Nuri

Nuri
Bab 31



Kabar entang penikhan Nuri pun sampai pada telinga Akmal dan keluarga. Mendengar kabar itu Akmal tak lagi mampu menahan emosi. Dinding kamar menjadi pelampiasan dari letupan emosinya.


Mama terus menggoyangkan lengan papa agar menghentikan aksi Akmal. Bisa roboh itu dinding kamar kalau terus-menerus menadapatkan tonjokan.


"Biarkan saja dulu, Ma. Orang yang hatinya sedang dikuasai amarah akan sulit menerima nasihat baik. Sudahlah."


"Tapi mama takut dinding kamarnya roboh."


"Nanti di bangun lagi," canda papa.


Pria tua itu memijit pelipisnya pelan. Punya anak laki-laki sungguh membuatnya pusing. Arsyan, memang bisa menentukan pilihan. Bertanggung jawab dengan menikahinya, giat bekerja tapi tetap saja ada yang kurang darinya.


"Papa mau kemana?" tanya mama melihat papa sudah berpakaian rapi, tak lagi memakai sarung seperti biasa.


"Mau ke rumahnya Nuri, tadi kata Via mereka masih tinggal di sana."


"Mama ikut deh," mama melangkah ke kamar, "eh tapi Akmal gimana?"


"Biarkan saja dulu, toh dia udah gak kedengaran lagi nonjok dindingnya."


"Mama lihat dulu dia deh, papa tunggu ya!"


Kamal Akmal masih tetap rapih, hanya saja ada bagian dinding yang tak lagi dama dengan dinding lain. Akmal duduk di pojok kamar sambil menghisap rokok. Entah sejak kapan lelaki itu hidup berdampingan dengan benda satu itu.


"Bani?"


"Aku ingin sendiri, Ma." Mama menghela nafas lalu meninggalkan putra bungsunya. Gegas dia berganti pakaian dan segera menghampiri papa.


Jalanan malam yang ramai membuat mereka terlambat tiba. "Mau bertemu pak Amran apa ada di rumah?"


Pria yang baru saja bekerja karena perintah Arsyan pun mengabarkan kedatangan mereka pada tuan rumah.


Arsyan dan Nuri gak kaget ayas kedatangan mereka. Sebab sudah barang tentu Via akan menyampaikannya pada mereka.


Sebagaimana seorang menantu Nuri menyalami kedua mertuanya. Dia tetap memperlihatkan senyum ramah. Tak lupa dia pun meminta pekerja rumah untuk menyiapkan minum.


"Silahkan diminum!" ujar pak Amran.


Arsyan dan papanya saling menatap. Sekian detik kemudian barulah ayahnya itu bicara. "Sebenarnya kedatangan kami kemari ingin memarahi putra kami, Pak Amran. Dia benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa dia menikahi seorang gadis tanpa memberi tahu kami."


"Saya sudah menghajatnya lebih dulu, Pak. Tapi dia gak kapok," balas papa, mengahadirkan tawa bagi yang mendengarnya.


"Nak Nuri, maafkan kami baru mengetahui hari ini," ujar mama tulus. Perempuan itu mengeluarkan kotak hitam dari tasnya. "Mama belum sempat mencari hadiah pernikahan untukmu. Tolong terima dulu ini."


"Eh kok." Nuri menoleh pada Arsyan untuk meminta persetujuan. Lelaki itu mengangguk dan Nuri pun menerimanya. "Terima kasih seharusnya gak perlu repot-repot, Tante."


"Saya menyebutkan diri sendiri mama eh nak Nuri masih memanggil dengan sebutan tante," kekeh mertuanya.


"Belum terbiasa," balas Nuri malu-malu.


Mama Nena mengajak tamunya untuk makan malam bersama. Hanya papa mertuanya yang ikut makan bersama. Sedangkan mamamu Ars meminta izin untuk bicara berdua bersama menantunya.


Mereka memilih bicara di taman belakang tempat biasa Nuri bersantai. Nuri mempersilahkan ibu mertuanya untuk duduk.


"Nak. terima kasih sudah menerima dan mengizinkan Arsyan bertanggung jawab. Mama ingin menyampaikan sesuatu tentang Arsyan tapi ini bukan berarti mama mempengaruhi kamu untuk melakukan kewajiban sebagai mana mestinya seorang istri. Mama yakin kalian belum melakukannya."


Nuri diam tak mengiyakan apa yang dikatakan mertuanya. Tidak mungkin dia membuka borok rumah tangganya meski pun itu pada mertua.


"Dulu Arsyan menikahi Naima dalam keadaan hamil. Kamu pasti kaget mendengar ini, tapi tolong dengarkan dulu mama bicara sampai selesai."


Nuri mengangguk meski segudang tanya bercokol dibenaknya.


"Naima datang kepada kami saat hujan lebat di malam itu. Dia datang sambil menangis dan membawa alat tes kehamilan. Kami marah pada Arsyan. Kami meminta dia jujur tapi sampai papanya memukuli pun dia tetap memberikan jawaban yang sama. Bahwa dia tidak melakukan hal itu pada Naima terlebih dia tidak mencintainya."


"Orang tua Naima datang dengan keadaan marah, mereka meminta Ars untuk bertanggung jawab. Ars menolak karena dia mengatakan bukan dia pelakunya bahkan dia sempat bersumpah. Demi menjaga hubungan kerja sama antara kami, Ars dipaksa untuk menikahi Naima. Malam itu pun terjadilah pernikahan mereka."


"Ars tak terima tapi dia tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang suami yang bertanggung jawab. Nikah lahir dia cukupi tapi entah kalau nafkah batin. Sampai saat Fisya lahir, Ars melakukan tes DNA diam-diam dan menunjukan hasilnya kepada kami. Hasilnya membuat kami tercengang. Kami merasa bersalah telah memaksa dia untuk bertanggung jawab pada apa yang tidak diperbuatnya."


"Dia hendak menceraikan Naima tapi kami menahannya. Dian bertahan dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya dia pergi keluar negeri, dan memberikan kabar tentang Naima yang tak kembali setelah berenang di pantai pada waktu sore."


Jadi Fisya bukan anak kandungnya?


"Dia kembali kepada kami setelah beberapa tahun tinggal di negeri lain. Dia mengakui kesalahan yang dia buat kepada kamu." Mertua itu menatap menantunya lalu menggenggam tangannya. "Sekali lagi mama bukan mempengaruhi kamu untuk menerima dia. Tapi sebagai mana orang tua pada umumnya tentu mengharapakan kebahagiaan pada setiap anaknya."


"Aku ... aku bingung harus bilang apa."


"Mama hanya ingin menyampaikan saja, bukan meminta pandapat kamu. Sekaligus memintakan maaf untuknya. Tolong maafkan dia."


"Aku sudah memaafkannya, Ma."


Sebuah senyum terbit di bibir pria yang mendengarkan obrolan mereka dari balik pintu. Ah rasanya dia ingin langsung menyongsong istrinya lalu memeluknya.


***


"Orang tua Arsyan datang ke kediaman Nuri." Pesan iti dibaca seorang perempuan yang duduk diantara perempuan lainnya. Mereka tengah menikmati pesta yang mereka buat sendiri.


"Apa itu artinya pernikahan mereka baik-baik saja?" tanya perempuan satunya.


"Aku rasa tidak. Lihat saja sikap Nuri pada Arsyan waktu mereka di swalayan," sambung perempuan yang tengah memutar-mutar gelas berisi cairan merah.


"Bisa saja itu trik si Nuri agar kita terkecoh."


"Kalian terlalu drama," timpal perempuan yang membaca pesan tadi.


Dia pun mengetahui sesuatu lalu meminta seseorang agar mengirimkannya pada Nuri.


Nuri menerima pesan tersebut. Sebuah foto galian tanah yang menyerupai kuburan disertai pesan di bawahnya. "Berbahagialah, nikmati waktu yang tersisa sebelum tanah ini menjadi selimut terakhirmu."


Nuri membekap mulutnya saat membaca pesan tersebut. Arsyan yang duduk di sebelahnya langsung menoleh. Dia ikut membaca pesan yang ditunjukan oleh istrinya.


Arsyan langsung mengepalkan tangannya. Dia mengajak Nuri mengingalkan meja makan lebih dulu. "Maaf aku sudah kenyang. Bolehkah aku dan Nuri meninggalkan meja makan lebih dulu?"


"Ya, silahkan," jawab pak Amran. Lelaki yang masih duduk di kursi roda itu tak mungkin menunjukan sikap yang sebenarnya di depan besannya.


Arsyan langsung meminta Nuri mengirimkan nomor yang mengirim pesan tadi. Dia langsung meneruskannya pada Jo. "Tunjukan kulitasmu sekarang, Jo!"