
Bram berhasil membawa rambut Lucia untuk menemui dokter Johan. Kini mereka hanya perlu mengambil sedikit rambut Clara, kemudian melakukan tes DNA.
“Dokter, ini rambut Lucia. Cukup banyak kan?” ujarnya sambil meletakkan bungkusan kecil rambut itu di atas meja kerja Johan.
Dokter Johan mengangguk lalu memasukkannya ke dalam laci.
“Apa kamu sudah lihat kondisi Clara?”
“Ah ... belum. Lagi pula kak Diego tidak begitu tertarik memberinya hukuman. Dia hanya dikurung di gudang,”
“Oh ... biar aku saja yang mengambil rambutnya,” tawar dokter Johan.
Bram mengangguk lalu pergi menemui Diego.
Kondisi Clara cukup memprihatinkan. Tidak jauh berbeda dengan Lucia saat pertama kali dikurung.
En yang diberi tugas, cukup kesulitan untuk membebaskan Clara. Dia harus mempelajari terlebih dahulu situasi dan jalan pintas di rumah Diego.
Penyamarannya di sana tidak dicurigai. Lelaki itu bersikap dan berpenampilan seperti para pengawal lain. Untuk hari ini, En berjanji harus bisa menyelamatkan Clara.
Dokter Johan pergi menemui Clara seorang diri. Ketika pintu dibuka, gadis itu mengangkat wajah dan berharap yang datang kali ini adalah papanya. Sayang, dia harus kembali memeluk kekecewaan.
Sebagai seorang ayah, Johan tidak tega melihat penderitaan itu. Lelaki itu juga mempunyai seorang anak seusia Clara. Namun, apa boleh buat?
“Apa kamu sudah makan?” tanya Johan prihatin.
Clara hanya diam. Dia jelas berbeda dengan Lucia yang berani melawan bahkan meludah pada orang-orang suruhan Diego. Mungkin, Clara juga menyadari kesalahannya.
Johan menghela nafas dalam. “Aku minta sedikit rambutmu ya?”
Clara menatap kosong sikap lembut lelaki itu. Mungkin hanya dia satu-satunya orang baik di tempat ini.
“Untuk apa tuan?” gadis itu memberanikan diri bertanya.
“Kamu akan tahu nanti.” Johan tersenyum kecil kemudian menggunting ujung rambut Clara yang kusut.
“Mereka memperlakukanmu demikian bukan tanpa alasan.”
“Aku tahu. Seharusnya aku tidak perlu bersikap kurang ajar waktu itu,”
“Bukan itu masalahnya. File yang hilang itu masih ada duplikatnya. Mereka menghukummu karena, kamu adalah putri France.”
“Maksud Anda?” Clara mengerutkan dahi.
Johan berpikir, sudah saatnya Clara tahu. “Thomas dan France adalah musuh terberat tuan Diego,”
Clara menggeleng. “Jadi ... aku akan dibunuh?”
“Entahlah Nak. Kami tidak bisa melawan perintah tuan Diego,”
“Aku mohon ... bebaskan aku Tuan,”
Johan hanya tertunduk kecewa lalu berpamitan pergi. Namun, langkah lelaki itu terhenti ketika berbalik.
Di hadapan Johan, telah berdiri sosok lelaki yang tinggi dan terlihat kuat.
Tidak membutuhkan waktu lama, En berhasil membuat Johan pingsan. Clara melebarkan mata.
“Siapa kamu?”
Tidak ada sahutan. En langsung membuka pasung di kaki dan tangan Clara. Bukan sesuatu yang sulit baginya untuk menggendong gadis itu.
Pergerakan En yang gesit, membuat para pengawal tak melihatnya. Setelah 2 hari tinggal di rumah ini, dia sudah tahu, tempat mana yang ada CCTV dan di mana yang tidak ada.
Jalan pintas pun telah diketahuinya. Pelarian itu pun dilakukan malam hari, sehingga tidak ada yang bisa melihat dengan jelas.
Bram menemui Diego di ruangan pribadinya. Seperti biasa, lelaki itu sedang duduk membaca buku di sofa kulitnya.
“Apa yang sedang dibaca?” tanya Bram kemudian duduk di sebelah kakaknya.
Seperti hari-hari sebelumnya, Diego tidak akan menjawab. Bram mengambil buku itu dan meletakkan di atas meja.
“Kamu berani melakukan itu?” Diego mengerutkan dahi kemudian menatap tajam adiknya.
“Ada yang ingin aku bicarakan.”
“Katakan!”
“Aku sudah mengambil rambut Lucia.”
“Lalu?” Diego menaikkan alis kirinya.
“Ya ... menurut kakak, kapan tes DNA itu akan dilakukan?”
“Jadi hanya itu kau datang lalu mengganggu waktuku?” nada suara Diego mulai tinggi.
“Kakak marah?”
“Br3ngsek!” Diego mendorong bahu Bram lalu berdiri.
“Mau ke mana kak?”
“Melihat kondisi gadis menyebalkan itu,”
“Dokter Johan sudah ke sana. Dia sedang mengambil rambut Clara,”
“Ya ... aku juga ingin melihat keadaannya. Memastikan kalau dia menderita!”
“Aku akan menunggu dokter Johan di ruangannya.” Bram mengikuti langkah Diego.
***
Ketika tiba di gudang, Diego mendapati Johan masih dalam kondisi tak sadar.
Tidak ada kecemasan sama sekali di wajah Diego. Dia tahu, France adalah lawan yang kuat. Maka tak heran baginya jika Clara bisa dibawa kabur.
Dengan tenang, ia mengambil ponsel lalu menelepon Bram.
“Suruh 2 orang pengawal ke sini, Periksa rekaman CCTV dan culik kembali Lucia,”
“Ada apa kak?”
“Lakukan saja!” Diego memutuskan panggilan.
Bram mulai cemas. Ia mengusap wajah kemudian melakukan apa yang diminta Diego.
Untuk menculik Lucia bukanlah hal yang sulit. Lelaki itu memutuskan turun tangan langsung.
Diego menyuruh pengawal utusan Bram tadi, membawa dokter Johan ke ruangannya. Sementara dia yang akan memeriksa langsung rekaman CCTV. Diego ingin melihat secara langsung, penyusup hebat itu.