
Nuri terkejut bukan main dia bahkan tak sempat melakukan perlawanan ketika dua pria bertubuh besar menariknya masuk ke dalam mobil.
Dia berusaha melakukan perlawanan meski mobil sudah melaju jauh dari tempat mobilnya tadi. Dua orang yang duduk di depan terus meneratwakan dirinya.
Tunggu! Suara itu?
"Hai, Nuri."
"Alisa?" Nuri menatap tak percaya pada perempuan yang duduk di kabin depan dan tengah menoleh pada dirinya. Bibirnya menyunggingkan tapi bukan senyum ramah melainkan senyum mengejek.
"Iya ini aku. Kaget ya? Uh kasihannya. Sudah kamu tulis kalimat manis pada orang-orang tersayangmu sebagai ucapan selamat tinggal."
Nuri tertawa sumbang meski pada akhirnya ia kembali harus dipegangi dua pria bertubuh besar di kedua sisinya. "Wow. Ternyata kamu memang ounya bakat Alisa. Playing victim." Nuri kembali tertawa, "kamu yang gigit, kau juga yang mengaduh dan orang lain akan menjadi sasaran tuduhan kamu."
"Diam!" bentak Alisa bahkan dia mencengkrang rahang Nuri. "Kamu merasa cantik Nuri sehingga banyak lelaki mengejar kamu. Bahkan dengan sombongnya kamu megataiku tempat sampah."
Mereka membawa Nuri ke suatu tempat yang bahkan jauh dari hingar bingar kota.
Dengan posisi kaki dan tangan terikat Nuri dipaksa berjalan masuk ke sebuah bangunan yang terlihat tua. Dia didudukan pada sebuah kursi.
Nuri pikir dia akan langsung menemui ajal mengingat ancaman yang pernah dia dapat. Ternyata tidak. Dia disakiti terlebih dahulu oleh kalimat-kalimat hinaan dari mereka.
******, perempuan penggoda, perebut suami orang dan bahkan banyak lagi. Bahkan Alisa Melecehkan Nuri dengan meremas bagian dadanya.
Nuri meringis, ingin menangis tapi dia tidak boleh menjatuhkan air matanya dihadaoan lawan. Reaksi alami dari saraf membuat Nuri mengeluarkan kata yang dia tahan.
"Enak?" tanya Alisa, "baru diremas loh. Ag aku lupa kamu kan ****** murahan yang tidak puas dengan hanya di remas saja."
"Cukup!" Sekali dia mengeluarkan suara maka saat itu juga tamparan dan pukulan akan dia dapat. Darah dari bibir mulai menetes mengingat dia sudah ditampar beberapa kali.
Alisa benar-benar pelampiasan segelas kekeksalannya pada Nuri. Dia ingin Nuri mati mengenaskan nantinya.
Hanah, yang ikut bergabung bersmaa mereka karena Irsya terus menolaknya terus tertawa melihat Nuri. Dia tidak bertindak tapi dia senang melihat Nuri menderita.
Naima tertawa puas. Dia tidak perlu mengotori tanganmu untuk menyakiti Nuri. Cukup Alisa dan dua pria itu yang akan jadi eksekutor.
Hanya Naifa yang terlihat tidak menikmati petunjuk itu. Beberapa kali dia melirik pintu. Entah dia berharap akan ada yang datang dan menolong Nuri atau dia merasa was-was.
"Nuri aku kasih tau sesuatu sama kamu ya." Alisa berjongkok dan menatap Nuri. "Milik mereka itu sangat besar, dan aku yakin kamu akan terbang bersama mereka." Alisa tertawa dia benar-benar puas melihat Nuri tersiksa siksa.
Rasa benci yang tumbuh sejak mereka masih berteman kini terampiaskan.
"Buka celana kalian!" titah Alisa pada dua pria bertubuh besar dan hitam itu. "Lihat Nuri nikmati! Bayangkan kalau dua senjata itu masuk ke dalam dua lubangmu." lanjutnya sambil mencengram rahang Nuri. Memaksanya melihat sesuatu yang haram bagi Nuri.
Allah jika ini waktunya aku pulang kepadamu. Aku mohon dengan segala kerendahan hati pada-Mu. Jangan biarkan aku menghadapmu dalam keadaan kotor dan Tersenyum tangan mereka.
Hanah memberi kode lewat ekor matanya pada dua pria yang bagian bawahnya sudah terlepas. Tidak ada rasa malu dalam diri mereka sekalipun berdiri bersama para perempuan.
"Wooh Nuri kebahagiaanmu sebentar lagi datang," sorak Alisa. Dia terlihat paling bahagia.
Berbekal GPS dari smartwach Arsyan mengetahui istrinya dibawa kemana. Mobil ia pacu dengan kecepatan tinggi. Tak peduli bunyi klakosn dari pengendara lain. Istrinya harus selamat.
Pintu didobrak saat kedua pria itu hampir melecehkan Nuri. Arsyan langsung menyerang kedua lelaki itu sementara Jo datang belkanagn karena dia harus membereskan orang-orang suruhan para penjahat. Arsyan kalap menyerang dua pria itu. Hampir saja nyawa mereka lepas dari raga.
Naima, dan Naifa berhasil sembunyi, sebab jika lari tentu mereka akan tertangkap. Sembunyi lebih baik sebab sejak tadi keduanya memperhatikan Nuri yang tengah disiksa dari jarak lumayan jauh. Adik kakak itu sudah memperkirakannya. "Shiiiiit. Masuk ke sana bodoh," ucapnya pada sang adik dan menunjuk salah satu pintu. Etah itu pintu apa.
Alisa tertangkap dengan mudah karena kondisi hamil besar dia tidak bisa lari secepat Hanah. Sedangkan Hanah berhasil lari dan masuk ke dalam mobil. Ya meskipun pada akhirnya dia harus kejar-kejaran dengan orang-orangnya Jo.
Nuri meringkuk dengan kaki dan tangan masih terikat. Air matanya luruh membasahi pipi. Ia menangis pilu, perkataan dan hinaan yang ia terima mampu mendobrak pertahan mental yang baru saja pulih.
Sakit bak ditikam belati. Melihat perempuan yang amat ia sayangi menagis pilu bahkan menepis tangannya dan terus beringsut menjauh darinya. Wajah yang tadinya cantik kini tertutup lebam. Darah di ujung bibir juga hidung terus menetes.
Nuri akhinya jatuh pingsan.
Seperti film india dimana pertolongan selalu datang terlambat. Latif datang bersama petugas kepolisian. Mereka langsung meringkus orang-orang yang lebih dulu dilumpuhkan oleh Jo.
Alisa berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Jo. Sampai akhirnya tangannya juga harus ikut diborgol bersama orang-orangnya. Dia terus berontak saat digiring untuk memasuki mobil polisi. Bahkan dia masih saja mengeluarkan kalimat caci maki pada Nuri.
"Satu perempuan lari dan masih dikejar oleh orang-orang kami. Tapi dalang dari semua ini adalah mantan istriku, ujar Arsyan yang sedang mengangkat tubuh Nuri sebelum masuk ke dalam mobil.
Latif sendiri tidak banyak tanya, dia langsung membantu kakak iparnya.
***
Nuri langsung mendapatkan perawatan. Dokter mengatakan tidak ada luka dalam yang perlu dikhawatirkan. Akan tetapi Nuri yang sejak satu jam yang lalu sudah ditangani dan belum juga sadar membuat dia gelisah.
Latif menepuk pundak kakak iparnya, "Teh Nuri adalah perempuan kuat. Doakan agar dia memiliki kekuatan lebih untuk kembali pada kita." Setelahnya Latif menjauh dari sana untuk menghubungi anggota keluarganya.
Anggota keluarganya tentu saja syok mendapat kabar seperti ini. Tadi siang Nur keluar rumah dalam keadaan sehat dan sekarang ia kembali dalam keadaan terluka.
"Teh Nuri sudah ditangani, semoga saja dia cepat siuaman. Kalau mama dan papa mau ke sini aku mohon jangan terbuka-buru. Tidak usah panik."
"Kita akan ke sama sekarang," jawab papa sebab mama tak mampu menahan tangis atas apa yang menimpa putrinya.