Nuri

Nuri
Bab 14



"Mama kebawah ya," Nuri mengguk. Sedangkan papa masih di sana kemudian duduk di dekat Nuri.


"Menangislah beri apresiasi pada kesedihan. Setelahnya jangan lupa kembali bangkit. Anggap ini ujianmu untuk meningkatkan keimanan."


"Sekarang orang-orang tahu kalau aku iti kotor, Pa." Nuri terisak.


"Enggak sayang. Secara medis kamu memang kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tapi secara agama perempuan yang direnggut paksa kesuciannya ia dianggap tetap suci," ujar papa membesarkan hati sang anak.


Papa mengusap puncak kepala sang anak. Sebagai orang tua pada umumnya, fakta ini sungguh mengejutkan.


"Mau turun bareng ke bawah?" Nuri menggelengkan kepala. "Ya sudah papa turun dulu."


Papa pun meninggalkan kamar Nuri. Di bawah Nia sedang bicara sama mama. Melaporkan beberapa orang yang bekerja sama dengan mereka membatalkan kerja sama itu.


Kalau dipikir pikir, masalah Nuri tidak berkaitan dengan pekerjaan. Tapi mereka-merka justru menyangkut pautkannya. Benar-benar jauh dari kata bijak. Padahal Nuri sendiri adalah korban. Korban ruda paksa juga pencemaran nama baik.


"Gak papa, Ni mungkin ini buka rezeki kita," kata papa yang mendengarkan obrolan mereka.


"Iya, Pak. Saya turut prihatin atas apa yang dialami Teteh. Ternyata di balik sikap tegasnya ia menyimpan luka."


"Doakan ya agar Teteh tegar menghadapi masalah ini."


***


Akmal meminta Hamad si IT jalanan untuk mencari tahu di rumah sakit mana dokter Irsya bertugas. Dengan keahlian yang sudah terasah, Hamad tak butuh lama untuk mendapatkan informasi itu.


"Dia tugas di RS. Malik Abdullah," ujar Hamad memberitahu.


"Thanks, Bro gue cabut dulu. Lakukan tugas lo sekarang juga!"


Dua motor kembali melaju di jalanan. Keinginan untuk menemui pak Irsya kembali gagal. Security yang mereka temui mengatakan Pa Irsya sedang tugas di bagian UGD dan menangani korban lakalantas.


"Pak kita hanya butuh waktu sebentar untuk bertemu dokter Irsya," ujar Hamzah.


"Maaf tidak bisa," balas security.


"Pak ini menyangkut nama baik seseorang," Akmal masih berusaha.


"Iya, tapi ... sekali lagi maaf ini menyangkut keselamatan korban. Silahkan tunggu sampai beliau selesai." Security mengangguk dengan sopan.


Mau tidak mau mereka harus menunggu lagi. Sampai akhirnya mobil milik pak Irsya keluar dari area rumah sakit. Mereka pun mengejarnya.


Menyadari dia tengah diikuti, Pak Irsya memilih untuk menepikan mobil. Sebuah pukulan langsung ia dapat dari Hamzah.


"Brengsek."


Akmal masih menahan diri untuk tak memukul meski ia pun geram. Tapi baginya main keroyokan tidak menceritakan laki-laki seutuhnya.


"Tunggu-tunggu, tunggu!" bentak pak Irsya tak terima langsung mendapat pukulan tanpa ia ketahui duduk perkaranya.


Hamzah kembali mendekat dan mencengram baju pak Irsya. "Kalau sudah ditolak cukup terima aja. Gak usah menyebarkan aib yang Nuri tutupi selama ini."


"Tunggu!" betak pak Irsya lagi. "Saya gak ngerti apa maksud kamu. Tiba-tiba kamu ngikutin saya, pukul saya. Duduk perkaranya apa?"


"Lo ditolak oleh Nuri, dan lo menyebarkan aib yang Nuri gunakan untuk menolak elo kan?" Ama ikut bicara.


"Saya gak punya pikiran sepicik itu. Kalau kalian punya bukti, silahkan laporkan saya. Bukan main hakim sendiri." Pak Irsya langsung melepaskan diri dan kembali melajukan mobil.


"Lo ngapain ikutin gue kalau cuma buat nonton aja." Emosi Hamzah masih tak terkontrol.


***


Sampai malam tiba, Nuri masih belum keluar dari kamar. Bahkan ia melewatkan sarapan, makan siang juga makan malam. "Teteh gak laper, Ma" jawab Nuri saat mama kembali mengetuk pintu.


"Ada Naura di bawah."


Nuri makasakan senyum saat bertemu Latif dan keluarga kecilnya.


"Sabar ya Teh. Ini ujian Teteh," ucap Fitri setelah mengurai pelukan


Tidak ada yang bertanya apa dan kenapa kejadian buruk itu terjadi pada saudara mereka. Papa sudah mewanti-wanti agar jangan ada yang menyinggungnya. Mereka hanya membicarakan tumbuh kembang Naura saja.


Nuri sendiri lebih banyak berinteraksi dengan Naura. Tingkah lucu anak berusia satu setengah tahun itu sedikitnya mengobati luka Nuri.


Hamzah sudah pulang dan ikut bergabung.


Malam semakin larut, rasa kantuk sudah tak bisa lagi ditahan. Satu persatu mereka masuk ke kamar masing-masing. Begitu pun dengan Nuri.


Dia duduk di balkon kamar menikmati semilir angin dan menatap gelapnya cakrawala. "Sudah lima tahun, apa kamu gak ingin pulang dan mempertanggung jawabkannya?"


Di belahan bumi lain, seorang pria dewasa juga melakukan hal yang sama. "Maaf," hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.


***


Semalam Pak Irsya terus memikirkan ucapan Hamzah. Maklum karena dia sibuk menangani pasien, hingga tak sempai memeriksa ponsel.


Keesoka harinya dia datang ke rumah Nuri pagi sekali. Dengan niat baik ingin meluruskan tuduhan Hamzah padanya.


Papa menerima dengan baik kedatangan pak Irsya. "Silahkan duduk!"


"Kemarin Hamzah mendatangi saya dan mengatakan kalau saya menyebarkan aib yang Nuri tutupi selama ini." ucap Pak Irsya. "Saya tidak paham kenapa Hamzah bisa mengatakan demikian."


"Sudah cek berita viral kemarin?"


"Belum...."


"Seseorang merekam kalian saat Nuri mengatakan alasan dia menolak kamu. Video itu sepertinya tersebar di malam yang sama. Tentunya dengan beredar video itu semakin membuat Nuri terjepit. Belum sembuh dia dengan kenangan buruknya ditambah lagi dengan beredar video tersebut."


"Saya minta maaf kalau itu gara-gara saya. Seharusnya saya tidak memaksa Nuri mengatakan alasannya. Tapi sungguh saya tidak melakukan perekaman itu."


"Lalu siapa yang harus bertanggung jawab dengan keadaan ini. Jujur saja nak Irsya kami begitu terganggu. Sejak kemarin Nuri lebih banyak menyendiri. Dia minder pada kami. Selain itu beberapa klien memutuskan kerja sama."


Kedunaya sama-sama dia. Pak Irsya mulai berpikir siapa orang iseng itu.


"Saya yakin pelaku memiliki masalah dengan salah satu di antara kalian."


"Saya boleh bertemu Nuri?"


"Tidak," jawab Nuri yang baru saja turun.


Pak Irsya menatap perempuan yang tengah membuang muka. "Nuri, saya ...."


"Jangan katakan apa pun. Kedatanganmu tidak diharapkan sama sekali." Itu adalah kalimat mengusir dengan cara halus.


Pak Irsya mengusap wajah, "baiklah, saya hanya ingin minta maaf padamu, Nuri. Sungguh saya tida melakukan hal itu ...."


"Berhenti beromong kosong," potong Nuri. "Tau kan dimana pintu keluar?"