
Andai meratap akan menyelesaikan masalah, tentu kebanyakan orang akan memilih hal itu. Sayangnya ratapan saja tidak menyelesaikan masalah kalau tidak ada tindakan.
Ditengah menemani sang istri menjalani tahap-tahap pengobatan, Arsyan memulai aksi untuk membuat Naima jera.
Kabar tentang perusahaan pak Robi yang sahamnya ditarik oleh beberapa investor, setidaknya membuat Arsyan merasakan sedikit lega.
Selain itu, ia juga memasukan salah satu orang pilihannya untuk bisa bekerja di gedung apartemen yang sempat di datangi oleh pak Robi dan istrinya. Selain untuk memastikan bahwa yang tinggal di sana adalah Naima, dia juga ingin orang itu mendapatkan informasi pekerjaan apa saja yang mantan istrinya geluti. Dia harus tahu dari mana sumber pendapatan Naima.
Ditengah kesibukannya, setiap pagi Arsyan akan mengirimkan buket bunga untuk sang istri. Setiap sore dia akan datang menjenguk meski hanya bisa menatap lewat kaca.
"Tanpamu aku seperti tubuh tanpa tenaga. Tak perlu khawatir aku berpaling, kamu adakah tujuan tempatku kupulang."
Sudah satu minggu keadaan Nuri belum juga membaik. Dia selalu menampakan ketakutan saat bertemu laki-laki.
Saat dibangunkan pun Nuri selalu kaget. Mengira orang yang membangunkannya adalah orang jahat. Begitu dasyatnya kekuatan lidah yang tak bertulang. Memporakporandakan mental.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Arsyan saat dokter baru selesai memeriksa keadaan Nuri.
"Alhamdulillah sedikit demi sedikit ada perubahan pada kondisi istri anda. Tapi dia masih selalu kaget saat dibangunkan untuk makan. Dia sudah tak terlalu histeris saat ada yang menghampirinya."
"Butuh berapa lama lagi untuk bisa pulih seperti sebelumnya?"
"Tergantung kesiapan mental Bu Nuri sendiri. Kita tidak bisa memaksakannya."
Arsyan mengangguk kemudian pamit. Sejak pertengkaran dengan Hamzah dia tidak lagi pulang ke rumah Nuri. Dia pulang ke rumah yang pernah dia beli atas nama Nuri.
Ditatapnya poto Nuri yang tengah tersenyum. Dipeluk hingga dia menjemput lelap. "Sembuhlah, kita akan berkumpul bersama di rumah ini untuk membangun keluarga kita. Keluarga yang akan saling menguatkan.
***
Pak Robi murka saat mengetahui beberapa investor menarik saham di perusahaannya. Kepalan tangan begitu kuat seoalah dia siap melayangkan tinju pada musuhnya. Siapa lagi kalau bukan Arsyan.
Dia menghubungi Naima dan sempat memakainya. "Dasar anak tolol, gara-gara kamu bertindak ceroboh, keluarga Arsyan menarik sahamnya dari perusahaan kita."
"Bukan aku yang tolol tapi papa yang gak cerdas," balas Naima dari seberang sambungan telepon.
Pak Robi semakin murka, untung saja dia tak sampai merusak barang di sekitarnya.
Pintu mobil langsung ia banting saat sudah trun dari mobil. Isyrinya kaget karena pulang-pulang suaminya dalam keadaan marah. Dia tidak berani mendekat tak ingin kena imbasnya.
***
Subuh-subuh Arsyan sudah bangun. Di rumahnya barunya ia belum menyiapkan pekerja. Otomatis segela kebutuhannya harus dia sendiri yang menyiapkan.
Setelah dirinya rapi mengenakan setelan untuk kerja, dia memilih berangkat dan tidak sarapan di rumah. Tak lupa dia mampir ke toko bunga.
Saat tiba di rumah sakit, dia melihat Nuri sedang duduk menatap ke luar. Ingin menghampiri tapi tak ingin Nuri merasa terganggu. Akhirnya dia hanya menatap lewat kaca.
Nuri menoleh, dia tersenyum melihat suaminya. Dia bangkit dan menghampiri. Saling menatap, menyalurkan rindu yang terhalang jendela kaca.
Suster yang tadi merapihkan tempat tidur Nuri menoleh lalu menghampiri. "Dia suami Anda, Bu Nuri. Apa anda ingin menemuinya?"
Hening.
"Ya!"
Suster membukakan pintu untuk Arsyan dan memberi tahu kalau Nuri siap bertemu dengannya.
"Benarkah?" tanpa meninggalkan Arstan segera masuk dan langsung memeluk Nuri. "Akhirnya. Terimakasih sudah tidak takut lagi padaku."
Dua raga yang sejatinya saling merindukan itu berpelukan erat. Tak ada yang ingin mengurai pelukan untuk beberapa saat.
"Arsyan?"
"Iya ini aku Arsyan, suamimu. Aku di sini, aku menjagamu, merindukanmu setiap saat."
Nuri memindai sekitar, tak dipungkiri rasa khawatir akan selalu dikelilingi orang-orang jahat itu selalu ada.
"Hei! Lihat aku! Mereka tidak di sini, kamu aman," kata Arsyan meyakinkan.
"Aku ... aku rindu rumah," ujar Nuri memainkan tangannya.
"Kita akan pulang, aku akan tanyakan lebih dulu pada dokter. Tunggu sebentar!"
Arsyan langsung menemui dokter yang baru masuk dan mendaratkan bobot tubuhnya pada kursi. Mengetuk pintu lebih dulu baru setelah dipersilahkan Arsyan masuk.
"Silahkan duduk!"
"Terima kasih, Dok. Kapan istri saya bisa dibawa pulang?"
"Apa sudah tak kuat lagi menahan?" canda Dokter, "saya akan pastikan lebih dulu keadaan juga kesiapan pasien sendiri."
Arsyan terkekeh mendengar candaan yang dilontarkan oleh Dokter. Dia tidak tersinggung. "Tadi dia mengatakan rindu rumah saat saya menemuinya."
"Jika pasien inginnya begitu, kita bisa mengikuti keinginannya. Siapa tahu dengan begitu akan membantu pemulihannya. Suasana rumah yang aman dan nyaman, serta keluarga yang hangat memiliki andil untuk kesembuhan seseorang yang mengalami hal serupa."
"Terima kasih, Dok."
Hari ini Arsyan selalu melukis senyum paripurna. Pekerjaan hari ini sepertinya akan terasa ringan, dengan adanya kabar yang membahagiakan. Nuri akan pulang nanti sore, dia sendiri yang akan menjeputnya.
"Aku akan menjemputmu setelah pekerjaanku selesai. Kita akan pulang dan berkumpul lagi."
Nuri mengangguk pun dengan senyum yang tak pernah pudar. Sekali lagi mereka berpelukan sebelum berpisah untuk bertemu lagi.
Arsyan mengabarkan kabar bahagia ini pada keluarganya juga pada keluarga istrinya. Mereka akan menyambut kedatangan Nuri.
Rasanya genggaman tangan itu tak ingin lepas, tapi agenda pekerjaan hari ini tidak bisa Arsyan batalkan begitu saja. Arsyan bukan tipe seorang atasan yang suka membuat sekertarisnya kelimpungan mengatur ulang jadwal untuk dirinya.
Pembangunan bisnis yang Arsyan punya mulai melebar. Ya dia butuh kekuasaan untuk menumbangkan lawan. Apa lagi dia juga mendapat kabar bahwa Naima ternyata bekerja sama dengan salah satu perusahaan besar.
Minimal harus seimbang.
Tak terasa hari sudah sore, Arsyan kembali mengirim pesan pada keluarganya kalau ia akan menjemput Nuri. Tak lupa dia juga menyiapkan buket bunga juga paper bag berisi hadiah untuk Nuri.
Keluarga Nuri juga keluarga Arsyan bekerja sama menyiapkan penyambutan untuk kepulangan Nuri. Sajian makanan kesukaan Nuri tak lupa dihidangkan. Mereka bersuka cita atas kabar bahagia ini.
Fisya dan Naura sudah mandi dan didandani secantik mungkin. Karena Nuri paling senang dengan anak-anak.
"Mommy pulang hari ini?" tanya Fisya mendongak pada Fitri yang tengah merapihkan rambutnya.
"Iya, makanya sambut mommy dengan senyum, menjakan pandangan mommy dengan kecantikanmu. Agar mommy lekas sembuh dan Fisya bisa belajar lagi dengannya."
"Ok, mommy Naura, dadani aku yang cantik ya!" pintanya.
Fitri gemas dengan tingkah Fisya, sehingga dia menguyel-uyel pipi gadis kecil itu. Andai mereka mengetahui kebenaran tentang Fisya, akankah mereka menyayanginya sepeti saat ini?
***
"Bunga untuk siapa?" tanya Nuri setelah mereka masuk ke dalam mobil. Sebelumnya Arsyan juga menyelesaikan administrasi rumah sakit lebih dulu atas nama istrinya.
Arsyan menoleh ke kabin tengah, dia menepuk jeningnya karena terlalu bahagia hingga melupakan hadiah untuk sang istri. Dia meraihnya.
"Untuk istriku," jawab Arsyan dan menyodorkan bunga serta paper bag-nya.
Nuri mengirup aroma bunga kesuakaannya. Sungguh menenangkan. "Boleh dibuka?" Menunjuk pada paper bag yang ada di pangkuannya.
"Tentu, buka saja!" balas Arsyan tersenyum manis.
Seperangkat perhiasan memanjakan pandangan Nuri saat kotak dalam paper bag itu dibuka. "Ini?"
Arsyan mengangguk, meyakinkan kalau itu memang untuk Nuri.
"Pasti mahal." Jiwa miskin Nuri tiba-tiba muncul. Maklum saja dia bukan orang yang saat lahir sudah bergelimangan harta.
Arsyan menggenggam tangan Nuri. "Kamu lebih mahal dibandingkan perhiasan ini. Mau aku bantu pakaian?"
"Nanti saja di rumah."
"Di kamar?" tanya Arsyan.
Nuri menyipitkan mata lalu memalingkan wajah. Ada rasa rindu dalam hatinya untuk lelaki di sampingnya. Sayangnya dia masih enggan mengakui perasaanya secara terang-terangan.
Satu pesan muncul pada layar ponsel milik Arsyan. (Seseorang sedang mengintai anda. Hindari jalanan yang sepi.)
Arsyan memperhatikan sekitar sebelum melakukan mobilnya.