Nuri

Nuri
22



Kalimat tadi jelas menampar Hardy. Bagaimana dia tak menyadari perannya selama ini. Sebagai suami yang harus mendidik dan membimbing sang istri. Mencintai bukan hanya sekedar menyenangkan.


Dia lekas menarik lengan Alisa agar merajuk dari Nuri dan mamanya.


"Gak usah tarik-tarik. Aku bisa jalan sendiri," protes Alisa.


Hardy menatap Alisa. Nafasnya memburu merasa malu dengan apa yang diucapkan oleh mama Nuri.


Hal itu tak luput dari pandangan Nuri dan mama tapi mereka memilih menjauh. Bukan ranah mereka ikut campur urusan orang lain.


"Loh kok?" tanya mama saat melihat brangkar berisi tubuh papa di dorong keluar ruang UGD.


"Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap, Bu. Alhamdulillah beliau tadi sempat siuman, sekarang istirahat kembali karena pengaruh dari obat. Jadi beliau sudah bisa dipindahkan. Itu juga memudahkan keluarga untuk menunggunya," papar seorang perawat.


"Baiklah," Mereka mengikuti perawat yang mendorong brangkar papa. Mereka menuju salah satu ruangan VIP. Ruangan yang terlihat bukan seperi di rumah sakit. Ada tv besar, sofa empuk, ruangan luas sangat jauh berbeda dengan ringan yang pernah ada Nuri di dalamnya.


Nuri pikir ruangan ini dipesan oleh adik-adiknya. Jadilah dia tidak protes toh untuk papa juga.


***


Arsyan yang baru saja duduk pada kursi kebesarannya harus berdiri kembali karena ponsel di saku celana berdering.


Panggilan dari telepon rumah.


"Pak, Non Fisya demanya gak turun-turun."


"Bawa ke rumah sakit sekarang," titah Arsyan. Dia mendengus. Hari ini Fisya memang izin tidak masuk sekolah gara-gara kemarin sore minta main hujan.


Dia pun bergegas kembali ke rumah sakit. Dia juga meminta orang kepercayaannya menyiapkan ruangan untuk Fisya.


Karena uang semua serba mudah. Apa apa tidak perlu menunggu. Tinggal pencet tombol semua bisa cepat diperoleh.


"Non Fisya sudah di ruangan, Pak." Pesan masuk pada ponsel milik Arsyan. Lelaki yang baru saja turun dari mobil itu berjalan sambil membalas pesan. Hingga dia tak menyadari tengah berpapasan dengan Nuri.


Melihat Arsyan yang terlihat buru-buru, Nuri yang semula hendak membeli makan siang malah memutar balik mengikuti langkah Arsyan.


Kok balik lagi?


Nuri mengikuti Arsyan sampai lelaki itu masuk ke dalam salah satu ruangan. Nuri mengintip.


"Nah, kan? kerasa? Daddy kan sudah bilang dari kemarin, gak usah main hujan. Sekarang apa-apa gak enak 'kan?" terdengar suara Arsyan mengomel."


"Daddy jahat, aku sakit malah diomeli. Aku gak suka sama daddy, aku benci. Daddy pergi saja!" jerit Fisya.


"Biarkan anaknya tenang dulu ya lak," ujar suster yang masih ada di sana.


Arsyan keluar dari ruangan itu dan mendapat Nuri di sana. Mampus aku.


Nuri mengempiskan perut saat Arsyan menatanya tajam. Otaknya langsung berputar untuk mencari alasan. "Tadi ... Tadi saya belum mengucapkan terima kasih."


Kening Arsyan berkerut mendengar alasan Nuri. Dia ingin tertawa tapi dia tahan. Bagaimana bisa Nuri lupa kalau tadi perempuan itu sudah mengucapkan terima kasih berkali-kali padanya. "Oh ok. Gimana keadaan papa kamu?"


"Papa sudah siauman. Oh ya apa yang sedang dirawat itu anakmu?" Nuri tahu ini basa-basi paling konyol. Jelas tadi dia mendengar anak itu memanggil Arsyan dengan sebutan daddy.


"Hmm. Mau masuk?"


Nuri menolak dan memilih pergi. Setelah jauh barulah dia bisa bernafas lega. Menarik nafas dalam dalam sambil memejamkan mata. Sampai saatnya mata terbuka Nuri malah melotot karena di depannya ada Latif.


"Latif?" panik Nuri. "Ngagetin aja kamu."


"Teteh ... Teteh cuma meu bilang terima kasih aja."


"Kesenengan nanti dia. Jangan kasih hati ke dia Teh lama-lama dia pasti minta jantung."


"Mati dong," kelakar Nuri. Dia mencoba mengurai ketegangan antara dirinya dan sang adik karena ketahuan membuntuti Arsyan.


"Iya mati dikurung sama dia. Beralasan cinta nanti dia menyuguhkan madu beecampur racun."


Nuri mendelik mendengar ucapan Latif. dalam hatinya dia menyangkal ucapan Latif, hanya saja dia malas berdebat di sini.


Tanpa mereka sadari Arsyan mendengarkan obrolan mereka.


***


Meski sudah siuman, tapi papa masih terbang lemah. Nuri mendekat papa sambil tersenyum. "Bagian mana yang terasa sakit, Pa?"


"Ini, ...." Papa menunjuk dadanya.


"Sembuhlah papa! Aku butuh pelukan papa untuk menenangkan gundah. Aku butuh senyum hangat papa untuk menjalani hari." Ada rasa takut dalam diri sehingga membuat air matanya jatuh.


Mama dan kedua anak kaki-lakinya menatap interaksi Nuri dan papa. Sesekali mama menyeka sudut matanya. Latif dan Hamzah tak mengeluarkan air mata, mungkin mereka malu atau memang sesungguhnya tegar.


Meski lemah, tangan papa menghapus bulir bening itu. "Nuri ... Menikahlah dengan lelaki yang mencintai kamu dan menerima kamu tanpa melihat kekuranganmu!"


"Papa jangan bicara seperti itu. Nuri butuh papa."


"Secara matematis umur papa sudah mendekati maut Nuri. Tak ada yang tau waktu itu tiba, tapi papa ingin melihat anak perempuan papa menikah sebelum papa dijemput ajal."


"Papa ...." Nuri menangis memeluk cinta pertamanya. Lelaki yang mengajarkan untuk tangguh dalam menjalani rumitnya kehidupan. Lelaki yang selalu memberikan kasih sayangnya meski tak bergelimang harta. Lelaki yang tak pernah mempermasalahkan waktu saat harus mengantuk dan menjemput Nuri sekolah. Dialah laki-laki yang selalu ada untuk Nuri. Lelaki yang tak pernah perhitungan.


"Berat," canda papa sambil mendorong tubuh Nuri.


"Papa, ...."


"Tif, Zah. Kalian di sini juga?"


"Astagfirullah papa, kita berdiri di sini dari tadi emang dikira apa. Pager beton?"


"Hahaha bukan begitu."


"Cepat sembuh, Naura ingin digendong sama kakeknya," ujar Latif.


"Iya aku juga butuh papa buat benerin motorku," sambung Hamzah.


"Anak gendeng."


Mama tersenyum melihat papa. Dia melihat pintu terbuka dan menampilkan dokter Irsya di sana.


"Di cek dulu ya," ujar dokter Irsya sambil tersenyum "Sudah terasa enak?" tanyanya pada papa.


"Belum baikan sih, anak sulungnya belum menikah."


Dokter Irsya menanggapi dengan senyum. Salah siapa aku melamar malah ditolak.


"Eh eh kok?" sahut Nuri