Nuri

Nuri
Bab 33



Fisya akhirnya berhasil dibujuk dan mau tidur kembali di kamar sebelumnya. Arsyan dengan sabar menemani sampai anak itu kembali lelap.


Setelah dipastikan Fisya nyaman dengan tidurnya, Arsyan kembali ke kamar. Tentu dengan hati yang riang. Tadi sudah ada lampu hijau dari sang istri sekarang bisa diterobos sepertinya.


Mungkin karena lelah perempuan itu ternyata sudah tidur. Konon kalau ingin mengetahui seberapa lelahnya pengorbanan perempuan, perhatikan wajahnya saat lelap.


Nuri tidur dengan keadaan tangan terlentang dan bibir sedikit terbuka. Lucu bagi Arsyan yang melihatnya.


Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh Nuri hingga ke dada. Dia pandangi wajahnya, diselipkannya anak rambut yang membingkai wajah cantiknya.


"Maafkan aku," gumam Arsyan, sambil mendaratkan kecupan pada kening Nuri. Lalu mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.


Tak ingin mengganggu tidur Nuri, Arsyan memilih tidur di sofa seperti malam-malam sebelumnya. Meskipun tadi sempat terlihat baik tapi Arsyan tak ingin membuat Nuri merasa tak nyaman.


Tuhan terima kasih telah engkau satukan kami dengan caramu. Dengan segala kerendahan hati aku mohon ridhoi setiap langkahku untuk membahagiakannya. Menebus setiap dosa yang pernah kuperbuat, serta rasa sakit yang dia terima.


Tengah malam Nuri terbangun karena rasa kering di tenggorokanya. Dia meraba nakas di samping tampar tidur ternyata dia lupa kalau kemarin sebelum tidur dia tak menyiapkan air minum.


Dia kira Arsyan akan tidur pada satu ranjang yang sama dengannya. Tetapi ternyata tidak.


Setelah mengambil air minum, Nuri kembali tidur tanpa membangunkan Arsyan. Dia hanya melirik saja siapa tahu lelaki itu bangun. Dengkuran khas laki-laki menandakan kalau suaminya tak terganggu.


Satu jam sebelum subuh Arsyan sudah bangun lebih dulu. Dia beranjak ke kamar mandi lebih dulu. Mencuci muka dan berwudhu. Barulah setelah dirinya selesai dia membangunkan Nuri dengan menggoyangkan kaki sang istri secara lembut.


"Emh," lenguh Nuri.


"Sudah mau subuh ayo bangun," bisik Arsyan. Duh godaan bibir, hampir saja Arsyan lepas kendali.


"Belum adzan kan," balas Nuri dengan suara khas bangun tidur.


"Belum tapi bukankah alangkah baiknya kita bangun lima belas menit sebelum adzan. Kalau pas adzan kesiangan nanti. Ayo bangun."


Bukannya bangun, Nuri malah menarik selimutnya sampai ke dada.


"Eh ayo bangun, Sayang."


Nuri langsung mengerjap mendengar kata sayang. "Barusan kamu bilang apa?"


"Sayang. Sah kan?"


"Au ah," balas Nuri sambil beranjak bangun. "Kenapa tidur di sofa?"


"Kan biasanya emang di situ, emang boleh satu ranjang bersama?" Arsyan menahan senyum. Perhatian kecil seperti ini sungguh berharga baginya.


Nuri tak menjawab, perempuan itu langsung ke kamar mandi untuk melakukan hal yang sama seperti suaminya.


Selesai solat Arsyan mengajak Naura dan Fisya jalan santai. Mumpung cuaca cerah dan udara belum tercemar. Mereka sangat senang karena pulangnya bawa jajanan seabreg.


"Astaga ini kok beli jajannya banyak banget," seru mama Nena yang melihat cucu-cucunya menghamburkan jajanan. Tak ada yang tahu tentang Fisya selain Keluarga Arsyan, dan juga Nuri.


Papa dan Latif menikmati secangkir kopi sambil melihat tayangan berita politik. Arsyan ikut bergabung di sana dan sesekali menimpali pernyataan Latif. Hanya dengan Hamzah, Arsyan belum terlihat akrab bahkan sepertinya bertegur sapa pun tidak pernah.


"Kalau pas lagi kampenye selalu saja bilangnya saya akan, saya akan. Setelah pemilu mereka membuat rakyat menjadi pilu dengan kebijakan-kebijakan. Jadi bingung papa harus milih siapa nantinya," ucap papa sambil mencomot kentang goreng yang di sediakan oleh Fitri.


"Pilih semua aja, Pa kalau bingung," canda Arsyan.


"Kalau golput juga papa takutnya suara papa nanti dimanipulasi."


"Emang papa yakin kalau golput akan dimanipulasi?" tanya Latif.


"Ya kan papa bilang bisa saja. Iya apa enggaknya kan hanya mereka yang tahu."


Sebelum ke atas, Arahan sempat pergi ke dapur. Ternyata istrinya ada di sana sedang berkutat bersama para pekerja. Rambut panjangnya di cepol sehingga menampilan leher jenjangnya. Ah andai di sana hanya mereka berdua. Pikiran Arsyan melayang jauh, baru tersadar saat mama menepuk pundaknya. Jelas saja karena dia berdiri menghalangi jalan lewat.


"Masih pagi, Syan." ucap mama membuat Arsyan malu.


"Eh mama apaan sih, aku cuma mau ambil air minum." Nuri menoleh dan bertemu tatap dengannya.


"Sudah pulang?" tanya Nuri megahanpiri untuk menyerahkan gelas.


"Dari tadi, tapi ngobrol dulu sama papa," balas Arsyan setelah air di gelasnya tandas. "Aku mandi dulu ya."


Fitri, mama dan pekerja serempak berdehem. Nuri sampai melotot pada mereka.


"Sudah gak kaku lagi ya, Teh?" tanya Fitri, "berapa ronde?"


"Astagfirullah, Fit, ini masih pagi. Oh iya anak Naura sama Fisya kemana ya? kok gak kelihatan." Nuri mengalihkan pembicaraan. Dia selalu gugup kalau membahas Arsyan bersama Fitri dan juga mama.


"Bisa aja ngalihin pembicaraannya," ledek Fitri.


"Anak-anak tadi mama lihat di ruang depan deh. Mereka bawa jajan seabreg-abreg."


"Aku lihat dulu mereka deh. Fisya juga harus siap-siap ke sekolah."


Seperti yang dikatakan oleh mama, Fisya dan Nura tengah membuka satu persatu jajanan. Bahkan satu bungkus belum habis pun sudah membuka yang lain.


Kedua anak itu terlihat akrab, padahal tadi malam mereka sama- sama menangis gara-gara mata Fisya dicolok.


"Loh, Sya. Kok jajannya dibuka semua? Kan yang ini belum habis." Nuri mengangkat salah satu jajanan.


"Enggak enak mommy, aku mau coba yang ini dulu."


"Ingat kata bu guru di sekolah apa? Orang yang menghampiri-hamburkan makanan temannya se-,"


"Tan. Aku bukannya temannya setan kok." Anak itu panik dan segera mengambil makanan yang berserakan.


"Kalau tidak di makan di simpan dulu. Nanti kalau mau boleh ambil lagi. Ayo bantu mommy membereskannya." Kasih sayang Nuri pada Fisya tak berkurang meski sudah mengetahui fakta tentang anak itu. Yang ada dia malah merasa iba. Anak sekecil itu tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarga yang darahnya mengalir di tubuhnya.


Naura ikut membantu meski malah bertambah berserakan.


Setelah meneteskan jajanan pada tempatnya, Nuri membantu Fistya bersiap untuk sekolah. Fisya memang sudah mandiri kalau urusan mandi. Nuri hanya menyiapkan pakaian seragamnya lalu mendandani.


Begini rasanya punya anak perempuan, Nuri bisa berkreasi menghias rambut Fisya agar terlihat cantik nan lucu.


"Tunggu di meja makan ya, mommy harus mandi dulu," ucap Nuri dan langsung diangguki oleh Fisya.


Nuri masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Sedangkan Arsyan sudah rapih dengan setelan kemeja putih dibalut jas berwarna abu.


Tampan.


Arsyan smpean menoleh pada istrinya dan tersenyum.


"Biasa menyiapkan segalanya sendiri?" tanya Nuri.


"Aku jadi duda sudah tiga tahun, jadi ya begini."


"Oh, aku mandi dulu ya." Nuri langsung masuk ke kamar mandi. Saat Nuri keluar dari kamar mandi, ia melihat pakaiannya sudah berada di atas tempat tidur. Siapa lagi yang menyiapkannya kalau bukan Arsyan.


Begitu manis bukan?