Nuri

Nuri
Bab 37



Sebelum subuh dan suaminya bangun, Nuri bangun lebih dulu. Menyambar gaun tidur yang dikenakan semalam untuk menutupi tubuhnya.


"Kok jalannya gitu?" tanya Arsyan yang dikira oleh Nuri masih tidur tapi ternyata sudah bangun juga.


"Jangan menoleh." Malu benar rasanya saat mengingat aksi mereka tadi malam. Memecah celengan rindi syahwat masing-masing.


Arsyan bangun dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. "Orang aku sudah tahu isinya kok jangan menoleh. Mau kemana ini masih setengah tiga. Dingin, ayo tidur lagi."


"Enggak aku mau mandi, malu nanti kalau keluar rambutnya masih basah," jawab Nuri sambil melangkah ke kamar mandi.


Sayangnya Arysan bergerak cepat, menarik kembali istri hingga jatuh secara bersamaan di tepat tidur. Nuri langsung menutup wajah serta bagian dada.


"Aku pernah dengar kalau serangan fajar itu begitu dahsyat. Mau coba?"


Nuri memukul dada suaminya. Setelah itu terjadilah orah raga pagi yang lumayan menguras tenaga. Bisa jadi lemak ditubuh Nuri perlahan hilang karena keringat yang dikeluarkan juga begitu banyak.


Arsyan membantu istrinya untuk mandi. Begitu telatennya dia melayani sang istri. Menyabuni tubuh istrinya dengan kelembutan.


Aku pernah berpikir akan sulit mendapatkan lelaki sesuai kriteria saat mahkota dalam diriku kamu ambil secara paksa. Lelaki yang memahami perempuan, memanjakannya juga sabar menghadapi sikap perempuan yang kadang berubah-ubah. Tuhan menjadikanmu seperti yang aku mau.


"Kok melamun?" tanya Arsyan saat istrinya lebih banyak diam. "Masih sakit?"


Nuri mengangguk kemudian beranjak ke bawah shower untuk membilas busa sabun ditubuhnya.


Selesai mandi Arsyan masih memanjakan istrinya, membantu memakaiakan pakaian, termasuk membantu mengeringkan rambut Nuri menggunakan pengering rambut.


Baru saat adzan subuh berkumanadang mereka melakukan kewajiban bersama.


Sebelum keluar kamar Arsyan memaparkan rencananya dengan Jo pada Nuri. Termasuk orang-orang pilihan yang ia siapkan untuk melindungi sang istri.


"Apa itu tidak akan bahaya. Maksudku dia kan juga ibunya Fisya."


"Tapi kalau aksi gilanya tidak dihentikan bisa saja salah satu dari kita atau lebih parahnya kehilangan nyawa. Aku belum sanggup harus berpisah lagi denganmu."


"Baiklah, ayo turun. Kalau terlambat bisa jadi aku diledek Fitri sama mama lagi."


Nuri sudah memutar handel pintu, Arsyan kembali menariknya. "I love you." Nuri membalas dengan senyum. Entahlah rasanya dia belum sanggup untuk sekedar mengucap i love you too, atau i love you more. Perasaan di hatinya masih abu-abu, tapi satu yang dia akui bahwa dia nyaman berada si samping Arsyan.


***


Detik jam terus Nuri pandangi, sesuai janji kemarin dia akan menemui Naima di kafe yang menjadi pilihan kliennya itu.


Arsyan dan Jo duduk di dalam mobil yang terparkir tak jauh pintu gerbang perumahan. Untuk kafe tujuan dia telah menempatkan beberapa orang pilihannya di sana untuk berjaga-jaga. Dia sendiri akan mengikuti Nuri dari arah belakang. Bisa saja Naima merencanakan penculikan pada istrinya.


"Aku sudah jalan," beritahu Nuri pada suaminya. Dia juga mengaktifkan GPS dirinya baik pnselnya maupun smartwach-nya.


"Aku ada di belakangmu," balas Arsyan.


Sampai ke tujuan masih tak ada tanda tanda yang dianggap membahayakan. "Bissmillah," ucap Nuri sebelum turun dari mobil.


Orang yang dituju terlihat sudah ada di sana. Duduk manis dengan pakaian khasnya yang terlihat mewah. Sejenak Nuri memindai sekitar kemudian melangkah masuk. Oh iya tidak lupa dia memarkir mobil pada area yang bisa dijangkau oleh kamera pengawas.


"Jo?"


Jo terlihat santai, percaya diri dengan kemampuannya. "Cari jalanan yang aga sepi agar tak menimbulkan korban!"


Mobil berbelok mencari jalan yang tak terlalu ramai. Akan bahaya kalau mereka saling serang di jalan utama. Mobil memasuki jalanan yang mulai sepi. Hanya ada satu atau dua motor yang lewat.


"Turun, kita lawan mereka," ujar Jo memberikan senjata api pada Arsyan. "Untuk berjaga-jaga."


Kelompok pemotor itu langsung menyerang. Untungnya Arsyan dan Jo memiliki ketangkasan bela diri. Bebebrapa kali Arsyan menghindar dari serangan benda tajam yang diarahkan padanya. Dia melompat dan langsung menerjang tiga dada lawan sekaligus. Membuat lawan mundur beberapa langkah. Begitu juga Jo yang sama-sama melawan tiga orang.


Arsyan sempat merinding saat benda tajam menebus kulit lengannya. Benda tajam itu hendak menyerang dada tapi Arsyan lebih dulu bergerak sehingga lengan atasnya yang kena. Darah pun keluar tapi tak dihiraukan.


Tidak ada gunanya merasakan rasa sakit di saat genting. Dia lemah maka dia akan mati. Arsyan semakin berutal menyerang lawannya. Kakinya beberapa kali mengenai pipi lawan bahkan ada juga yang mengenai bagian intim lawan.


Setelah hampir lima belas menit berjibku, akhirnya lawan bisa di kalahkan.


Arsyan dan Jo cepat-cepat masuk ke dalam mobil sebelum mobil meninggalkan tempat itu. Jo lebih dulu melepaskan pelit pada srh ban motor mereka.


"Agar tidak di kejar," ucapnya santai.


Arsyan menggelkan kepala saja melihat tingkah sahabatnya. Orang yang ditugaskan di sekitar kafe mengabarkan keadaan masih aman.


Kembali kepada Nuri. Dia menyapa Naima lalu menarik kursi setelah dipersilahkan. Tidak ada kopo dihadapannya tapi tetap saja dia harus berhati-hati.


"Aku belum memesan kopi, karena tidak tahu seleramu Bu Nuri. Mari kita pesan bersama." Dia mengangkat sebelah tangannya meminta seorang pelayan menghampiri.


Dua cangkir kopi telah tersaji diusahakan mereka. Naima berbasa-basi dengan menanyakan produk berikut harganya. Baik satuan atau borongan. Naima benar-benar mahir dalam bermain peran. Sepertinya kalau salah satu produser melirik akting Naima, ia akan banjir tawaran jadi pemeran utama.


Ponsel Naima bergetar. Ada pesan msuk di sana sayangnya Nuri tidak bisa melihat isi pesan tersebut.


"Aku sudah ditempat." Isi pesan tersebut.


"Bagus, bekerja dengan baiklah kucing, kita akan mengeksekusi tikus ini," balas Naima. "Bu Nuri maaf kita tidak bisa lebih lama lagi untuk berbincang. Barusan orang tuaku meminta untuk pulang. Katanya ada lelaki yang ingin ... entahlah. Kopinya biar aku yang bayar karena aku yang mengajak anda untuk bertemu di sini.


Nuri terkekeh lalu mengangguk mengizinkan Naima untuk pergi. Nuri menghela nafas lega. Sepertinya dia masih dikasih kesempatan untuk hidup. "Baiklah kalau ada kesempatan bertemu lagi izinkan aku yang mentraktimu."


Mereka sama-sama bangkit dan hendak emnibggalkan tempat itu. Nuri mengantarkan Naima sampai perempuan istriku masuk ke dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Naima yang sudah di dalam mobil semakin menyunggingkan senyum dia kembali mengetik pesan, "sekarang!"


Nuri berbalik hendak masuk ke mobilnya. Dari arah belakang sebuah mobil berhenti di belakangnya dan langsung menarik Nuri masuk ke dalam mobil.


Orang-orang suruhan Arysa terlambat melakukan penyelamatan. Mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Mereka segera memberi tahu Arsyan yang masih saja belum tiba.


"Cek cctv cari tahu nomor polisi mobil itu. Lalu hubungi keepolisan terdekat untuk meminta cctv lalu lintas!" perintah seorang yang lebih banyak terhubung dengan Arsyan.


Akankah Nuri selamat?