ternyata memang membutuh tenaga ekstra.


Ini baru peemulaan tapi Nuri meeasa tenaganya terkuras habis.


"Ya," sahut Nuri saat mendengar ketukan pada pintu.


Nia nongol dari sana dengan membawa buket bunga. Senyum perempuan itu begitu merekah seperti orang yang baru saja mendapatkan bonus. "Happy weddyng bu bosssh," ucap Nia sambil menyodorkan buket bunga yang dipegangnya.


"Lebay." Nuri memutar bola mata.


Nuri melotot saat membaca kartu ucapan yang terselip pada bunga itu. Ternyata bunga itu bukan dari Nia melainkan dari Arsyan. Ya lelaki itu menyempatkan diri mampir ke toko bunga sebelum berangkat ke store-nya. Dan meminta pemilik toko bunga tersebut untuk mengirimkannya ke rumah Nuri. Dengan harapan perhatian kecilnya akan menyentuh hati perempuan itu.


"Loh kok?" tanya Nia saat Nuri melemar bunga itu ke arah tempat sampah.


"Kenapa? mau? ambil aja!"


"Enggak kok, ya udah aku kembali kerja ya," pamit Nia.