
Ponsel Hamzah terus berdering sejak adzan subuh berkumandang. Sayangnya tak satu pun panggilan yang diangkat karena pemiliknya tengah berolah raga setelah melakukan shalat subuh.
Pergerakan media memang begitu cepat. Tak hanya menyentuh orang-orang dewasa bahkan anak-anakpun begitu cepat terpengaruhnya.
Hamzah kembali ke dalam kamar dan mendapati seratus lebih panggilan juga beberapa pesan masuk dari Akmal. Dia pun segera menghubungi kembali.
"Kenapa Mal?
"Gawat, Zah. Ini tentang Nuri kakakmu."
"Nuri?" Hamzah mengerutkan kening, "Emangnya apa yang dia buat?"
"Lo buka pesan yang gue kirim tadi. Sekarang!" Akmal mematikan panggilan lebih dulu.
Hamzah menggelengkan kepala saat memutar video yang dikirim Akmal. Dia sama seperti Akmal begitu terhenyak saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh kakaknya.
Dia pun segera keluar kamar dan bertepatan dengan wajah tegang mama. Mama sendiri mengetahui video itu dari pekerja yang membantunya. Mata mama terlihat berkaca-kaca.
"Loh ma, kamu kenapa?" tanya Papa Amran yang baru saja keluar dari kamar. "Zah?"
"Ini tentang teh Nuri," balas Hamzah dan segera manik tangga untuk sampai di kamar Nuri. Papa dan mama mengikuti. Papa heran melihat mama yang berupa air mata dan Hamzah yang terlihat tergesa-gesa.
"Teh..." Hamzah mengetuk pintu dengan tidak sabar.
Nuri baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Rambutnya masih basah. Mendengar pintu diketuk dengan tidak sabar dia pun segera membukanya.
"Loh?" Nuri kaget melihat Hamzah, Papa dan Mama yang berdiri di depan pintu secara bersamaan. Apalagi melihat mama yang berupa air mata. "Mama kenapa?"
"Masuk dulu Teh! Kita harus bicara."
Nuri membuka pintu lebar dan membiarkan mereka masuk. Hamzah yang terkahir masuk menutup pintu.
Video itu langsung diputar oleh Hamzah. Seketika tubuh Nuri langsung menegang. Tak percaya kalau apa yang ia tutupi selama ini diketahui khalayak umum.
"Dengan siapa kamu melakukannya?" Suara papa terdengar dingin menandakan lellkai itu tengah marah.
"Pa..." Nuri memejamkan mata. Kepalang tanggung sepertinya dia harus menceritakan semua pada papa, mama dan Hamzah.
"Kita boleh miskin harta Nuri tapi jangan sampai miskin akhlak." Papa memalingkan wajah tak mau menatap Nuri.
"Papa menuduhku melakukan hal hina itu?" Nuri mengerjapkan mata menahan air mata. "Baiklah dari pada salah paham. Aku akan menceritakannya, hari itu..."
Nuri mulai menceritakan semuanya. Berawal dari dia yang tadinya akan cuti kerja tapi pihak store memintanya masuk dengan alasan teman sejawat Nuri yang lain sakit dan tidak bisa cuti secara bersamaan. Terpaksa Nuri harus menggantikannya meskipun enggan.
Sejak memasuki waktu dzuhur hujan turun membasahi langit kota Bandung. Puncaknya Hujan turun deras menjelang isya. Sedangkan itu sudah waktunya untuk dia pulang.
Karena hujan begitu deras, Nuri dan yang lain memilih menunggu sampai hujan reda. Dari pada celaka jarak pandang sudah pasti terganggu. Nyatanya sampai jam sembilan lewat hujan tak kunjung reda. Nuri berpikir ini sudah terlalu larut akhirnya dia menerobos hujan meski teman-temannya melarang.
Nuri terus menajatkan doa saat memasuki kasian yang mulai sepi. Nuri merasa senang saat sebuah mobil menyusul di belakangnya. Dia pikir malam itu tidak akan menyeramkan.
Sayangnya pada daerah yang benar-benar sepi mobil itu menubruk motor Nuri dan membuatmu terjatuh. Mobil berhenti tak jauh dari Nuri yang sedang berusaha membangunkan motor.
Air mata membasahi pipi Nuri yang sedang bercerita. Mama langsung memeluk Nuri erat ia pun ikut menangis. Sebagai orang tua dia merasa bersalah kerena dulu mereka tidak seperti sekarang. Membuat Nuri yang memang terlahir sebagai anak sulung harus bekerja keras demi membantu perekonomian keluarga.
"Mama ingat saat mama menghubungi melalui sambungan vidio aku menolak?" mama mengguk. "Malamnya kejadian itu terjadi."
"Besoknya aku ingin melaporkan kejadian itu pada polisi. Sayangnya aku mendapat kabar dari temanku kalai dia pergi keluar negeri. Dia kabur."
Papa mengepalkan tangan. Sedih, kesal dan penyesalan bersatu mengobrak abrik perasannya. Begitu pun Hamzah. Tak menyangka kalau kakak yang selama ini selalu tersenyum hangat pada keluarga menutupi hal yang amat pedih.
"Semalam pak Irsya melamarku aku sempat menolak tapi dia terus menanyakan alasannya. Dia pun meyakinkan apa pun kekuranganku dia akan menerimanya." Nuri menghela nafas sebanyak mungkin.
"Aku bingung tapi aku tak ingin suatu hari dia mengungkit ini karena dia merasa tertipu olehku. Dengan pertimbangan aku pun mengatakannya."
"Berarti dia yang merekam dan menyebarkan vidio itu." Tangan Hamzah mengepal.
"Jangan asal tuduh, Zah. Kita belum tahu apa memang dia pelakunya atau bukan." Mama mengingatkan, tak ingin anaknya gegabah.
"Ma, kalau bukan dia siapa lagi. Teteh mengatakan itu pada dia 'kan? Kalau itu orang lain emang apa kepentingannya. Kalau pak Irsya jelas dia punya alasan karena ditolak." Hamzah berbalik dan melangkah.
"Hamzah," Suara papa yang terdengar dari biasanya menghentikan langkah Hamzah.
"Pa aku gak bisa diem aja ngeliat vidio ini semakin tersebar. Pelakunya pasti sedang tertawa puas melihat ini. Teteh tenang aja, aku akan berusaha mencari pelaku yang sesungguhnya." Jiwa anak muda tengah bergelora. Kemarahan Hamzah tak bisa dicegah.
Dia meninggalkan rumah dengan rumah pak Irsya yang menjadi tujuan.
Bersamaan dengan itu dia bertemu Akmal. "Zah," teriak Akmal.
Sayangnya yang dipanggil tak berhenti. Akamal langsung menyusul, dia yakin sikap Hamzah berkaitan dengan kabar yang dia berikan. Dua pun segera menyusul.
Padahal niatnya dia ingin menemui Nuri yang pasti syok dengan kabar itu. Dengan niat baik ingin membesarkan hatinya. Tapi setelah dipikir-pikir yang penting bukan hanya itu. Dia harus mencari si pelaku.
Dua motor melesak di jalan raya dan berhenti di depan rumah dua lantai bercat putih. Pintu gerbangnya menjulang tinggi.
"Saya ingin bertemu pak Irsya," ucap Hamzah pada stapam.
"Bapak lagi dinas. Anda bisa menemuinya nanti sore."
"Saya butuh bertemu dia sekarang." Hamzah menekankan suaranya.
Melihat Hamzah yang terlihat emosi, satpam jadi berpikir kalau Hamzah adalah orang yang berbahaya.
Dia hendak kembali masuk tapi di tahan oleh Hamzah.
"Katakan! di rumah sakit mana dia dinas?"
Satpam menepis tangan Hamzah. "Pergi atau saya laporkan kamu sekarang," ancam si Satpam.
Hampir saja Hamzah melayangkan kepalan tangan pada wajah satpam itu. Untungnya Akmal tiba dan segera menahan.
"Bukan dia yang kita cari." Akmal menempuk pundak Hamzah. Sedangkan si satpam buru-buru masuk dan mengunci pintu gerbang. "Ikut aku kita cari dia di rumah sakit."