
Nuri berusaha menghilangkan pikiran tentang pria itu. Pria yang membuat dirumah merasa jadi manusia paling hina.
Kamu bisa Nuri, kamu bisa.
Mobil sudah memasuki pekarangan rumah. Nuri turun sambil menggendong Naura yang kelekahan bermain.
"Ada apa, Teh?" tanya mama. Perempuan utu selalu khawatir saat Nuri akan keluar rumah.
"Gak papa, Ma. Aku ke kamar dulu ya."
Mama menahan tangan Nuri. "Jangan sembunyikan apapun lagi dari mama. Bukan maksud mama ikut campur tapi bagaimana pun keadaan kamu, kamu tetap anak kami. Mama tidak ingin kamu menyimpan luka sendirian lagi."
"Tadi aku melihat pria yang memiliki perawakan persis seperti dia."
"Yakin dia adalah orang yang sama?"
"Belum pasti, Ma. Tadi aku hanya melihat dia dari belakang. Menurut mama, kalau dia kembali aku harus gimana? Melupakan saja masih sulit aku tuh," keluh Nuri.
"Kita lihat, kalau dia memang benar kembali apa dia akan datang dengan gentel untuk memepertanggung jawabkan perbuatannya atau memang dia tidak bisa melepas gelar pengecut itu. Kalau kita tidak bisa menghancurkan kesombongan dia dengan kalimat maka gunakan kelembutan."
"Maksud mama?"
"Buat dia tertarik padamu dengan sikap judes kamu selama ini. Kalau pas berpapasan sama dia bersikaplah seolah kamu tidak mengenal dia dan tunjukan kalau kamu baik-baik saja. Jangan menunjukan rasa takut pada musuh. Ayo semangat."
Setelah dipikir matang-matang Nuri menyetuji usulan mama. Ya dia akan menyentuh hati pria itu dengan cara yang terhormat. Apalagi jika benar lelaki yang ia lihat di taman adalah orang yang sama dengan pelaku.
Dengan penampilan berbeda tapi masih terlihat sopan Nuri kembali mendatangi taman di hari berikutnya. Dia memperhatikan satu persatu yang datang berkunjung ke sana. Sayangnya sampai tiga jam lebih Nuri memperhatikan di sana dia tak menemukan orang yang dimaksud. Ya dia menggunakan ciri anak kecil yang kemarin menghampiri sebagai tanda.
Saat matahari hampir tepat berada di atas ubun-ubun, Nuri memilih menunda oencariannya. Dia pergi ke salah satu super market untuk membeli pesanan mama.
Hal yang tak terduga justru terjadi di sana. Saat Nuri hendak mengambil salah satu produk, tangan lain menyentuh barang yang sama. Nuri menoleh, jantungnya mulai berdetak tak karuan. Rasa takut bersitegang dengan pemikiran yang mengatakan "HADAPI!"
"Nuri?" ucap pria itu.
Tuhan lelaki ini masih mengenali aku.
Nuri tak menjawab dia berbalik dan segera menjauh dari pria itu. Entahlah perasaannya sungguh kacau.
"Nuri!" teriak pria tadi dan berusaha mengejar Nuri. Sedangkan Nur langsung menuju kasir meski pesanan mama belum semua ia dapat.
Pria iti mengikuti Nuri, untungnya dua orang lebih dulu berdiri di belakang Nuri.
"Terima kasih," ucap Nuri setelah membayar. Dia segera pergi dari sana. Sekalipun dia berusaha untuk berani nyatanya dia belum sekuat yang diharapkan. Nuri tidak berani menoleh ke belakang.
Menunggu dua orang dalam antrian itu terasa menunggu satu tahun bagi Arsyan. Dia menepuk pundak orang yang berdiri di depannya. "Pak maaaf boleh saya duluan. Saya harus mengejar istri saya. Dia lagi marah gara-gara ngidamnya belum kesampaian. Boleh ya pak?" Arsyan mengatupkan telapak tangan untuk memohon.
"Mbak, ini kartu nama saya, tolong dipegang dulu saya harus mengejar istri saya dulu. Nanti saya balik lagi."
Arsyan berlari ke arah Nuri tadi pergi. Sial perempuan itu cepat sekali menghilang. Dia turun ke besment dan melihat Nuri tengah memasukan belanjaan.
"Nuri aku hanya ingin minta maaf."
Nuri berbalik dan sebuah tamparan ia layangkan. "Kamu pikir dengan kata maaf akan emngbalikan semuanya. Tidak, minggir."
Nuri tak mengiraukan ucapan Arsyan lagi. Entah apa yang lelaki itu katakan.
Arsyan tidak lagi mengejar, dia kembali ke kasir. Dia harus pulang untuk menenangkan pikirannya. Bertahun-tahun pergi ke negeri antah barantah ternyata tak membuat rasa bersalah itu hilang.
Bayangan saat Nuri menangis selalu membayangi. Bersyukur dia bisa mengucapkan kata maaf pada Nuri. Sayang kata maaf saja tidak cukup.
Dia menepuk kening. "Ck harusnya aku tadi mengikuti dia."
***
Nuri menepikan mobil di tempat yang tak terlalu sepi. Menarik dan membuang nafas berkali-kali. Tangannya masih gemetar. Beruntung tidak memicu kecelakaan.
Saat sampai Nuri sudah terlihat biasa-biasa. Naura menyambutnya di pintu.
"Ateu main ajak da aku ikut," celoteh anak itu.
"Bicara apa sih gemes,"
"Ketemu?" tanya mama yang mebegtahui misi Nuri.
"Belum, Ma."
"Sabar, oh iya tadi pak Irsya ke sini?"
"Ngapain?"
"Mau minta makan," timpal Hamzah yang tengah bermain ponsel.
Saat sudah di kamar, Nuri membuka laman pencarian. Akhirnya dia menemukan solusi untuk mengatasi rasa takutnya. Ya beberapa solusi sudah dia lakukan sayangnya itu belum berhasil. Seperti menulis, berhenti menyalahkan diri sendiri dan berdamai.
Sekarang dia butuh bantuan tenaga profesional untuk mengobati trauma itu. Dia harus berani berhadapan dengan masalalu yang tiba-tiba muncul.
Nuri sudah mendapatkan nomor seorang psikolog. Mereka mengadakan janji temu sekitar pukul tiga. Mumpung masih ada waktu Nuri memilih tidur untuk memanfaatkan waktu.
***
Pukul tiga Nuri sudah duduk dihadapan seorang psikolog. Dia mulai menjalani pengobatan. Pengobatan berlangsung selama dua jam. Nuri masih disarankan untuk kembali datang agar pengobatan tak setengah setengah.
"Siap, terima kasih, Dok."
Nuri merasakan sedikit ketenangan. Dia pulang saat adzan maghrib dan memilih untuk shalat di masjid yang dia lalui.
Selesai solat, Nuri mengecek ponsel dan ternyata afa banyak sekali panggilan tak terjawab dari orang-orang rumah.
Nuri membuka pesan dan mendapati pesan suara di sana.
"Masih dimana, Teh?"
"Kenapa belum sampai rumah, Teteh baik-baik aja?
"Ateu pulang, bawa martabak," itu adakah suara Naura.
"Kitty juga,"
"Teh kamu dimana, biar aku jemput sekarang. Shareloc!" itu adalah suara Hamzah dan masih banyak lagi.
Nuri masuk ke dalam mobil dia membeli martabak lebih dulu agar tak mendengar tangisan Naura nanti. Maklum anak itu begitu nempel sama dia.
Mendengar deru mobil masuk pekarangan, papa, mama dan yang lain langsung berhambur keluar. Nuri terkekeh melihat itu.
"Tenang, tenang sekarang aku sudah baik-baik saja. Ini martabaknya" meneyerhkan martabak pada Naura yang kebingungan melihat orang-orang.
"Biasakan kalo pergi itu ngasih kabar, biar orang-orang rumah gak khawatir," omel Hamzah.
"Kan tadi sebelum pergi juga udah bilang, Zah."
"Ya tapi gak usah bikin ...."
"Sudah-sudah!" mama menengahi, "sudah solat?"
"Sudah ...."
Ini yang sering Nuri lupa, dia masih memiliki orang-orang yang menyanaginya. Seharusnya trauma ini tak perlu berlarut-larut.