
Terik matahari menyengat habis seluruh permukaan kulit Lucia. Lapar dan haus tidak bisa ditahan lagi.
Wanita itu duduk di pinggir jalan dekat deretan pedagang kaki lima. Sesekali ia menelan ludah karena aroma jajanan yang menyebar di udara.
Dari jarak dekat, seorang wanita tua tampak memperhatikan Lucia.
“Non?” sapa wanita tua itu ramah.
Lucia tersenyum tipis sambil menunduk hormat.
“Dari tadi saya perhatikan, Non kok kayak sedih gitu?” tanyanya lagi lalu duduk di sebelah Lucia.
“Ah ... saya gak papa kok Bu,”
“Mungkin ada yang bisa saya bantu?” tawarnya lagi tulus.
Lucia hanya menggeleng. Dia tidak ingin merepotkan siapa pun. Apa lagi wanita yang tampaknya sudah rentan ini. Sementara dirinya masih muda dan kuat.
“Non Lapar?”
Lucia terdiam. Wanita baik ini bahkan mengerti sebelum dirinya mengatakannya.
Melihat raut wajah sedih itu, si wanita tua langsung mengajak Lucia mendekati gerobak dagangannya.
“Saya jualan Cilok Non. Silakan dimakan dulu.”
“Tapi saya tidak punya uang, Bu.”
“Oh ... gak masalah. Gratis kok,”
Lucia hampir menangis. Ketika tidak ada lagi harapan untuk bertahan hidup, ternyata masih ada orang baik yang mau menolong.
“Terima kasih Bu,” ucapnya berulang kali ketika cilok buatan wanita itu dihidangkan.
Wanita tua itu bernama Salimah. Seorang janda yang berjualan cilok demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Selesai makan, Lucia menemani Salimah berjualan sampai Sore. Keduanya saling berbagi cerita. Terlebih Salimah yang menceritakan tentang beban hidup serta kelakuan anak gadisnya.
“Hari ini laris banget dagangan saya,” ucap Salimah sambil membereskan mangkok-mangkok yang telah dicuci.
“Setiap hari sepi ya?” tanya Lucia.
“Ya begitulah Non. Baru hari ini semuanya terjual. Mungkin karena ada Non,”
“Ah ... Bu Salimah bisa aja,”
“Habis ini Non mau ke mana?”
“Nggak tau Bu.” Wajah Lucia kembali murung.
“Ke rumah Ibu aja yuk!”
“Tapi Bu ... saya sudah sangat merepotkan,”
“Nggak Non. Justru ibu senang karena ada yang menemani,”
“Anak ibu?”
“Ah ... dia selalu pulang subuh. Entahlah, aku bahkan tidak bisa mendidiknya dengan baik.” Terlihat penyesalan besar di wajah itu.
Lucia memaklumi. Teringat ibu angkatnya di kampung halaman yang memiliki hati sesabar Salimah.
“Yang sabar ya Bu,”
“Jadi ... Non mau kan ikut ibu ke rumah?”
Lucia mengangguk. Salimah tersenyum bahagia.
“Jangan panggil saya Non lagi ya Bu. Panggil saja Lucia,”
“Oh ... baiklah Nak Lucia,”
***
Perjalanan dari tempat dagangan Salimah ternyata hanya beberapa menit. Wanita itu tinggal di perumahan kumuh yang dekat dengan jalanan umum, masuk melalui gang sempit.
“Dekat aja ya Bu,” ucap Lucia ketika sampai di rumah Salimah.
“Ayo masuk, Nak!”
Lucia memperhatikan keadaan di sana. Sungguh memprihatinkan. Rumah Salimah terbuat dari papan yang telah termakan rayap, serta beralas tanah. Perbandingan yang sangat jauh dari kehidupan Diego.
Satu yang Lucia pelajari. Meski hidup miskin, dia masih menemukan kedamaian. Berbeda dengan sebelumnya, mewah tapi selalu dihantui penderitaan.
“Ah ... gak papa kok Bu. Lagian, saya juga orang susah,”
Salimah merasa tidak percaya. Penampilan Lucia sangat berbeda dengan orang-orang kalangan bawah.
“Oh ... ini semua, bukan punya saya Bu,” ujarnya saat menyadari perubahan di wajah Salimah.
“Lalu?”
“Ceritanya panjang Bu. Intinya saya sangat menderita,”
“Tidak masalah. Ya sudah ... sekarang Nak Lucia beristirahat dulu. Saya ambilkan air untuk wudhu,”
Lucia mengerutkan dahi. “Wudhu?”
“Iya,”
“Untuk Ibu aja kan?”
“Untuk kita berdua Nak,”
“Ah ... itu masalahnya Bu. Saya bukan ...,”
“Astaga, maaf ya Nak,” ucap Salimah dengan wajah bersalah.
“Tidak apa-apa Bu.”
“Kalau begitu, Nak Lucia beristirahat saja. Setelah ini ibu siapkan makan malam,”
Lucia mengangguk. Setelah Salimah pergi, wanita itu memperhatikan kamar yang ditempati sekarang.
Ada sebuah foto yang tertera di sana. Berisi gambar seorang wanita cantik dengan penampilan yang sangat keren.
“Bu!” seruan dari luar membuat Lucia kaget.
Belum sempat menjawab, pintu kamar dibuka kasar. Lucia semakin kaget mendapati wanita itu dalam keadaan mabuk.
“Siapa Lo?” tanya gadis itu.
“Aku ...,”
“Lo maling ya?”
“Hah? Bukan! Aku tadi sama ibu Salimah ke sini,”
Gadis berusia 18an itu mendekat sambil memperhatikan pakaian serta wajah Lucia.
“Lo pasti anak orang kaya,”
“Nggak. Aku anak orang biasa aja kok,”
“Dewi?” ucap Salimah tepat di pintu kamar itu.
“Bu, dia siapa?”
“Kamu mabuk lagi? Ya Allah nak, kenapa kamu terus-terusan begini?” ucap Salimah sambil merangkul anaknya menuju tempat tidur.
Lucia berdiri di sudut kamar, memperhatikan kelakuan anak dan ibunya. Tampak Dewi memberontak saat dinasehati.
“Nggak usah munafik deh Lo! Dulu juga Lo kek gini kan?”
Salimah memegang dada sambil menangis. Lucia tidak bisa ikut campur. Dia hanya orang asing.
“Bu.” Lucia merangkul bahu Salimah kemudian beranjak pergi.
Sedangkan Dewi telah tidur karena pengaruh alkohol.
“Dia selalu pulang dalam keadaan mabuk. Maafkan Dewi ya Nak,”
Lucia tersenyum tipis sambil mengangguk.
“Baru kali ini dia pulang di jam begini. Biasanya ....” tangis Salimah pecah dalam pelukan Lucia.
“Jangan sedih lagi ya Bu. Lucia akan menemani ibu sekarang,”
“Terima Kasih, Nak!”
Entah cobaan apalagi yang akan dihadapinya. Baru saja terbebas dari penderitaan, kini Lucia harus dihadapkan lagi dengan gadis kejam.
Namun, seburuk apapun tabiat gadis itu, tidak akan sebanding dengan Diego. Lucia memilih bertahan daripada kembali.