Nuri

Nuri
Bab 19



Perang dingin antara Arsyan dan Akmal masih berlangsung. Akmal yang tengah sarapan langsung menjatuhkan sendok dan membuat semua orang di sana terperanjat. Satu lagi dia menendang kursi yang ia duduki tadi saat Arsyan dan Fisya ikut bergabung.


"Akmal!" seru papa namun tak dihiraukan.


"Fisya mau ini?" tanya Arsyan saat melihat anaknya fokus menatap Akmal yang pergi menjauh.


"Iya, ...."


"Nanti sore aku akan membawa Fisya pulang ke rumah, Ma."


Papa mendesah berat dan membenarkan kacamatanya, mama dan Fisya menoleh secara bersamaan.


"Rumah siapa?" tanya Fisya bingung.


"Ke rumah kita, rumah yang daddy bangun untuk kamu dan mommy."


"Berdua aja?"


"Iya hanya berdua." Arsyan mengembangkan senyum agar ia tak dilihat menyedihkan oleh sang anak. Keputusan ini diambil Arsyan agar tak membuat kedua orang tuanya sedih karena melihat anaknya bersitegang. Selain itu, dia juga berniat memperbaiki kesalahan pada Nuri.


"Padahal aku masih kangen sama oma, opa."


"Kapan-kapan kamu bisa main ke sini. Habiskan sarapannya daddy akan mengantar kamu ke sekolah baru."


Mama memalingkan wajah untuk menyeka air yang menggenang di ujung mata. Harusnya dia senang anak dan cucunya kembali tapi sekarang kenapa dia harus mendapat kekecewaan dari sang anak.


"Aku sudah selesai, Dad."


"Anak pintar, ambi tasnya kita berangkat." Arsyan mengerti rasa kecewa yang dialami kedua orang tuanya. Tidak masalah mereka mendiamkan dirinya tapi dia juga tidak ingin sang anak menjadi tidak nyaman dalam situasi seperti ini. "Aku berangkat, Pa, Ma."


"Kenapa kita harus pindah, Daddy?" tanya Fisya di dalam mobil.


"Emmmmm apa ya? Karena daddy kangen mommy kamu. Rumah itu rumah kenangan kita jadi daddy ingin tinggal di sana aga merasa dekat dengan mommy kamu."


"Om Akmal gak suka kita ada di sana ya?"


Nah kan benar anak itu menyadari sikap Akmal.


"Mungkin dia lagi cape aja."


"Di rumah itu pasti aku kesepian seperti waktu di Amster. Daddy akan mengabaikanku lagi dan fokus pada pekerjaan."


Arsyan meringis.


Tenang sayang new mommy is coming soon.


"Nanti ada mbak yang menemani kita."


Fisya terlihat berpikir lalu dia tersenyum karena mendapatkan sebuah ide. "Daddy nikah lagi aja," seru Fisya


Meski kaget dengan ucapan sang anak tapi Arsyan tetap menagguk. "Tunggu saja."


"Daddy selalu bilang tunggu saja, tunggu saja tapi ujung-ujungnya bohong.


Mobil sudah sampai di sekolah. Arsyan membantu Fisya turun. Mereka masuk dan di sambut baik oleh pihak sekolah. Setelah mengurus data yang diperlukan, Fisika sudah bisa bergabung bersama teman-temannya. Sedangkan Arsyan memilih berangkat ke store dan berjanji akan menjemputnya nanti.


Arsyan menghubungi seseorang dan meminta mengikuti Nuri. Dia harus mengatahui begaiamana kegiatan Nuri agar dia bisa memilih celah untuk masuk ke kehidupan Nuri.


Manager Store menyambut kedatangan Arsyan. Semua hampir masih sama, sayangnya Arsyan tidak bisa melihat lagi senyum yang selalu dia rindukan kala dia sampai. Senyum Nuri.


Ponsel yang berada di meja kerja berdering. Arsyan mengangkat panggilan dari seseorang uang dia minta mengawasi Nuri.


"Seorang dokter menemui ayahnya Nuri. Sedangkan Nuri tak terlihat keluar dari kawasan tempat tinggalnya."


"Aku membayarmu mahal untu mendapat kabar bagus bukan kabar seperti ini. Apa dokter itu memiliki hungungan spesial dengan Nuri? Cari tau! Satu lagi cari cara agar aku bisa bertemu dengan dia di luar." Panggilan berakhir.


Bersaing dengan dua orang bukan masalah. Aku masih yakin bisa mendapatkan Nuri.


***


Pak Irsya menunjukan rekaman tantang pengakuan Hanah atas penyebaran video itu pada Pak Amran.


"Harusnya saya menyadari ini lebih cepat dan menunjukan kalau saya mencintai Nuri itu tulus," ujar Pak Irsya. "Izinkan saya mendampingi Nuri, Pak."


"Saya percaya dengan kamu. Tapi untuk saat ini tolong jangan mendekati Nuri dulu. Dia sedang menjalani pengobatan. Biarkan dia pulih lebih dulu. Masalah siapa nanti yang akan dipilih biar dia yang menentukan."


"Kalau begitu saya titip salam untuk dia." Pak Irsya pamit.


Saat dia akan memasuki mobil dia melihat mobil Hanah.


Apa dia mengikutiku? Aku harus menghentikan dia sebelum melakukan tindakan lagi. Aku yakin dia tidak akan diam.


Sebelum kembali ke tempat kerja, lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu menatap kawasan tempat tinggal Nuri. Ada rindu disana yang belum bisa ia gapai.


***


Seseorang yang ditugaskan oleh Arsyan itu memulai pekerjaannya. Dia menyamar sebagai orang yang membutuhkan jasa jahit perusahaan Nuri.


Nuri yang sudah diberi tahu oleh Nia langsung turun untuk menemui tamu itu.


"Maaf membuat anda harus menunggu," ucap Nuri.


"Bukan masalah, Bu Nuri" Lelaki itu pun memperkenalkan diri keudian memperhatikan sekitar, "Sepertinya saya mengganggu jam makan siang anda."


"Tidak masalah, jadi apa yang bisa saya bantu?"


"Saya butuh pakaian yang anda produksi untuk mengisi store kami. Bisa saya melihat modelnya?"


"Silahkan tunggu sebentar." Nuri hendak mengambil beberapa sample.


"Tunggu bu Nuri. Maaf saya baru saja diminta kembali oleh atasan saya. Bisakah anda menemui saya besok dan di kafe xxx dan membawa samplenya. Atau saya harus kembali ke sini?"


"Tidak apa-apa biar saya yang menemui anda besok."


Lelaki itu pun pamit.


"Huuuuuufffh malas sekali harus berusuan dengan lami-laki lagi."


***


Arsyan tersenyum setelah mendapatkan kabar dari orang suruhannya. Dia sudah membayangkan pertemuannya dengan Nuri.


Tunggu aku Nuri. Aku yang membaut luka maka aku juga yang menyembuhkannya.


"Huuuh gak sabar." Dia menyeringai. Rencana itu tidak boleh gagal.


Bersaing dengan Akmal bukan masalah. Akmal memang menang di emosi tapi dia tidak pandai strategi. Dari dia sudah mengklaim kalu Nuri itu miliknya. Hanya saha gua menggunakan cara yang salah.