
"Biar kubantu," ujar Arsyan. Gegas ia meraih wadah berisi air hangat yang dibawa Nuri. Perempuan itu hendak mengganti peran jugs mencuci lukanya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri."
"Tidak usah pura-pura serba bisa Nuri. Kalau kamu serba bisa apa fungsinya aku sebagai suami kamu?"
"Terserah kamu lah." Nuri tak menolak lagi saat suaminya mulai membuka perban. Arsyann begitu telaten membersihkan luka Nuri. Padahal dia juga tengah terluka. Bahkan Nuri sendiri lupa.
"Nuri ...." Yang dipanggil menoleh, "kita harus lebih banyak diskusi soal pernikahan ini."
"Memangnya kenapa?"
"Karena aku tau kamu gak nyaman dengan pernikahan ini. Demi Allah aku katakan, aku gak menjebak kamu."
"Kalau bukan kamu terus siapa? Apa pentingnya bagi mereka."
"Coba kamu runtut lagi setiap kejadian setelah papa mu masuk rumah sakit. Aku di serang, kita digerebeg, kamu dan Fisya juga mengalami peneyerangan. Apa kamu berpikir itu aku."
"Kan bisa saja kamu membuat sekenario seperti itu."
"Demi Allah bukan aku."
"Anggap saja aku percaya."
"Aku mencintaimu Nuri." Tatapan mereka bertemu, dan saling mengunci. Sampai akhirnya Nuri lebih dulu memutis kontak mata mereka.
"Duduk!" titah Nuri.
Sekarang gantian, Nuri yang membersihkan luka pada Arsyan.
Tentang siapa pelaku masih saja mereka pikirkan. Tak ada. pembicaraan lagi saat Nuri membersihkan luka-luka di tubuh suaminya.
Ponsel milik Arsyan membunyikan notifikasi. Gegas dia membuka pesan yang ternyata dikirim oleh Jo-orang suruhan Arsyan.
"Kamu kenal orang ini?" tanya Arsyan dann menunjukan poto seorang perempuan tengah membelakangi kamera.
"Enggak. Memangnya siapa dia"
"Entahlah tapi menurut Jo dia ada kaitannya dengan segala peneyerangan yang terjadi."
"Aku tidur di sini boleh?" Arsyan bertanya setelah Nuri memberikan kotak obat. Ah harusnya malam ini menjadi malam tang syahdu karena mereka pengantin baru. Eh malah saling mengobati.
Terserah.
Rumus kata yang sering digunakan perempuan.
***
Selesai mandi Arsyan tak lagi meminta baju pada Nuri. Tadi malam Ares sempat mengirimkan baju ganti untuknya.
Nuri sudah tidak ada di kamar. Perempuan itu tengah membantu Fisya bersiap untuk sekolah.
Mereka turun bersama di mana Arsyan sudah lebih duku turun. Senyummu mengembang melihat pemandangan pagi yang sungguh indah.
Istrinya semakin terlihat cantik saat memakai gamis berwarna tosca senada dengan kerudung. Mereka turun sambil bercanda. Ada saja kalimat ajaib yang ditanyakan Fisya.
"Itu ... itu dari perut perempuan."
Fisya melirik perutnya yang terbungkus seragam sekolah. "Dari sini?" tunjuknya pada perut. " Berarti aku akan punya adik bayi. Tapi kapan punya nya?" Gadis kecil itu tampak berpikir membuat Nuri gemas.
"Nanti kalau kamu sudah besar dan sudah menikah."
"Seperti mommy dan daddy? Kalian kan sudah menikah tapi kok belum ada adik bayi?"
Nuri menoleh pada Arsyan. Dari tatapannya dia terlihat minta tolong untuk menjelaskannya pada Fisys. Dia takut salah betucap pada anak kecil yang akan beroengruh pada tumbuh kembang ahlaknya nanti.
"Daddy dan mommy akan memberikan adik kalau kamu sudah tak manja lagi. Kasihan mommy kalau harus ngurus kamu juga adik bayi," papar Arsyan.
"Kalau gitu aku gak akan manja lagi biar cepat dapat adik bayi."
"Eh eh kan ada Naura, nanti bisa main sama Naura," timpal Nuri.
"Naura sudah besar jadi kalau di gendong berat, Mommy."
Fitri yang tengah membantu menyiapkan sarapan pun ikut tersenyum dengan tingkah anak sambung iparnya. Kalimat-kalimat yang membuat Nuri dan Arsyan gelagapan.
Dengan adanya celotehan Fisya justru membuat Nuri dan Arsya terlihat kompak. Iya sama-sama kompak dalam kebingungan.
"Sudah-sudsh ayo sarapan dulu, tante buatkan makanan spesial untuk Fisya." Fitri menghentukan Fisya yang hedak bertanya lagi. Wajah bingung Arsyan dan Nuri sungguh hiburan pagi untuk semua orang yang ada di sana. Latif, Hamzah serta papa dan Mama memang tak terlihat.
"Papa sama mama belum keluar, Fit?" tanya Nuri.
"Papa sama mama sudah berangkat, kan hari ini jadwal papa cek up."
Nuri menepuk jidatnya. Dia sungguh lupa.
***
"Mommy gak nganterin aku?" tanya Fisya saat tengah dibantu memasangkan seatbel oleh Arsyan.
Perlakuan Arsyan pada Fisya membuat Nuri kagum. Dia penampilan senyum tulus pada ayah dan anak itu. Tapi saat Arsyan menoleh, cepat-cepat Nuri kembali ke ekspresi semula.
"Mommy masih sakit, jadi biar dady saja yang nganter."
"Oh Iya aku lupa, maaf ya mommy." Gadis kecil itu mentaupkan tangan. "Aku punya sesuatu untuk mommy biar cepat sembuh."
"Apa itu?"
Fisya memasukan jarinya ke dalam saku kemudian mengeluarkannya lagi dan menunjukan jari jempot nya tengah bertaut dengan jari telunjuk. Membentuk pinger love.
"Untuk mommy," ucapannya sambil tersenyum.
"Ah manisnya, belajar yang rajin ya. Maaf mommy gak bisa nganter."
"ok mommy."
Arsyan menutup pintu kabin tengah kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi. Meski lukanya belum sembuh lelaki itu tak ingin menggunakan jasa sopir. Dia mengangkat kepalanya pada Nuri untuk pamit. "Aku berangkat ya."
"Hmmm, hati-hati." Sungguh tak ada romantis-romantis sama sekali. Masih sama-sama kaku.