
Satu munggu sudah pernikahan Arsyan dan Nuri. Mereka tampak akur di luar tapi entah di dalam. Sampai satu minggu keluarga Arsyan belum ada yang diberi tahu.
Berhubung hari ini hari minggu, Fisya berceloteh ria menyebutkan satu persatu tempat yang ingin dikunjunginya.Dimulai dari arena bermain, taman kota, juga perternakan sapi perah di Pangalengan.
"Taman kota sama tempat perternakan sapi itu jauh sayang. Kita punya waktu hanya satu hari mana bisa berkunjung ke tuga tempat yang lokasinya berjauhan. Kita ke taman kota aja ya," ujar Arsyan.
"Yah padahal aku ingin bercerita juga seperti teman-temanku yang minum susu murni langsung di tempat."
"Lain kali aja ya. Nanti daddy ajak kamu sama mommy ke sana. Iya kan, My?"
"Iya, nantinkalau ada waktu kuang atau pas Fisya liburan sekolah ya," jawab Nuri. Perempuan ity baru beres menguncir rambut Fisya. "Cantik," pujinya.
"Jadi hari ini kita ke mana?" tanya Fisya menatap berganti pada orang tuanya.
"Terserah kamu, mau taman kota atau arena bermain?"
"Emmmhh arena bermain aja deh."
Mereka pun pergi menggunakan mobil Arsyan. Kali ini Nuri tak lagi duduk di kabin tengah. Melainkan duduk di kabin penumpang sebelah Arsyan. Naura tidak ikut karena tidak ingin di tinggal oleh orang tuanya yang hendak berkunjung ke rumah neneknya
Wajah Fisya selalu menampilan senyum bahagia karena bisa jalan-jalan ditemani kedua orang tuanya. Biasanya dia hanya pergi ke arena bermain ditemani oleh pengasuh saja.
Nuri hanya mengawasi saja dan tak ikut bermain. Lagi, sikap Arsyan pada Fisya selalu membuat Nuri kagum. Sebagai seorang istri tentu yang dia bayangkan adalah kelembutan sikap suaminya. Sayangnya dia tidak ingin Arsyan mengetahui itu.
Satu minggu berjalan tanpa teror, mungkin mereka yang memilki niat jahat pada keluarga kecil Nuri sudah taubat atau mungkin tengah mundur untuk melangkah lebih jauh.
Selesai menemani Fisya bermain, mereka lantas memilih makan siang di salah satu good court. Setelahnya mereka memilih turun ke swalayan untuk membeli beberapa kebutuhan dapur.
Arsyan mendorong troli sedangkan Nuri berjalan di depan dan mengambil apa yang di butuhkan.
"Aku ke sebelah sana dulu ya," pamit Arsyan pada Nuri. Lelaki itu berjalan ke deretan pernak-pernik kebutuhan pria. Di tempat kebutuhan pria Arsyan bertemu dengan seorang perempuan. "Naifa?" sapa Arsyan pada perempuan yang pernah menjadi adik iparnya.
Perempuan itu menoleh, tapi wajahnya terlihat gugup. "Kak Arsyan?"
"Lama kita tidak bertemu? kamu apa kabar?"
"Ba-baik, Kak."
Arsyan memperhatikan Naifa dari atas kepala hinggs ujung kaki. Jelas sekali kalau perempuan muda yang tengah berdiri tak jauh darinya tengah merasakan gugup. Tapi kenapa?
Kenapa dia terlihat gugup sekali. Aku kan bukan hantu. **Apa m**ungkin dia tahu tentang aku pada Nuri dari Naima, sehingga dia seperti itu padaku.
"Daddy," teriak Fisya. Saat Arsyan menoleh, saat itu juga Naifa pergi. Aneh bahkan perempuan itu tidak menanyakan kabar keponakannya sama sekali.
"Kenapa?"
"Lihat! mommy kesusahan tapi daddy malah di sini sama perempuan," sungut Fisya. Dia kesal karena melihat Nuri mendorong troli sendiri sedangkan daddynya ternyata di sini.
"Eh, Daddy tadi mau ambil kebutuhan daddy, bukan sengaja menemui perempuan." Arsyan salah tingkah saat Nuri juga tengah menatapnya. "Nuri ... aku gak menemui perempuan kok."
"Ya terserah memangnya kamu berpikir apa? Aku cemburu gitu?"
Arsyan menggaruk bagian bagian yang tak gatal. Kata ajaib perempuan itu terserah, yang menjadikan serba salah.
Arsyan sudah bosss diabaikan oleh kedua perempuan itu. Apalagi kalau lagi jalan seperti ini.
"Mommy, aku boleh makan eskrim gak?" tanya Fisya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Eh apa?" tanya Arsyan yang tak fokus karena sedang membaca pesan dari Jo.
"Gak jadi." Nuri berbalik lalu mesan dua.
Nuri selalu mengajarkan agarbsetiap makan dan minum Fisya harus duduk. Anak dan ibu sambung itu asyik bercengkrama sambil menikmati eskrim, sedanngkan Arsyan hanya mengamati saja.
"Daddy mau?" Fisya menawarkan.
"Makan aja, ini untuk Fisya. Gak usah ditawar-tawar ke yang kain ya," ucap Nuri.
Oh Arsyan paham sekarang. Baiklah ini hanya akan terjadi satu kali. Lain kali dia akan meanfaaykan momen seperti ini lagi agar bisa lebih dekat dengan Nuri.
"Nuri!" Seseorang terdengar memanggil Nuri. Sayangnya tubuh besar Arsyan mengahalangi pandangan Nuri. Lelaki itu sepeti sengaja. Bahkan mengikuti gerak kepala Nuri.
"Ih ...." Nuri melotot.
"Mommy masih kesel ya sama daddy gara-gara tadi daddy sama perempuan?" celetuk Fisya. Arsyan mengulun senyum mendengarkan ucapan putrinya. Itu berarti istrinya tengah cemburu.
"Eng-enggak. Ah Fisya mah seperti para normal aja," kilah Nuri. Bahkan dia memalingkan wajah karena tak ingin melihat wajah Arsyan yang tengah tersenyum seperti mengejek.
Meja mereka digebrak oleh Via yang datang dengan nafas tersenggal. Membuat Arsyan, Nuri dan Fisya kaget. Eskrim Fisya sampai jatuh mengenai pakaiannya.
"Gila, ya kamu. Budeg amat aku panggil-panggil." Via menggeruru nafasnya masih belum teratur. "Eh ini kok ? Kak Arsyan? Kalian?"
"Kamu kenal sama Nuri, Vi?" tanya Arsyan.
Vis langsung menarik kursi kemudian duduk. Rasa penasaran tak bisa hilang dari wajahnya. "Aku jelas kenal sama Nuri. Lah kak Arsyan sendiri?" Via menoleh pada Nuri, "kok kamu gak pernah cerita sama aku sih?"
"Mommy bajuku kotor." Fisya menunjuk pakiannya yang terkena eskrim.
"Mommy?" tanya Via lagi, "ok aku butuh penjelasan dari kalian."
Nuri dan Arsya saling bertanya melalui tatapan mereka. Sampai akhirnya Arsyan memilih untu bercerita. "Jadi ...." Mengalirlah cerita tentang mereka. Arsyan menceritakan secara gamblang tapi tentang malam nahas yang dialami Nuri dia tak menceritakannya.
Via bahkan membekap mulutnya karena tak percaya dengan pernikahan dadakan mereka. "Om sama tante belum ada yang tahu?"
Arsyan mengedikkan bahu.
"Aku kira kamu bakal menikah dengan salah satu di antara Akmal dan mas Irsya."
Nuri nyengir menampakan deretan giginya yang rapi.
"Ya gak bisa kalau bukan jodohnya, Vi." Arsyan yang menjawab.
"Gak mungkin kalian nikah dadakan kalau gak saling kenal lebih dulu. Kamu memaksa Nuri ya ,A?"
"Sembarangan. Mana ada memaksa, iya kan Nuri?"
Nuri hanya berdehem membuat Via memukulkan tasnya pada Arsyan. Arsya mengaduh. "Lihat Nuri aja gak mau jawab. A kamu tuj kurang asem banget ya nikahin sahabat aku tanpa aku dan keluarga Aa tau. Kampret banget gak sih."
"Sudahlah, Vi. Kan sudah terjadi, ya maaf kalau kamu gak dikasih tau." Araya lebih banyak bicara ketimbang Nuri.
Via mendengus, tangannya mencolek eskrim milik Fisya membuat pemiliknya protes. Pada akhirnya mereka tertawa bersama.
"Lihat aja kamu, A." Via mendelik pada Arsyan lalu pada Nuri.