
Bab 8 Nuri
Beberapa panggilan Nuri abaikan dia terus berlari di atas treadmill. Keringat terus bercucuran menjadikan pakaian yang dia pakai terlihat seperti baju yang jatuh ke genangan air.
Lagi-lagi ponsel berbunyi. Nuri akhirnya berhenti dan menghampiri ponselnya yang ia letakan di atas meja. Nomor tak dikenal. Nuri pun segera menggeser ikon warna hijau dan menempelkan ponsel pada telinga. "Halo... haloo"
Tak ada jawaban dari seberang sana hanya terdengar bunyi keresek-keresek. Panggilan pun ditutup dari sana dan kembali berdering. Nomor baru lagi. "Halo, apa kamu tidak punya pekerjaan selain mengganggu sejak tadi," sungut Nuri yang terlihat kesal.
"Halo, Bu Nuri." Suara laki-laki terdengar dari seberang sana.
"Ya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?" Nuri berusaha menormalkan nada suaranya.
"Ini saya Pak Irsya, apa hari ini saya bisa mengambil pesanan saya beberapa waktu lalu?"
"Tunggu saya menghubungi kembali dalam lima menit!" Panggilan puk berakhir.
Nuri membuka kotak pesan dan memang no barusan adalah milik pak Irsya. Lantas no satu lagi milik siapa? Ah Nuri tidak ingin memusingkan hal itu.
Dia segera menghubungi Nia. Menunggu beberapa detik sampai akhirnya terdengar suara dari seberang sana. "Nia maaf mengggu waktu libur-mu. Teteh cuma mau nanya pesanan pak Irsya."
"Oh punya pak Irsya, semua sudah beres teh. Satu karung besar yang disimpan paling pojok dan belum diikat. Aku perlu ke sana, Teh?"
"Gak perlu Nia, nikmati saja hari liburnya. Teteh tutup ya." Panggilan pun berakhir dan Nia segera memberi tahu pak Irsya kalau pesanannya sudah bisa diambil.
Setelah keringat turun, Nuri pun turun karena sudah waktunya makan siang. Seseorang membuat Nuri berhenti melangkah. Bagaimana orang tersebut bisa duduk satu meja yang sama dengan papa dan mamanya.
"Loh kok malah betah berdiri si situ, Nak. Sini! kita makan siang bareng," kata papa saat melihat anak sulungnya malah berhenti di tangga terakhir.
Nuri sempat menatap lelaki yang tengah duduk di samping papa. Pandangan keduanya bertemu tapi Nuri lebih dulu memalingkan wajah. Nuri segera menarik kursi di samping mama.
"Tadi papa ke warung di pas belokan sana eh ketemu Nak Irsya. Kebetulan kita mau makan siang jadi sekalian papa ajak aja." Papa memaparkan saat tak sengaja dia melihat Nuri menatap tamunya.
Papa terlihat akrab sekali dengan lelaki yang duduk di sampingnya. Sesekali mereka tergelak menertawakan hal-hal kecil yang menurut mereka lucu. Nuri mengangkat wajah menatap dua laki-laki beda generasi itu saat mendengar pertanyaan yang menurutnya mengganggu.
"Nak Irsya sudah punya calon?" tanya papa setelah meletakan sendok dan garpu.
"Sedang berusaha meluluhkan hati seseorang, Pak. Maklum saja saya kan seorang duda, jadi sedikit sulit untuk menyentuh hatinya. Mohon doanya saja."
"Duda toh?" papa memastikan, "biasanya duda tuh tipenya Nuri, iyakan Nuri? Sayangnya nak Irsya sudah punya calon, tapi tak apa papa tetap mendoakan yang terbaik."
Papa tidak tahu saja kalau yang dimaksud pak Irsya adalah putrinya sendiri. Pak Irsya menatap Nuri yang juga tengah menatap padanya. Senyum manis yang alami tercetak di bibir lelaki itu.
"Pembahasan papa gak seru, aku sudah selesai. Pak Irsya... Mau ambil pesananya sekarang?
"Boleh-boleh. Pak saya permisi dulu." Pak Irsya ikut berdiri dan mengikuti langkah Nuri.
"Mampus, sepertinya macan akan mengaum," kata batin Pak Irsya saat mengingat tatapan Nuri tadi saat di meja makan.
"Oh ya, Pak Irsya terima kasih untuk bukunya." Tak disangka perempuan itu akan mengucapkan terima kasih dan yang paling menarik adalah lengkungan pada bibir yang terlihat tulus. Duh kalau begini terus jantung Pak Irsya makin berdetak tak karuan.
Pak Irsya berdehem, berusaha menguasai diri agar tak berjingkrak. "Bukan masalah Bu Nuri. Tadinya saya ingin memberikan buku itu pada ponakan yang tengah berulang tahun. Eh ternyata papa-nya sudah membelikan buku itu lebih dulu." Tentu saja pak Irsya sedikit berbohong di akhir kalimat.
Nuri kembali ke mode biasanya padahal pak Irsya masih berharap bisa melihat senyum hangat itu.
Sesuai petunjuk Nia, Nuri menunjukan barang yang hendak di ambil oleh lelaki jangkung yang sejak tadi terua memperhatikan.
"Jadi totalnya..." Nuri menyebutkan angka sesuai jumlah barang yang diminta.
Pak Irsya langsung melakukan pembayaran saat itu juga. Jaman sudah begitu canggih. "Senang bisa bekerja sama dengan anda Bu Nuri." Pak Irsya mengulurkan tangan tapi Nuri hanya mengangguk.
"Saya juga."
Setiap hari minggu mereka yang bekerja pada Nuri memang diliburkan. Jadi mau tidak mau pak Irsya harus mengangkat karung berisi pakaian yang sudah dipacking itu sendirian. Nuri sempat menawarkan bantuan tapi lelaki itu menolaknya.
"Bu Nuri!"
"Ya?"
"Maukah datang ke undangan makan malam bersama?" Pak Isrya menanti dengan harap-harap cemas. "Satu kali anda pernah menolak, saya sangat berharap kali ini tidak ada penolakan."
Nuri terlihat diam dalam beberapa menit. Dia tengah menimang, bayangan kelam tiba-tiba kembali terbayang. Pun teringat dengan motor yang sejak beberapa hari terus membuntuti mobilnya. "Astagfirullah," desis Nuri.
"Anda baik-baik saja?" Pak Irsya terlihat khawatir dan segera menghampiri.
"Saya baik-baik saja." Nuri menolak saat pak Irsya hampir saja menyentuh tangannya.
"Gak, kamu gak baik-baik saja. Kamu terlihat ketakutan sekali. Gak papa kalau kamu gak bisa memenuhi undangan makan malamnya." Seketika pak Irsya tak lagi berkata dengan kalimat formal.
Melihat kecewa di mata lelaki yang berdiri tak jauh darinya, Nuri yakin kalau pak Irsya tengah salah paham. Berulang kali dia berusaha menenangkan degup jantungnya. "Maaf sekali pak Irsya anda jangan salah paham. Saya hanya tak terbiasa keluar malam-malam selain dengan keluarga sendiri. Kalau undangannya bukan makan malam saya pikir bisa."
"Baiklah nanti akan saya kabari lagi. Terima kasih untuk waktunya Bu Nuri. Semoga sisa akhir pekannya menyenangkan." Pak Irsya segera masuk kedalam mobil. Sejenak laki-laki itu menatap Nuri yang masih berdiri di tempatnya tadi. Laki-laki itu yakin Nuri tengah mengalami trauma berat. Dia harus bisa jadi obatnya.
Setelah mobil pak Irsya tak terlihat lagi, Nuri segera mencari pegangan. Kakinya terasa lemas dan tubuhnya bergetar, serta keringat dingin tak mau ketinggalan. Air mata luruh membasahi pipi. "Allah begitu sulit aku menghilangkan kenangan buruk itu," ucap Nuri dalam hati sambil memejamkan mata.
Kenangan itu begitu kuat membelenggu Nuri. Bahkan untuk meraih bahagia saja kenangan itu seolah tak rela. Ia terus bersemayam dalam pikiran meski sekuat apapun Nuri berusaha melupakan.
"Teh Nuri," pekik Hamzah yang baru saja tiba. Hamzah segera turun dari mobil dan menghampiri kakaknya. "Ada apa?"
Nuri tak menjawab, hanya air mata yang terus bergerak dari mata yang terpejam itu.