
Bram melebarkan mata saat melihat data yang diterima dari orang kepercayaannya.
“Apa kamu serius?”
“Tuan, saya tidak pernah bercanda soal kerja!” tegas lelaki itu mantap.
Bram tersenyum senang tapi juga bimbang. Baginya ini sebuah kejutan tapi juga bencana.
Bagaimana bisa mereka salah orang? Lalu, mengapa wajah gadis yang mencuri dompet itu sama dengan tawanan mereka?
“Apa kamu menemukan data dari wanita yang ditahan itu?”
“Sedikit saja yang saya temui tuan. Katanya dia dari desa ke sini untuk kerja.”
Bram mengusap dagu sambil berpikir. “Kak Diego sudah tahu?”
“Belum,”
“Ya sudah ... bayaranmu akan aku transfer.” Bram melambaikan tangan membuat lelaki itu pergi.
“Geby!” panggil Bram.
Lelaki tadi berhenti lalu menatap Bram lagi.
“Jaga keluargamu baik-baik. Jangan lagi ada korban yang berjatuhan karena pekerjaan kita.”
Geby terdiam. Dia mengerti dengan suasana hati Bram. Mungkin saja majikannya masih trauma akan kehilangan orang tercinta.
“Tentu Tuan. Terima kasih,” ucapnya tulus dan berlalu.
Bram menatap sedih foto April yang tertera di meja kerjanya. Dia hanya bisa mendengus sambil mengusap wajah berulang kali.
“Aku sedang berusaha membalas semua ini, sayang!”
***
Lucia tersadar dari tidur panjangnya. Dokter Johan kaget dan segera memeriksa kondisi Lucia.
“Dokter lagi?” ucap Lucia dengan raut wajah kesal.
“Ya ... apa ada yang salah?” sahut Johan sambil mengontrol infus Lucia.
“Aku pikir saat bangun, suasananya akan berbeda. Nyatanya tidak!” wajah Lucia datar.
“Tuhan belum mengizinkan kamu mati. Bahkan, kamu belum dibiarkan pergi dari sini. Entahlah, ini sebuah takdir atau apa?”
Lucia mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan arah pembicaraan Johan.
“Apa kakimu terasa kaku?” tanya Johan sambil menggerakkan kaki Lucia.
“Biasa aja!”
“Syukurlah ... berarti tubuhmu baik-baik saja,”
“Maksud dokter?”
“Kamu sudah terbaring di sini hampir sebulan lamanya. Aku sendiri bingung, kenapa tuan Diego masih membiarkanmu hidup?”
“Cih ... paling dengan alasan yang sama! Aku dituduh mencuri barang busuknya,”
“Jaga ucapanmu nona! Tuan Diego bisa menjadi baik tapi bisa juga jahat hanya dalam hitungan detik,” kata Johan kemudian pergi dari kamar itu.
Lucia menatap sinis kepergian lelaki usia senja itu sampai menghilang di balik pintu.
Hanya saja, pinggang wanita itu terasa nyeri. Lucia meringis saat ingin bergerak. Sekejap, teringat olehnya perbuatan Diego waktu itu.
Lucia meraba bibirnya perlahan. Air mata pun berjatuhan lagi. Kamar ini menjadi saksi perbuatan terkejam itu.
Kali ini, dia tidak ingin memberontak. Wanita malang itu memilih tidur dan pasrah. Kekuatannya telah terenggut habis sejak kejadian menjijikkan itu.
Dari kejauhan, Diego terus mengawasi pergerakan Lucia. Beberapa menit yang lalu, Bram telah menceritakan semua.
Kini, perasaan bersalah menguasai Diego. Penderitaan yang diberikan pada Lucia, tidak akan mudah dimaafkan. Terlebih, dia terlanjur menodai kesucian gadis itu.
“Mungkin dia benar meski ada salahnya juga. Dia 1000 kali lebih istimewa dari mamaku,”
Diego tersenyum kecut ketika mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Terlebih sikap Lucia yang selalu memancing amarahnya.
“Kamu memang menyebalkan, tapi setelah dipikir, lumayan lucu juga.”
Lelaki itu hanya menggeleng kecil kemudian menelpon Bram.
“Culik anak France sekarang juga! Pastikan gadis itu menderita 10 kali lipat lebih parah dari Lucia.” Panggilan pun diakhiri.
Siapa sangka, gadis yang mencuri flashdisk di mall waktu itu, ternyata anak France, orang kepercayaan Thomas.
Menurut berita yang mereka kumpulkan, Clara adalah anak tunggal France. Gadis itu kuliah di salah satu kampus swasta ternama di negara ini.
Diego menyipitkan mata lalu mengirim pesan pada Bram. Dia menginginkan rekaman CCTV di mall tepat pada kejadian hari itu.
Sementara itu, di kamar mewah pada kediaman Diego, Lucia sedang sibuk keluar masuk kamar mandi.
Sudah hampir 30 menit, wanita itu merasa mual dan buang air kecil terus.
“Ada apa denganku?” tanya Lucia sambil mengelus pinggangnya yang terasa sakit.
Johan masuk, membuat Lucia agak kaget. Dikiranya Diego.
“Mulai hari ini, kamu dibebaskan!”
Lucia melebarkan mata antara percaya dan tidak. Dia menelan ludah, tubuhnya kaku serta rasanya ingin pingsan.
“Apa kamu tidak mau?” Johan mengerutkan dahi.
“Tentu saja aku mau!” serunya bahagia sambil mengedipkan mata beberapa kali.
Kepergian Lucia diantar oleh Johan. Namun, tepat di depan pintu rumah itu, Lucia berhenti.
Johan mengerutkan dahi. “Apa ada yang dilupakan?”
“Dok ... setelah pergi dari sini, aku akan susah mencari kerja dan tempat tinggal.”
Lelaki paruh baya itu tersenyum lalu memukul pelan bahu kiri Lucia.
“Jangan khawatir nona. Semua sudah dipersiapkan. Tuan Diego telah meminta supir untuk mengantar anda ke sana,”
Wajah Lucia berseri. Tak disangka manusia kejam itu memiliki hati juga.
“Sungguh?”
“Ya Nona. Akan ada sebuah kejutan di sana. Anda tidak perlu khawatir,” kata Johan kemudian mempersilakan Lucia masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Lucia masih belum percaya. Terasa sangat cepat Tuhan mengabulkan doanya. Mata cantik itu menatap langit yang tampak cerah dengan hati tak berhenti mengucap syukur.