
France melihat video kiriman Bram tersebut. Lelaki paruh baya itu hanya bisa menghela nafas.
Untuk saat ini, dia belum bisa meluapkan amarahnya seperti biasa. Pasalnya, seluruh wajah dan lehernya sedang diperban akibat cairan yang disiram Diego.
France masih beruntung karena lebih dulu memejamkan mata. Sehingga penglihatannya masih baik-baik saja. Dia hanya masih kesulitan dalam berbicara.
Laura yang ikut menonton, hanya bisa mengelus dada.
“Pa ... mau sampai kapan kalian saling membenci?”
France menatap kesal istrinya. Dia tahu maksud pembicaraan itu. Sorot matanya mengatakan, bahwa dia tidak akan menyetujui keinginan istrinya.
“Permusuhan kalian ini hanya akan memberi kerugian pada kita. Lihat anak kita Pa, dia sangat menderita. Diego sangat kejam padanya!”
France memejamkan mata dan memilih pergi. Kehadiran istrinya justru semakin menumpuk amarah dalam dada.
Di kamarnya, Clara sedang merenung. Sejak kepulangannya dari rumah Diego, dia menjadi pemurung dan lebih betah di kamar.
Bukan hanya itu, dari hasil perbuatannya, Clara telah kehilangan sahabat terbaiknya. Diegolah yang membunuh Rena sebelum Clara diculik.
Tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidup. Clara merasa bersalah. Karena perbuatannya juga, Lucia sang adik harus menanggung beban itu seorang diri.
Clara menatap taman bunga yang terbentang melalui jendela kamar, dengan tatapan kosong.
“Mungkin ... lebih baik aku mati!”
Clara mengalihkan pandangan ke seluruh kamar. Tatapannya berhenti pada gunting yang terletak di atas meja rias.
Gadis itu menelan ludah kemudian perlahan mendekati benda itu. Tangannya gementar saat meraih gunting tersebut.
“Ma ... Pa ... maafkan Clara. Karena ulah Clara, kalian mendapat banyak masalah,”
Clara menangis dan mendekatkan gunting ke perutnya. Belum sempat terjadi, pintu didobrak dari luar hingga terbuka.
Clara kaget. Gunting di tangannya terjatuh.
“Apa kamu tidak punya sopan santun?” Clara berusaha menyembunyikan gunting itu dengan kakinya.
Tidak ada jawaban dari En. Lelaki itu mendekat lalu berjongkok tepat di depan Clara.
Gadis itu tersentak saat En mengambil gunting tadi.
“Sekarang, keselamatanmu adalah tanggung jawabku!” mengangkat gunting dan menatap tajam Clara.
“Kamu tidak punya hak atas hidupku!” Clara berusaha merampas gunting tapi tidak bisa.
“Aku akan menceritakan ini pada Tuan dan Nyonya France.” En tersenyum licik penuh kemenangan.
Clara mengaku kalah lalu duduk pasrah di tempat tidur. En melirik sesaat majikannya lalu pergi.
“Bagaimana bisa dia tahu?” Clara mengerutkan dahi.
Gadis itu memperhatikan setiap sudut kamarnya. Dia yakin ada kamera CCTV yang disembunyikan.
Setelah berusaha, Clara tidak menemukan apa pun.
“Astaga!” Clara melebarkan mata lalu mulai menyentuh dadanya.
“Kalau di kamar ini ada kamera tersembunyi, dan aku diawasi oleh lelaki tadi. Maka ...,”
Clara teringat kebiasaannya akhir-akhir ini. Setiap habis mandi, dia akan berbaring tanpa busana, sekedar menyesali perbuatannya. Atau, dia sering menangis di depan cermin seperti orang g1la.
Gadis itu tidak bisa berpikir jernih lagi. Pikirannya mulai menebak apa yang terjadi saat En melihat semua perbuatan anehnya itu.
“Dia pasti senang. Ah ... aku harus bagaimana ini?”
Clara pun keluar kamar. Semua pelayan dan pengawal di sana kaget sekaligus senang.
Sudah hampir dua minggu tuan putri mereka tidak keluar. Bahkan mereka sangat senang melihat Clara yang berjalan dengan semangat.
Beberapa di antara mereka saling berbisik lalu mengangguk. Mereka salah mengartikan ekspresi wajah Clara saat itu. Dia berjalan dengan cepat karena ingin bertemu kedua orang tuanya.
“Pa ... Ma!” panggilnya ketika berdiri di depan pintu kamar France dan Laura.
“Maaf Non ... Tuan dan Nyonya sedang berada di ruangan VIP,” jelas seorang pelayan.
Clara menghela nafas. Dia tidak memedulikan pelayan itu dan langsung menuju tempat tersebut.
Ruang VIP yang dimaksud berada pada lantai rumah paling atas, lantai ke tujuh. Agar bisa sampai dengan cepat, Clara harus menggunakan Lift yang berada dekat kamar orang tuanya.
Clara sendiri tidak tahu cara untuk masuk ke ruang sakral itu. Karena membutuhkan ID dan Pin khusus. Hanya orang tertentu yang bisa masuk ke sana. Bahkan dirinya tidak diizinkan.
“Gimana ya?” gumamnya saat berdiri tepat di pintu ruangan itu.
Clara mencoba menyentuh sebuah layar berbentuk tangan yang berada tepat di dekat pintu.
Gadis itu terperanjat saat pintu terbuka. “Diterima?”
Terlihat France dan Laura sedang berbincang dengan En. Mata Clara langsung tertuju pada gunting yang terletak di atas meja.
Ketiga pasang mata tertuju pada Clara. Gadis itu mendadak gugup dan berusaha tersenyum.
“Clara ....” ujar Laura sambil mendekat lalu memeluk putrinya.
“Jangan lakukan itu! Mama bisa mati kalau sampai terjadi sesuatu denganmu,”
“Maafin Clara Ma,”
France yang belum bisa berbicara hanya menunduk. Dia merasa gagal sebagai seorang ayah. Untung saja En selalu setia mengawasi setiap pergerakan putrinya.
“Kita harus bertemu dengan Psikiater,”
“Ah ... aku Cuma butuh istirahat sejenak,” protes Clara lembut.
Laura menggeleng dan mengusap bahu anaknya. “En akan mengantarmu,”
“En?” kedua alis Clara bertaut.
“Pengawal pribadimu.” Laura tersenyum lalu menunjuk lelaki itu.
Clara menelan ludah. Padahal tujuannya ke sini untuk protes perihal En. Tapi, lelaki itu justru dijadikan sebagai pengawal pribadinya.
Melihat kondisi Papanya yang kritis, Clara memilih pasrah.
“Baiklah Ma,”
“En ... tolong jaga dia!” Laura tersenyum simpul.
En mempersilakan Clara berjalan lebih dulu.