
"Daddy," teriak Fisya sambil berlari.
Arsyan merentangkan tangan menyambut kedatangan putrinya. "Happy?" tanya Arsyan sambil membawa anaknya masuk ke dalam mobil.
"Happy, aku punya banyak teman baru, Dad. Mereka baik-baik semua. Tadi akuaku jiga berbagi makanan sama mereka." Fisya bercerita begitu antusias.
"Oh ya, seru sekali."
"Iya. Hmm, daddy?"
"Ya sayang?" Arsyan menoleh sebentar.
"Kita jadi pulang ke rumah Daddy?"
"Tentu dong. Di rumah itu Daddy sudah siaakan semua keperluan kamu."
"Bajuku masih di rumah Opa, Dad."
"Kita ambil sekarang."
Mobil melaju menuju tempat tinggal orang tuanya. Selain untuk mengambil apa yang dikatakan oleh Fisya, Ia juga hendak menitiokan Fisya sampai dia kembali.
"Omaaaaa,"
"Cucuku." Mama memenyambut Fisya dengankecuoan sayang.
"Kita mau ambil bajuku Oma,"
"Iya, ayo masuk." Mama masih bersikap dingin pada Arsyan. "Ganti baji dulu ya! Oma siapkan makan siangnya."
"Aku tau mama kecewa, aku tidak masalah diperlakukan seperti ini karena memang pantas. Aku mau titip Fisya sampai sore. Aku akan menemui orang tua Nuri untuk bertanggung jawab atas aoa yang aku buat. Kalau nanti aku gak kembali tolong titip Fisya selamanya."
Tidak asa yang pernah tau apa yang akan terjadi berikutnya. Arsyan mengatakan demikian untuk berjaga-jaga. Bisa saja nanti ayahnya Nuri murka dan menyeretnya ke kantor polisi atau bahan mungkin dari itu. Menembaknya misal.
"Pergilah, mama akan menjaga Fisya!"
***
Gerimis yang turun tak menurutku niat Arsyan. Lelaki itu sudah sampai di kediaman Nuri.
"Pak ada tamu," ujar pembantu pada papa dan yang tengah mengenai masalah berasama mama.
"Siapa, Bi?"
"Tamu itu tidak menagtakan namanya tapi dia memaksa ingin bertemu dengan bapak."
"Saya akan turun ... mama mau ikut?"
"Ikutlah," jawab mama cepat dan bergegas bangun dari duduk.
Papa menatap tajam pada tamu yang datang. Yang ditatap terlihat tak gebetan sama sekali, ia malah tersenyum melihat kedua orang tua Nuri.
"Apa tujuanmu datang kemari?" tanya papa. Wajanya tak menunjukan senyum ramah sama sekali.
"Saya Arsyan, Nuri pasti sudah memberitahu bapak dan ibi tentang saya. Saya adalah lelaki pegecut yang sudah menosai putri kalian. Kedatangan saya ke sini karean ingin bertanggung jawab atas kesalahan saya."
"Brengsek, kurang ajar, sialan, banci, pengecut." Makan dari papa mengiringi setiap pukulan yang mendarat di tubuh Arsyan.
"Papa," pekik Nuri yang melihat kejadian itu. Nuri mendekat dan melihat tangan papa berdarah. Dia mengambil tisu lalu membersihkan darah ditanya papa. "Aku tidak ingin tangan papa kotor seperti ini lagi." Nuri menoleh pada Arsyan.
"Nuri, Aku datang ke sini untuk memp.ertanggung jawabkan kesalahanku padamu."
"Bergantung jawab seperti apa yang kamu maksud. Terlambat. Kalau kamu ingin bertanggung jawab seharusnya kamu lakukan itu lima tahun yang lalu. Bukan sekarang. Tapi apa, setelah kejadian itu kamu lari terbirit bahkan bersembunyi dibalik kata ingin melanjutkan pendidikan." Nuri tertawa "Padahal kamu tahu betul saat itu aku pasti butuh pertanggung jawaban darimu. Mentalku hancur, harga diriku hilang, menangis sepanjang hari dan tak berhenti mengutuk serta menyalahkan diri sendiri. Sekarang aku gak butuh tanggung jawab dalam bentuk apapun darimu. Aku sudah sembuh, mentalku sehat."
"Nuri tolong, aku selalu diikuti perasan bersalah padamu. Tolong maafkan aku."
"Itu resiko-mu. Nikmati saja apa yang kamu tanam."
"Nuri please. Aku tau apa yang aku lakukan memang salah beri aku kesempatan untuk bertanggung jawab."
"Katakan dengan jelas tanggung jawab yang kamu maksud!"
"Aku akan menikahimu Nuri."
Tawa keras Nuri menggema dia dalam ruangan yang berisi empat orang itu. "Nikah? ha hahaha. Awpertinya salah sati syaraf dalam ofakmu itu konslet. Nimakti saja rasa bersalahmu itu sampai perlahan menggerogoti kewarasannu."
Arsyan mengangkat kepala dan menatap Nuri. Nyri sempat memalingkan wajah tapi kembali menatap dengan tenang. "Katakan bagai mana cara aku menembus kesalahan padamu? Mari kita menikah."
Lagi Nuri tertawa. "Hancur, hancur. Pergilah! jangan mengharapkan kata maaf dariku. Apalagi berharap ada pernikahan itu terlalu jauh."
Sekarang dia benar-benar berbeda. Pantas aku selalu menginginkannya. Nuri aku belum menjalankan strategiku.
Seringai Arsyan membuat Nuri bergidik ngeri. "Kata maaf itu memang tidak kudapatkan sekarang. Tapi aku akan mendapatkannya di lain waktu."
"Begitu?" tanya mama yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka.
"Saya tidak langsung menyeretmu ke penjara karena Nuri yang melarang. Dia bukan bersikap baik padamu, tapi dia mempertimbangkan keadaan putrimu jika tau ayahnya seorang penjahat."
Arsyan mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Pak Amran. Nuri memikirkan perasaan putrinya.
"Menjauhlah dari hidupuku. Jangan kacaukan hidupku lagi dwngan kehadiramy tang konyol itu."
"Tidak, Nuri. Karena aku mencintaimu sejak dulu."
Satu pukulan kembali melayang. "Cinta? Bodoh. Mana ada cinta yang merusak. Pergi!" Papa menunjuk pintu tapi Arsyan masih bergeming. Dia masih menatap Nuri. Berharap hati perempuan itu akan goyah. Sayangnya Nuri hanya memalingkan wajah.
"Nuri aku pergi untuk kembali," ucap Arsyan kemudian bangkit dan menibggalkan rumah itu. Dia kembali menoleh pada Nuri yang bersikap acuh. Kata-kata cinta tak malu menyentuh hati perempuan itu.
"Aku ke kamar ma," pamit Nuri selepas kepergian Arsyan.
"Kamu hebat sayang," puji mama seraya memeluk Nuri yang pamit ke kamar.
***
Dari jendela kamar, Nuri masih biaa melihat mobil Arsyan di bawah guyuran hujan.
"Sakit," desis Nuri.
Arsyan sendiri mmbisa meliha bayangan Nuri di balik jendela. Dia tersenyum bersama rasa sesal yang kian menggunung.