Nuri

Nuri
Bab 27



Nuri menjalankan perannya sebagai ibu sambung dengan baik. Dia menjemput Fisya ke sekolah saat waktunya tiba. Terlihat anak itu tengah bercengkrama dengan teman-temannya yang sama-sama menunggu jemputan.


"Itu mommyku," teriak Fisya begitu girang. Dia berlari menyongsong Nuri. "Mommy, I miss you."


Nuri tersenyum untuk membalas ucapan anak itu. Membenci ayahnya bukan berarti membenci anaknya. "Miss you too, Nona."


"Wah fisya hebat, bisa dapat mommy baru. Aku juga mau ah," kata salah seorang teman Fisya.


Nuri berpamitan pada guru yang menemani anak didiknya sampai jemputan datang. Saat berbalik Nuri harus berpapasan lagi dengan Alisa. "Ketemu lagi," ucap Nuri malas.


"OMG Nuri, ini anak hasil kamu diperkosa itu ya?" Alisa menutup mulutnya seolah dia sangat syok. Padahal orang biasa pun tahu kalau dia tengah pura-pura agar bisa mengerjai Nuri. "OMG, OMG, OMG aku tak percaya ini."


Nuri melengos tak ingin menanggapi si ulet bulu ini. Sayangnya Alisa seperti tidak senang kalau Nuri mengabaikannya. "Banyak sekali kebohongan yang kamu tutupi, Nuri. Oh atau dia bukan anak dari hasil pemerkosaan tapi hasil kerja kerasmu melayani gadun." Alisa tertawa begitu nyaring.


Nuri meminta Fisya ke dalam mobil lalu ia berbalik menghampiri Alisa yang masih tertawa. "Udah? Puas? Aku heran sama kamu, Al. Kamu yang merebut tapi kamu memposisikan aku seolah aku yang merebut. Hebat sekali kamu bermain. Kamu pantas mendapat award sebagai perempuan terjulid." Nuri menatap perut sahabat lamanya yang sekarang menjadi musuh. "Semoga anakmu lahir tanpa membawa sifat buruk ibunya."


Nuri hendak berbalik tapi sebuah tembakan dari pengendara motor sport membuatnya berhenti melelangkah. Semua orang yang ada di sana panik termasuk anak-anak. Bahkan dari mereka ada yang sampai menangis. Begitu juga Fisya yang melihat darah membasahi lengan mommy barunya. Untungnya peluru itu tak sampai mengenai organ vital tubuh Nuri.


"Mommy hu ... huu... huu." Ia kembali turun dari mobil dan berlari untuk memeluk mommy barunya. Dia tidak ingin merasakan kehilangan dan kesepian lagi.


Nuri meringis memegangi lengan kanannya. Hanya tergores tapi tetap saja sakit.


Pelaku sempat dikejar oleh satpam tapi krecepatanmotor sport dan matic tentunya beda jauh.


Nuri sendiri langsung di bawa ke uks sekolah. dan langsung mendapatkan penaganan mengingat tidak terlalu berbahaya.


Siapa orang itu? kenapa seperti mengincar Nuri.


***


Arsyan yang baru saja mendapatkan kabar dari pihak sekolah, ia langsung meninggalkan pekerjaannya.


"Jo, sepertinya penjahat itu mengincar istriku, atau mungkin anakku. Aku ingin kamu menemukan dia!" ucapnya pada seseorang diseberang sambung telepon.


Selama ini aku merasa tak pernah punya musuh. Kejadian kemarin aku anggap serangan salah sasaran. Tapi setelah dia menyerang Nuri di sekolah Fisya bukan tidak mungkin kalau mereka ada kaitannya denganku. Lihat saja aku pasti akan mendapatkanmu. Kau berani bermain-maain dengan keluargaku sama saja kau mencari ajal-mu.


"Daddy," teriak Fisya kala melihat ayahnya.


Pria itu langsung menghampiri Nuri yang sedang menunduk menahan ngilu kala lukanya tersnetuh oleh petugas uks.


"Sudah, semoga lekas sembuh mommy-nya Fisya." pertugas itu lalu menganggukan kepala pada Arsya. "Mari, Pak."


Arsyan mengangguk.


"Sakit?" Arsyan bermaksud untuk menunjukan perhatiannya. Tetapi Nuri menganggap ucapan Arsyan adalah sebuah ejekan.


"Enggak, enak sakali," jawab Nuri ketus. Perempuan memang sulit dimengerti. Salah sedikit baca bicara saja bisa jadi urusan panjang yang berjilid-jilid.


Fisya menarik celana yang dikenakan oleh daddynya lalu berbisik. "Daddy, cara bertanyanya salah. Harusnya sayang bagian mana yang sakit. Sini biat aku cium," ucapp Fisya mengingat ucapan temannya.


"Eh kok gitu?" Arsyan mntap putrinya penuh rasa heran. Siapa yang mengajarkan putrinya bicara seperti itu.


"Iya temanku selalu bilang gitu kalau aku jatuh dan hampir nangis."


Nuri mengamati dan memasang pendnwgaran dengan baik. Dia harus tahu apa yang dibicarakan ayah dan anak itu.


"Ayo daddy bilang begitu sama mommy!"


"Ok," Arsyan mendekat pada Nuri yang masih duduk di atas brangkar UKS. Pria itu mengacungkan hempolnya pada sanv putri. "Biar cepat sembuh, sini aku cium," ucapnya.


"Ini Fisya yang nyuruh kok," bisik Arysan. Ia ingin membuat posisi seperti tengah mencium istrinya agar Fisya senang. Sebenarnya dia ingin mencium istrinya sungguhan tapi dia yakin Nuri belum sepenuhnya nyaman bersama dirinya.


Apalagi jika mengingat sikap Nuri. Menurutmu terlalu cepat kalau Nuri berubah hanya dalam hitungan jam. Entah jin apa yang merasukinya.


"Yeeeeeaaaayy, sembuh kan, mommy?"


"I-i-iya sembuh. Tapi siapa yang ngajarin Fisya bicara seperti itu?"


"Temanku, Berarti temanku pintar ya. Nanti aku juga mau bilang seperti itu ah."


"Eh," ucap Arsyan dan Nuri bersamaan.


"Mau di gendong?" Arsyan menawarkan saat mereka hendak pulang. Tapi Nuri melotot lebih dulu sedetik kemudian merubah ekspresinya saat menyadari Fisya tengah menatap mereka.


"Enggak ah, udah besar kok. Lagi pula aku kan kuat."


"Iya mami hebat dan kuat. Kena peluruh aja gak meninggal. Aku mau seperti mommy dong."


"Iya nanti belajar bela diri ya," ujar Arsyan.


"Bela diri kan kalau berantem daddy. Ish daddy dalah mulu. Gak asyik."


Nah kan anak kecil saja mengatakan dirinya selalu salah. Bagaimana dengan perempuan dewasa.


Mereka pulang menggunakan mobil Arsyan, sementara mobil Nuri di bawa oleh orang yang diperintah oleh Arsyan. Fisya dan Nuri duduk di kabin tengah sedangkan Arsyan duduk sendiri di kabin depan. Dia seperti sopir pribadi nyonya dan nona.


Nasib.


Di dalam mobil Nuri lebih banyak menanggapi obrolan Fisya ketimbang suaminya. Dia hanya memberikan jawaban singkat saat Arsyan bertanya.


"Langsung pulang?"


"Hmm..."


"Gak mau mampir dulu, kita makan siang di luar?" tawar Arsyan.


"Di rumah saja."


Fisya keheranan melihat sikap kedua orang tuanya. Dia menggaruk pipi karena tak paham dengan pemikiran orang-orang dewasa itu.


Arsyan memilih tak bertanya lagi. Dia memikirkan cara untuk mendapatkan orang yang telah melakukan istrinya. Oh Allah dia lupa memeriksa CCTV sekolah. Mau bertanya pada Nuri tentang nomor polisi motor si penembak takut dijawab singkat lagi. Itu tidak mengahsilakan apa pun.


Irsya?


Hanah?


Akmal?


Atau musuh istrinya? Oh iya kah? Apa itu mungkin?.


Arsyan melirik Nuri yang asyik berbincang bersama Fisya. Perempuan itu begitu antusian menanggapi cerita Fisya.


Merasa dirinya diperhatikan, ia pun mengangkat wajahnya. Arsyan gegas memalingkan wajah, dia pura-pura bersiul dan sesekali menyugar rambutnya.


Nuri mencebikkan bibir melihat tingkah suaminya.


So ganteng amat. Duh itu tingkat PD nya kok selangit ya. Hey permainan belum selesai. Tunggu sampai di rumah.