
Lucia adalah seorang anak yang diculik dari rumah sakit setelah lahir 30 menit. Dia memiliki kembaran yang kini entah di mana.
Usianya saat ini memasuki 20 tahun. Kedua orang tua angkatnya memutuskan untuk memberitahukan fakta perihal Lucia.
Ayah dan ibunya sedang duduk di teras depan. Kebenaran haruslah diucapkan. Dengan berat hati, mereka pun menceritakan semua.
“Nak ... maafkan ayah,” ucap lelaki tua itu berlinang air mata.
Lucia hanya menunduk. Hatinya juga sakit karena orang yang paling disayangi ternyata bukanlah orang tua kandungnya.
“Sudah saatnya kamu mencari keluargamu,” saran sang ibu yang juga merasa sedih.
“Tapi Bu, Luci harus cari ke mana?”
“Kedua orang tuamu tinggal di Jakarta,” jelas ayahnya.
“Waktu itu ... ayah masih bekerja di Rumah Sakit bersalin, sebagai OB. Pada malam kamu dilahirkan, timbullah niat jahat itu. Terpaksa ayah menculikmu karena kami tidak bisa memiliki keturunan.”
“Setelah menculik kamu, ayah dan ibu putuskan untuk kembali ke sini, kampung halaman kami, malam itu juga.” Berno, ayah angkat Lucia menceritakan secara detail.
“Tapi Lucia bahagia. Cara sayang ayah dan ibu melebihi kasih sayang orang tua kandung.” Mengusap air mata yang terus berjatuhan.
Rini, ibu angkatnya memeluk erat Lucia dan mereka sama-sama menangis.
“Sudah saatnya kamu berkumpul dengan mereka Nak. Wajahmu sangat mirip dengan adikmu. Ayah yakin, kedua orang tuamu akan langsung mengenal kamu,” bujuk Berno.
Lucia pun menuruti kehendak orang tuanya meski hati terluka. Atas restu pasutri tersebut, Lucia pun memberanikan diri untuk menghadapi kerasnya kehidupan di Jakarta.
***
Diego Mahendra, seorang pengusaha yang luar biasa sukses. Di usianya yang hampir memasuki kepala 3, Diego belum menemukan wanita yang tepat.
Namun, ketenaran Diego hanyalah sebatas pemilik perusahaan dan Bank Swasta ternama. Tidak ada yang tahu apa kisah di balik kesuksesannya.
Sebenarnya, Diego menjalankan bisnis gelap yang memberinya banyak keuntungan. Bahkan kisahnya sampai sukses pun tidaklah mudah. Diego harus kehilangan orang-orang terdekatnya demi bisnis gelap tersebut.
Sekarang yang tersisa hanyalah Bram, adik kandungnya yang berusia 25 tahun.
“Urus semuanya dengan baik!” ucap Diego kepada Arsyan, orang kepercayaannya setelah Bram.
“Tentu tuan. Hasil rekamannya?” Arsyan menyodorkan tangan.
Diego bersama rombongannya sedang berbincang di sebuah restoran.
Lelaki tampan itu mengeluarkan sesuatu dari saku jas. “Ini! Ancam mereka dengan caramu.”
Arsyan tersenyum sinis. Mata kedua lelaki itu saling tatap, mengatakan kalau semua akan berjalan baik-baik saja.
“Aku rasa sudah cukup ketegangannya!” kata Bram sembari menguap.
Diego melirik adiknya datar. “Kamu bisa pergi sekarang!” melambaikan tangan pada Arsyan.
“Paman mau ke mana?” tanya Bram yang membuntuti.
“Aku mau pulang. Tapi sebelum itu, aku harus membeli hadiah untuk anak-anak.” Arsyan menatap langi yang tampak cerah.
Bram tersenyum senang. Dia sangat dekat dengan kedua putri Arsyan.
“Aku akan menemanimu.”
“Tidak perlu!” membuka pintu mobil.
Tidak peduli dengan larangan itu, Bram langsung membuka pintu mobil dan duduk santai di sebelah Arsyan.
“Siapa yang akan menemani Diego?”
“Ayolah paman ... dia bukan anak kecil yang harus diawasi 24 jam. Lagian banyak tuh anak buahnya.” Menunjuk bodyguard yang berdiri gagah dekat mobil Diego.
“Secinta itukah kamu pada keluargaku?”
Arsyan mengangkat bahu dan menjalankan mobil.
***
“Ra ... gue denger, si Roy tuh suka sama lo!” tutur Rena.
“Gue tau kok!” jawab Clara angkuh.
Clara Stefany, mahasiswi yang terkenal paling cantik di kampusnya. Selain itu, dia juga berasal dari keluarga yang tajir.
Akibat kelebihan itu, membuat dirinya menjadi pribadi yang angkuh dan dingin.
Gadis itu juga selalu jail pada orang lain. Setelah melakukan aksi-aksi konyolnya, Clara dengan entengnya menuduh orang lain.
Pihak yang lemah tidak akan berani membantah. Gadis itu semakin angkuh karena banyak lelaki dari kalangan atas yang mengejar dam mengemis cintanya.
“Lo mau beli apa?” tanya Rena yang dari tadi diajak Clara mengelilingi Mall.
“Gue lagi males nih. Kita kerjain orang yuk?” ajak Clara sambil tersenyum nakal.
Rena yang juga licik ikut tersenyum.
“Lo liat nggak di sana?” Clara menunjuk kedua lelaki berpakaian Rapi yang sedang mengelilingi toko permainan.
Rena menajamkan pandangan. “Liat! Itu pasti bosnya. ”Menunjuk yang lebih tua.
“Dan itu pasti, anak buah!” menunjuk yang lebih muda.
“Ganteng juga ya anak buahnya,” kata Clara sambil tersenyum.
“Lo suka?”
“Sejak kapan gue suka sama orang? Justru dia yang akan suka sama gue!”
“Hmmmm ....” Rena mengangkat kedua bahu.
“Kerjain yuk?” Clara berjalan lebih dulu diikuti Rena.
“Anisa suka apa ya?” tanya Bram pada Arsyan.
“Dia tadi pesan barbie sama aku,”
“Mbak ... bisa bantuin kita, cari barbie yang pas buat anaknya pamanku?” Bram menepuk bahu Arsyan, membuat lelaki paruh baya itu terkekeh.
“Baiklah tuan!” jawab pelayan itu sopan.
Brak! Seseorang menabrak Arsyan.
“Ah ... maafkan kami tuan!” ucap Clara dengan wajah lugu.
Bram menatap dingin tingkah kedua gadis tersebut.
“Tidak apa-apa!” Arsyan hanya tersenyum lalu kembali fokus pada pelayan toko tadi.
Setelah kepergian kedua gadis itu beberapa menit, Arsyan baru menyadari sesuatu.
“Bram!” sambil merogoh saku jas dan celananya.
“Ada apa paman?”
“Kedua wanita itu, pencopet!” melebarkan mata.
“Sial!” Bram berlari lebih dulu. Dia melihat ke mana arah perginya dua wanita asing tadi.
Begitu juga dengan Arsyan. Yang menjadi masalah terbesar adalah, flash yang berisi rekaman musuhnya. Demi apapun, mereka harus menemukan dua gadis itu sebelum Diego tahu.
“Tuan ... mainannya?” panggil pelayan tadi. Namun, tak dihiraukan lagi.