Nuri

Nuri
42



"Hamzah mengenal Naifa?" gumam Arsyan. Sekali lagi ia perhatikan foto tersebut lalu di sandingkan dengan foto yang ada di galeri ponsel Nuri.


Iya itu Hamzah, tapi kenapa bisa duduk bersama dengan Naifa. Apa Hamzah tahu kalau Naifa adalah adiknya Naima.


Menebak-nebak tidak akan menemukan jawaban. Baiklah sekarang waktunya tidur dan memeluk sang istri. Urusan Hamzah mengenal Naifa itu urusan besok.


***


"Sayang, Hamzah sudah punya kekasih?" tanya Arsyan. Mereka bersiap untuk pulang. Siang nanti Arsyan sudah ada janji temu dengan klien.


"Kurang tahu ya, laki-laki kan jarang curhat seperti perempuan. Kenapa memang?"


"Tanya saja, soalnya dia kaku banget sama aku."


Nuri tersenyum cantik. "Sabar ya, doakan saja hatinya dilembutkan agar bisa menerima kamu sebagai ipar."


Sepasang suami istri itu bergandengan tangan menuju mobil. Mereka memilih sarapan dengan makanan ringan dan tidak menghabiskan waktu lama.


Sampai rumah, Nuri dan Arsyan mendapat protes dari Fisya, "kok aku gak diajak pergi?" Tangannya dilipat di dada.


"Maafkan mommy ya, Fisya kan sekolah. Mommy gak mau sekolah Fisya terganggu. Kalau libur nanti mommy ajak jalan-jalan ya. Sudah siap berangkat sekolah? Bekalnya sudah?"


Nuri memeriksa tas Fisya lebih dulu, memastikan kebutuhan anak itu tidak ada yang terlewat.


Sedangkan Arsyan lebih dulu masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Saat ditangga Arsya berpapasan dengan Hamzah. Wajah iparnya selalu saja kaku saat berpapasan seperti ini. Tak ada sapaan maupun senyum ramah.


"Kamu kenal Naifa?" tembak Arsyan.


Hamzah berhenti melangkah tapi tidak menoleh. "Tidak ada urusan kan sama kamu?"


"Enggak, hanya tanya," balas Arsyan kembali melanjutkan langkah.


Berhubung sebelum pulang Arsyan sudah mandi sekarang dia hanya tinggal mengganti pakaian saja.


Tak lama pintu kamar terbuka, dan Nuri menyusulnya. "Aku bantu pasangkan dasinya ya?" Diambilnya dasi yang ada di atas kasur. Tinggi Nuri dan Arsyan yang berbeda membuat arsyan menunduk agar istrinya bisa memasangkan dasi dengan baik. "Pegel ya?"


"Nanti aku belikan bangku kecil ya biar kalau pasang dasi aku gak harus nunduk lagi."


"Terserah kamu aja."


"Atau aku gendong aja ya kamunya?" Arsyan terkekeh.


"Susah nanti pasang dasinya."


Saat sudah rapih, Arsyan pamit berangkat. Tak lupa dia memberikan kecupan hangat pada kening sang istri juga kalimat manis tapi Nuri tak pernah membalasnya.


***


Bukan hanya Arsyan yang usahanya semakin maju, Nuri pun demikian. Dengan adanya campur tangan orang-orang Arsyan, usaha Nuri semakin banyak yang mengenal.


Keduanya saling mendukung, tapi mereka juga tetap waspada. Bukan melupakan dendamnya pada Naima. Hanya saja Nuri memilih untuk tak membalas. Lain halnya dengan sang suami, Arsyan sedang mencari tahu titik kelemahan lawan.


Selama Naima tidak muncul setidkanya menghadirkan lega bagi pasangan suami istri itu.


Nuri memandang takjub bangunan di depannya. Kata Arsyan rumah itu untuknya. Bangunan berlanatai tiga itu menjelang di keliling pepohonan yang tumbuh rapih didekat dinding pembatas.


"Ayo masuk," suara Arsyan mengagetkan Nuri yang masih sibuk memandang takjub bangunan di hadapannya.


"Ini beneran rumah kita?"


"Iya dong, kenapa? terlalu kecil ya?"


"Bukan, tapi rumah sebesar ini akan merasa sepi. Kan yang ngisi hanya kits bertiga."


"Siapa bilang? Rumah ini akan rame kok dengan canda dan tawa anak-anak kita nantinya."


Rona merah di pipi Nuri seperti biasa muncul tanpa izin.


Setelah melihat-lihat desain interior rumah, mereka kembali pulang ke rumah sebelumnya. Mereka juga menyempatkan mampir ke salah satu super market.


Tak disangka mereka akan melihat Irsya yang tengah mencekal tangan Naima.


"Itukan Dokter Irsya," seru Nuri pada sang suami. Menunjuk pada dua orang yang terlihat saling menatap sengit.


"Mana aku tau." Nuri mengangkat bahu sambil kembali fokus pada tujuannya.


Meski ada rasa penasaran tapi kata Nuri mereka tak memiliki urusan. Jadi setelah mendapatkan apa yang dicari mereka segera pulang.


Baik Irsya maupun Naima tidak menyadari kalau Nuri dan Arsyan sempat memperhatikan mereka. Naima berusaha melepaskan cekalan tangan Irsya tapi sia-sia.


"Kenapa selalu menghindar, apa aku seburuk itu?" tanya Irsya.


"Lepas, atau aku akan teriak?" ancam Naima.


"Teriak saja! Dimana dia?"


"Dia sudah mati."


Irsya menyunggingkan senyum sinis, "terus saja berbohong, tapi aku yakin suatu hari aku akan menemukan dia."


Naima mencebik, "oh ya? Ini bahkan sudah tahun 7 tapi kamu tidak pernah berhasil menemukan apa yang kamu cari." Naima tersenyum mengejek. Dia menendang organ vital Irsya membuat laki-laki itu memekik dan seketika cekelan pada tangan Naima lepas.


Kesempatan itu ia gunakan untuk lari dari Irsya.


Menahan rasa ngilu pada organ vitalnya, Irsya tak ingin kehilangan jejak Naima lagi. Berusaha mengejar tapi rerlambat, Naima sudah masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.


***


Sore hari Arsyan melihat Hamzah berjalan tergesa-gesa. "Mau kemana Hamzah?"


Ingat pada poto yang dia dapat, Arsyan pun mengikuti Hamzah menggunakan mobil. Dia berusaha menjaga jarak aman agar Hamzah tidak curiga.


Sebuah tempat yang menjadi tongkrongan anak muda adalah tujuan Hamzah. Setelah adik iparnya masuk, dia pun ikut turun dan mengenakan hoodie.


Mengambil tempat duduk tak jauh dari tempat duduk Hamzah agar dia bisa mendengar sesuatu yang kiranya penting.


Memasang telinga baik-baik juga alat perekam.


Naifa terlihat di pintu masuk, dia sempat mengedarkan tatapan ke sekitarnya. Untung Arsyan cepat mennuduk seolah fokus pada ponsel.


"Maaf buat kamu menunggu," ujar Naifa pada Hamzah.


"Udah biasa kok." Hamzah bersikap seolah tak menyadari ada perubahan dari sikap kekasihnya.


"Zah, sebenarnya aku mau mengatakan sesuatu."


"Tentang? Oh ya kamu mau pesan apa?" Hamzah meminta pelayan mendekat.


"Samain aja sama kamu."


Hamzah menyebutkan beberapa dua jenis minuman juga makanan. Lalu kembali menatap kekasihnya yang terlihat gugup. "Jadi tadi apa yang mau kamu katakan?"


Sepertinya hamzah memang tak mengenal siapa Naifa. Aku bisa memanfaatkan itu.


Naifa memainkan jari tangan menandakan dia tengah dilanda rasa gugup. Hamzah meraih tangan itu dan menggenggamnya.


"Aku ingin hubungan kita berakhir, Zah?"


"Kenapa? Kok tiba-tiba?"


"Aku ... aku, aku merasa gak cocok sama kamu."


Hamzah menggelengkan kepala, "Gak cocok? bahkan setelah kita melaluinya tiga bulan lebih. Baru kamu katakan tidak cocok?"


Tiga bulan lebih?


Arsyan yang mendengarkan obrolan mereka dapat menyimpulkan bahwa Naima menggunakan Naifa untuk mencaritahu tentang dirinya dan Nuri. Arsyan masih menunggu ucapan Naifa selanjutnya.


"Ya ... ya aku juga memikirkannya selama itu."


"Gak cocok itu bukan alasan yang bisa digunakan untuk mengakhiri sebuah hubungan. Pasti ada alasan lain kan?"


Hamzah menatap manik perempuan di hadapannya. Sedangkan Naifa berusaha menghindar dari tatapan Hamzah.