
Di rumah keluarga Akmal, pemuda itu tengah merwngak pada orang tuanya agar melamarkan Nuri. "Pa, tolonglah kasian anak bungsumu ini."
"Kalau kamu sudah selesai kuliah dan punya kerjaan sih papa gak masalah, Bani. Menikah itu gampang-gampang susah."
"Lagian kamu gak kasian sama kakakmu kalau kamu melangkahi," sambung mama.
"Ck dia kan udah pernah ngerasain surga dunia, ma."
Suara koran mendarat di pundak Akmal, "Kalau hanya itu yang kanu pikirkan, lebih baik banyak-banyak puasa kamu." Papa memandang Akmal yang merajuk seperti anak kecil.
"Gak bisa pak, kalau terlambat aku bisa keluar lagi sama Pak Irsya. Mumpung Nuri lagi gak suka sama dia."
"Lah kan emang Nuri itu menjaga jarak dari smeua laki-laki kecuali keluarganya. Dia gak suka sama Pak Irsya bukan berati suka sama kamu juga kali. Terlalu percaya diri kamu," kata papa lagi.
"Ma, ... please bujuk papa. Aku sayang banget sama dia."
"Nikahkan aja, Ma. Biar dia tau rasanya berubah tangga." Kakak Akmal yang baru saja keluar dari kamar menimpali.
"Nah, Kak Ars aja gak keberatan aku salip. Besok ya ma please. Ya ya ya."
Mama dan papa saling tatap, tapi papa menggeleng tanda tak menyetujui.
"Aku janji deh aku mau magang di rumah papa. Aku hisa kerja sambil kuliah kok."
"Pusing papa tuh sama permintaan kamu. Nanti papa pikiran dulu," ucap papa yang bangkit dann meninggalkan anak-anaknya.
Mama mengikuti papa.
"Anakmu itu menyebalkan sekali. Dia pikir nikah modal cinta aja cukup gitu?" omel papa sambil emneoleh ke arah mama yang menutup pintu.
"Kalau kita turuti saja gimana, Pa? Toh mama yakin Nuri pasti akan menolak. Pak Irsya yang menurut pandangan kita sudah mapan saja di tolak apalagi Bani."
"Repot kalau sampai Nuri menerima, Ma."
"Ini cara papa mengikat dia di perusahaan. Bukannya tadi dia bilang siap magang."
"Ini terlalu konyol."
Mama dan papa masih membicarakan anak bungsunya di dalam kamar. Sedangkan di ruang keluarga kakak beradik itu tengah saling menatap.
"Punya apa sih kamu sampai ingin melamar anak orang segala?" tanya Kak Ars sambil menatap Akmal.
"Punya nyali, diterima atau ditolak bukan masalah yang penting usaha dulu."
"Cewek juga mikir-mikir kali."
"Lihat aja besok. Kalau gue diterima lo beliin gue mobil sport."
"Ok, kalau sebaliknya apa yang kamu jaminkan?"
"Sama adik aja kok perhitungan."
"Loh ya gak fair lah. Kamu minta mobil sport loh. Mahal."
"Gue cariin cewek yang mau jadi istri loh. Cantik soleha, baik, pinter."
"Kalu itu sudah pasti banyak yang mau," ucap Ars meninggalkan.
Keesokan harinya papa menyetujui usulan mama. Yang penting Akmal tak keluyuran lagi di waktu senggangnya.
Papa pun pinta asistennya untuk mengabari pada keluarga Nuri.
Pak Amran yang mendapatkan kabar begitu terkejut. Masalahnya lamaran keluarga Akmal hanya berjarak sepuluh hari dari lamaran Pak Irsya.
"Gimana?" tanya pak Amran pada sang istri.
"Bingung. Kasian sama Nuri juga, Pa. Pasti dia mikir yang gak enggak."
"Asistennya bilang mereka akan datang nanti sore. Biarkan saja dulu mereka datang. Toh jawabnya terserah Nuri 'kan?"
"Kalau menurut papa itu yang terbaik, ya mama ikut aja."
"Bilangin Nuri nanti sore jangan kemana-mana. Ya sudah papa berangkat dulu."
***
"Bismillah ...." Nuri pun mengirimkan tulisannya pada perusahaan penerbitan melalui email.
"Nuriii?" Mama berdiri di pintu ruang kerja Nuri. Ini sudah jam sepuluh mama baru ingat pesan papa tadi pagi.
"Ya Ma?"
"Nanti sore gak kemana-mana 'kan?"
"Enggak. Mama mau minta tolong?"
"Enggak juga sih, cuma ya pengen tanya aja. Tadi papa juga nanyain, gak tau mau ngapain." kekeh mama. Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Biarlah Nuri mengetahuinya nanti.
"Tumben papa. Ada apa nih? Jangan yang aneh-aneh ya ma."
"Aneh-aneh gimana maksud kamu. Lah mama cuma nanya yang papa kamu tanyakan ke mama tadi."
"Jangan-jangan papa mau jodohin aku." Seketika mama melotot.
Loh kok bisa kepikiran?
Mama mengedikkan bahu dan kenibggalkan Nuri setelah mengingatkan untuk makan, sebab anaknya itu tadi pagi hanya minum kopi saja.
"Lihat nanti aja," ucap mama sambil melengos. Dia udah janji pada sang suami agar tak mengatakan keinginan Akmal.
Satu persatu pekerja mulai meninggalkan tempat kerja saat waktunya tiba. Terkahir Nia yang pamit pada Nuri.
"Jangan sering-sering sendiri Teh kalau berdua lebih enak," ujar Nia.
"Nanti se-rw kok ngumpul," jawab Nuri asal.
"Waaaahh, mau dilamar ya? Selamat Teh selamat." Nia bersorak heboh.
"Nia bukan ini gajimu hanya ½nya,"
"Yaaaaaaahhh, dah ah aku pulang." Perempuan itu pun tak lagi menggoda sang atasan. Khawatir benar gajinya dipotong ya meskipun memeng tak pernah terjadi.
Saat hari mulai gelap baru lah Nuri meninggalkan ruang kerjanya. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat kerja dia memastikan dulu keadaan.
Mama terlihat sibuk di dapur bersama pekerja perempuan. Nuri hanya menyapa tapi tak ada keinginan untuk bergabung. Dia memilih ke kamar kemudian mandi dan melaksanakan kewajiban.
Pukul 18:45 dari keluarga Akmal sudah tiba, mama menyambutnya dengan keadaan sudah rapi begitu pun papa. Mereka menerima rombongan tamu itu dengan tangan terbuka.
Meski gugup Akmal berusaha tetap tersenyum, apalagi saat Hamzah keluar dari kamar dan menatap dirinya. "Loh?" dia pun pergi ke dapur dan bertanya pada pekerja yang tadi bersama mama. "Itu ada apan ya?"
"Mungkin mau melamar Teh Nuri,"
"Siapa? Akmal?"
"Gak tau juga kita mah, A."
"Berani sekali si Akmal."
Mama pergi ke dapur dan meminta salah satu mbak untuk memanggil Nuri.
Pintu kamar Nuri di ketuk beberapa kali sampai akhirnya si empunya nongol. "Teh kata ibu ada tamu, Teteh disuruh turun."
"Tamu? Oh sebentar aku pakai kerudung dulu."
Nuri segera turun saat kerudung sudah terpasang. Sia tidak memoles wajah karena memang ia pikir tidak akan pergi lagi. Wajahnya polos tapi tetap cantik.
"Ma?" Nuri bingung saat melihat ready rombongan yang membawa seserahan. Yang membuat dia kaget adalah pria yang memangku anak perempuan duduk di sofa paling ujung.
Tatapan mereka bertemu. "Tante!" ucap anak perempuan itu.
Seketika kaki Nuri terasa lemas. Tak ada tenaga untuk mendekat, tubuhnya langsung menyentuh lantai. Para perempuan yang melihat langsung berteriak berbeda dengan para lelaki yang memilih mengangkat tubuh Nuri.
Tubuh Nuri terasa panas dan menggigil. Akmal menyarankan untuk langsung dibawa ke rumah sakit.
"Siapkan mobil!" perintah Arsyan. Ia sigap mengangkat tubuh Nuri membuat yang lain bingung terutama Akmal yang acara melamarnya gagal.
Sampai rumah sakit Arsyan masih sigap. Akmal hendak bertanya tapi papa menahan. "Jaga pikiranmu agar tak berpikir yang bukan-bukan."