
Meski perasaannya diselimuti gundah, Arsyan tetap bekerja dan tak menujukan sikapnya. Siang nanti dia akan menemui Jo tentunya dengan harapan yang sangat kuat.
Pintu diketuk.
"Ya?"
"Sebelum makan siang kita ada pertemuan dengan Bu Sarah, Pak."
"Oh iya, saya lupa. Baiklah ayo berangkat."
Pertemuan Arsyan dengan rekan bisnisnya yang bernama Sarah dimanfaatkan oleh si peneror. Mengambil beberapa gambar Arsyan dari sisi yang mungkin membuat Nuri akan cemburu.
Mereka ingin menghancurkan Nuri dan Arsyan.
Nuri menerima paket lagi yang dibawa oleh Nia dan ternyata isinya foto suaminya yang tengah makan di sebuah kafe.
"Siapa yang kirim paket ini, Ni?"
"Kuri biasa, Teh. Apa ada masalah?"
"Oh tidak."
Nia pamit kembali ke tempat kerjanya. Nuri menatap foto yang dikirim oleh orang misterius itu.
Sekarang Nuri paham tujuan peneror itu. Mereka ingin menghancurkan dirinya juga Arsyan. Entah apa masalah yang pernah dia buat sehingga ada orang yang begitu niat rencanakan segala hal.
"Ok, sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan."
Nuri pun menghubungi nomor suaminya.
Arsyan menatap layar ponselnya. Dia bahagia bukan main, sebab baru pertama kalinya Nuri menghubungi setelah menjadi istrinya.
"Halo, Nuri ada apa? Semua baik-baik saja?" Dia pura-pura panik.
"Hmm. Aku menerima paket misterius lagi."
Sial. Orang itu benar-benar menguji kesabaranku.
"Lagi?"
"Iya sebelumnya aku juga pernah dapat kiriman bunga misterius. Dan sekarang aku dapat paket berisi Foto."
"Kamu di mana sekarang? Jangan jemput Fisya, biar aku saja."
"Baiklah. Aku tutup ya."
Kamu ingin kehancuran atas aku dan Ars tapi aku akan membuat yang sebaliknya.
***
Masih asa waktu setelah makan siang dengan klien untuk menemui Jo. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena tak sabar ingin mendapat kabar baik dari Jo.
Sampai di tempat Jo, Ars langsung masuk. Penjaga keamanan sudah hafal lagi siapa dirinya.
"Ku pikir kau tidak akan datang brother." Jo memutar kursi yang di dudukinya.
Arsyan membuat nafas lebih dulu. "Aku baru saja selesai menemui klien untuk usaha baru. Jadi kabar apa yang akan aku dengan siang ini?"
"Naima."
"Naima?" Arsyan megerutkan kening sesaat. "Kenapa harus Naima yang kamu sebut. Dia sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena tenggelam."
"Yakin dia benar-benar meninggal. Jasadnya?" Jo memang sangat dingin. Hanya Arsyan teman yang paling dekat dengan dirinya. Meskipun dekat tapi Arsyan bahkan tidak mengetahui secara jelas kehidupan temanmu yang satu ini.
"Tidak, Tim SAR tidak berhasil menemukan jasadnya."
Jo tersenyum kecil mendengar jawaban Arsyan. "Dia ada di Indonesia," ujar Jo dan memberikan beberapa foto berisi seorang perempuan yang sangat mirip dengan Naima.
"Ini benar dia?" Arsyan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Iya, dia ada di sekitar kamu. Kamu perhatikan sekali lagi foto yang pernah aku kirim. Perhatikan baik-baik."
Arsyan membuka ponselnya dan memungkinkan foto itu dengan yang ada di genggamannya.
Ternyata dia belum merasa cukup dengan memaksaku untuk menikahinya. Naima.
"Dia bekerja sama dengan perempuan yang pernah dekat dengan istrimu. Yang jelas keinginan mereka sama. Menghancurkan kamu dengan istrimu."
Mereka paham kondisi Nuri. Apalagi Naima sempat mendengar penagakuan Arsyan tentang kejahatannya pada Nuri.
Nuri sempat memilki trauma, tentu menikah dengan pelaku pemerkosa akan semakin menambah beban mentalnya. Mereka berharap Nuri akan menjadi gila. Berkaitan dengan Arsyan, lelaki itu akan semakin tersiksa oleh rasa bersalahnya andai melihat Nuri yang tidak waras. Sungguh menyenangkan bagi mereka.
"Aku gak percaya Naima senekad ini. Bahkan dia harus pura-pura tenggelam."
"Kamu pernah mengatakan kalau orang terobsesi maka dia akan melakukan segala cara untuk mencapai keinginannya. Andai mereka tidak mendapatkannya tentu tidak boleh ada orang lain yang mendapatkannya. Maka cara salah satu-satunya yang mereka pilih adalah hancur bersama."
"Ya aku kadang lupa dengan kata-kataku sendiri," kekeh Arsyan. "Aku harus menjemput putriku. Ah lebih tepatnya putri Naima."
"Ok sampai bertemu lagi."
Arsyan segera menjemput Naima dan ingin segera menemui Nuri. Dia harus membicarakan ini. Nuri harus tahu.
Senyum polos Fisya selalu menghadrikan rasa iba pada Arsyan. Dia berusaha memberikan limpahan kasih sayang pada anak itu. Agar kelak ketika Fisya menyadari fakta yang sebenarnya anak itu tidak akan terlalu kecewa. Merasa hancur? pasti. Akan tetapi Arsyan yakin anak yang tumbuh di keluaraga yang hangat dan penuh kasih sayang tidak akan terlalu jauh saat menyimpang. Dia pasti tahu kemana jalan pulang.
"Mommy," teriak Fisya saat sudah sampai di rumah. Arsyan menyusul di belakangnya.
Nuri yang tengah berbicara dengan pak Hanif dan Nia pun menoleh dan tersenyum. "Tunggu sebentar, mommy selesaikan dulu pekerjaan mommy ya."
"Baiklah aku akan mengganti pakaianku lebih dulu," jawab Fisya berbalik arah dengan gaya riangnya.
"Sudah selesai?" tanya Aryan saat Nuri menghampirinya.
"Sudah, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Tentu, ayo."
Mereka memilih rooftop untuk membicarakan hal ini. Tidak ingin ada anggota keluarganya yang mengetahui tentang teror itu.
Duduk berharap hanya terhalang meja bundar.
"Kamu dulu atau aku dulu?" tanya Nuri.
"Biasanya perempuan selalu lebih dulu, tapi kali ini aku yang ingin lebih dulu," ucap Arsyan dengan senyum penuh maksud.
"Urusan ranjang?"
Arsyan tertawa, "bukan. Tapi kalau kamu ingin ya ayo."
Nuri mendelik tak suka.
Arysann berdehem dan membenarkan posisi duduknya. Dia tatap perempuan dihadaoannya yang kini statusnya sepeti apa yang dia mau.
"Aku tahu pelaku teror itu siapa. Dia Naima, ibunya Fisya," ujar Arsyan langsung menjawab eksperi penasaran yang tampak di wajah Nuri.
"Benarkah? Bukannya katamu dia sudah ...."
"Dia memang gila. Ide nya ekstrim."
"Dia tadi mengirim foto ini. Aku mulai paham tujuan dia. Dia ingin mengadu domba kita. Membuat kita menikah, mengadu domba, perceraian, lalu saling membenci. Atau mungkin berharap kita saling membunuh."
"Ya pikiran kita sama."
"Aku sudah tau solusinya." Nuri menatap suaminya lalu tersenyum. "Kita harus harmonis, saling menyayangi dan saling mencintai. Selalu bersama dalam keadaan apa pun."
"Wow, brilian," ucap Arsyan. Wajahmu menampakan binar bahagia.
"Aku tahu kamu pasti menyetujuinya. Itukan keinginan kamu," kekeh Nuri.
Arsyan semakin tertawa. Nuri sungguh memahaminya. "Oh itu jelas aku menginginkannya. Aku sudah mengatakan hal itu bukan?"
Nuri menjawab dengan mengedikan bahu.
"Jadi?"
"Gak usah mesum, masih siang."
"Berarti nanti malam boleh?"
Rona merah di pipi Nuri muncul, wajahnya tiba-tiba terasa hangat.
"Ya apa tidak?" tanya Arysan lagi.