Nuri

Nuri
Bab 11



Sejak hari itu Akmal selalu datang ke rumah Nuri menemui Hamzah. Dia benar-benar memanfaatkan kesempatan yang ia punya. Hamzah tak menyadari niat Akmal. Akmal benar-benar bisa menutupi itu.


Saat melihat Nuri sendiri baru dia bisa mendekati. Itu pun kalau Nuri berada di daerah yang aman. Misal saat di dapur maka dia punya alasan ke dapur untuk membuat kopi.


"Emmmhh wanginya. Ternyata begini wanginya masakan yang disentuh tangan bidadari," ujar Akmal.


"Mau makan?" tanya Nuri menoleh


Akmal menyentuh dada membuat Nuri panik. Takut terjadi sesuatu yang akan melibatkan dirinya. Nuri selalu berpikir berlebihan. "Kenapa?"


Akmal malah tersenyum membuat Nuri mengurungkan diri hendak menghampiri. "Serasa dilayani istri."


Nuri memutar bola mata jengah. Beberapa hari lelaki itu datang kerumah dan mengeluarkan jurus-jurus tengilnya membuat Nuri jengah. Hanya saja hatinya mulai menghangat. Ya sesekali dia mau membalas ucapan Akmal.


"Ngapain, Mal?" tanya Hamzah yang muncul di pintu.


"Ck, pengacau."


"Lebay, kakak gua gak butuh gombalan dari cowok tengil macan Lu. Dia butuh bukti."


"Ngelamar, atau akad langsung? Gue mah ayo aja." Akmal begitu bersemangat.


"Ish," jawab Nuri sambil meninggalkan dapur setelah menyajikan makanan lebih dulu.


Sedangkan Hamzah tertawa keras melihat suasana seperti itu. "Dah tau kakak gue kek gitu masih ngeyel," Hamzah menendang pelan kakak Akmal membuat laki-laki itu memekik. Tentunya dengan harapan Nuri mendengar suara dia lalu datang dengan wajah cemas. "Uh menggemaskan sekali,"


Sayangnya Nuri tidak melakukan hal itu dia malah mengajak mamanya untuk makan.


***


Pak Irsya baru saja kembali ke ruang kerja. Dia mengeluarkan kotak berisi dua cincin dari laci. Cincin itu dibeli beberapa bulan lalu saat dia mulai tertarik pada Nuri karena cerita dari Hani. Hani sendiri sebagai sepupu mendukungnya.


"Lebih cepat lebih baik, Kak. Agar bangsa tak kekurangan calon penerus," Begitu kata Hani waktu itu.


Dia menatap foto Nuri yang dia bingkai dan disimpan di atas meja kerja. Foto itu dia dapat saat Nuri menghadiri pernikahan Hani. Jepretannya sempurna meski mengambil gambar Nuri dati posisi samping.


Nuri semakin terlihat cantik .


Karena dunianya terasa penuh oleh Nuri, lelaki itu tak menyadari kedatangan seseorang. Melihat tatapan hangat dr. Irsya pada foto yang ada di atas meja, perempuan itu membuang nafas kasar kemudian menyentakan diri di kursi membuat Pak Irsya berjingkat.


"Hanah? kapan kamu masuk?" Pak Irsya segera memasukan kembali kotak cincin.


"Tahun lalu," Perempuan memasang eksperi menyebalkan.


"Oke, oke ada perlu apa? kamu sakit?"


"Tepat. Hatiku yang sakit."


"Hanah, ayolah. Kamu itu cantik, pintar, kamu punya segudang pripilese yang bisa kamu gunakan untuk memikat hati mereka. Tapi maaf aku katakan sekali lagi aku gak bisa."


"Ya, ya aku paham dokter. Aku tuh heran sama kamu. Di depan kamu ada perempuan yang katamu sendiri memiliki segudang pripilese tapi kamu gak tertarik sama sekali sama aku." Hanah menatap tajam. Dua kancing kemeja atasnya sengaja dibuka


"Hati itu gak bisa dipaksa Hanah. Sekalipun sekarang kamu menggunakan orang tuamu untuk mengikatku. Tapi tetap baik kamu maupun kedua orang tuamu tetap gak bisa mengikat hatiku." Pak Irsya bicara sambil menatap meja.


Syetan memang selalu membalut godaan dengan hal-hal indah. Dia lelaki yang tentunya punya syahwat. Apalagi dia pernah merasakan gelora syahwat itu sendiri. Makanya dia memilih menunduk dan tak peduli dirinya dianggap seperti apa. Yang jelas dia tidak ingin syahwat menguasai diri.


"Siapa dia? Dia kekasihmu?" Hanah mengambil foto Nuri.


"Bukan... dia calon istriku."


"Aku penikmat paha, tapi kalau ada dada dan paha aku ambil keduanya," kelakar Pak Irsya.


"Baiklah, tapi aku gak akan menyerah. Kalau katamu Tuhan maha membolak-balikan hati. Aku akan meminta hatimu padanya, sekaligus jantungnya." Hanah membalas dengan kalimat yang terdengar bercanda. Di belakang itu jelas dia tidak menerima kenyataan dari Pak Irsya. "Kamu gak mau makan siang denganku?"


"Aku masih harus memeriksa beberapa pasien lagi," tolak Pak Irsya halus.


Hanah meninggalkan ruang kerja pak Irsya. Sisi yang selama ini tersembunyi perlahan muncul. Dia tidak rela kalau Pak Irsya dimiliki orang lain.


***


Akmal menjadi terbiasa ikut makan bersama keluarga Nuri. Dia tak memedulikan sikap Nuri yang kadang masih acuh padanya. Dia malah semakin gencar berusaha untuk mendapatkan Nuri melalui keluarga perempuan itu sendiri.


Dia yakin perempuan pujaan hatinya pasti akan menolak apalagi mengingat perbedaan umur keduanya. Tapi Akmal tak ingin kehabisan akal. Jika orang tua si perempuan sudah ridho makan dia akan mudah mendapatkan target.


"Tambah lagi, Nak Akmal!" Mama mendekatkan tempat nasi pada Akmal.


"Oh siap ma," jawab Akmal. Tentu satu centong nasi kembali mendarat di piringnya.


"Mama mungut ni anak di mana sih?" tanya Hamzah membuat Akmal mendelik sedangkan Nuri tertawa.


"Bilang aja kalian cemburu! wajar kala mama kalian lebih perhatian sama aku. Kan aku mah idaman bu ibu," bela Akmal sambil menyuapkan nasi.


"Gitu aja bangga," desis Nuri tapi Akmal mendengarnya .


"Sebenarnya maunya itu jadi idaman Teteh." Akmal menyambar secepat kilat. Pembelaan itu tak dibalas Nuri lagi. Perempuan itu lebih memilih menghabiskan makanannya.


"Ponselnya berdering terus, Teh." Salah satu pekerja Nuri menyodorkan ponsel Nuri tadi Nuri letakan di meja kecil.


Nuri pun pamit lebih dulu untuk mengangkat panggilan.


***


Pak Irsya menatap rintik yang jatuh dari jendela kamar. Bahkan hujan yang turun sejak pagi tak mampu meredakan demam rindu yang sedang di rasa. Dengan tekad penuh dia akan melamar perempuan itu secepatnya.


Meski banyak drama lebih tapi akhirnya Pak Irsya berhasil membawa Nuri ke luar rumah di hari berikutnya. Di sebuah kafe dia menyiapkan kejutan untuk calon wanitanya.


Mobil masih melaju di jalan menuju kafe tersebut. Terlihat jelas gurat tegang di wajah Nuri. Ingin rasanya pak Irsya menggenggam tangan itu. Tapi itu belum memungkinkan mengingat dia tau betul sikap Nuri.


Sekian menit menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di tujuan. Dengan gerakan cepat pak Irsya turun lebih dulu untuk membukan pintu.


"Padahal gak usah repot-repot Pak Irsya."


"Saya senang direpotkan. Apalagi... Ah itu tandanya saya dianggap ada."


Belum juga pada acara inti tapi hati Pak Irsya sudah berdetak begitu kencang. Untung saja tangannya tidak bergetar. Bisa-bisa Nuri menertawakannya.


Keduanya disambut oleh seorang pelayan dan diantara ke tempat yang sudah dipesan lebih dulu.


Nuri tidak merasa ada yang aneh. Dia mengiyakan ajakan makan malam ini karena dia merasa bersalah pada Pak Irsya saat mereka terakhir bertemu.


Alulan musik yang berjudul perfect menambah suasana syahdu di malam yang dingin. Pada bagian lagu baby you look perfect to night, Pak Irsya langsung berlutut membuat Nuri kaget.


"Pak?"


"Aku mencoba melangkah dan menjauh darimu. Semakin besar jarak yang kukalui semakin besar pula rasa rindu ini padamu. Aku tak mampu mengalihkan rasa dan bayangmu dari sini..." lelaki itu menuju dada. "Aku mencintaimu dan aku ingin kita hidup dalam ibadah panjang. Nuri... Maukah kamu menemani pria tua ini dalam ibadahnya?"