
Diego mendengar kabar duka itu. Dia hanya bisa menghela nafas sambil memejamkan mata.
“Maafkan aku, April. Atas perbuatanku, nyawamu menjadi taruhan.”
Diego pun bisa merasakan, sesakit apa hati Bram. Hari ini, setelah pemakaman April, Bram mengurung diri di kamar dan tidak mau makan.
Semua benar-benar merasa kehilangan. Hubungan April dan Bram sudah pada tahapan serius. Wanita itu juga dekat dengan keluarga Bram, sebagai sosok yang baik dan menyenangkan.
“Apa dia belum juga makan?” tanya Diego pada seorang pelayan.
“Belum tuan,”
Diego terdiam. Ini sudah larut malam. Dia yakin, Bram juga belum tidur.
“Ya sudah. Saatnya tidur,” ujarnya pada pelayan itu.
Wanita tersebut menundukkan kepala hormat sebelum berlalu.
Diego mendekati pintu kamar Bram. “Izinkan aku masuk,”
Tidak membutuhkan waktu lama, Bram membuka pintu. Wajahnya tampak kusam dan tak bersemangat. Diego melangkah masuk lalu ikut duduk di sebelah Bram.
“Untuk kedua kalinya, kita kehilangan!” ujar Diego. Bram hanya diam.
“Oke ... batas bersedihmu hanya sampai fajar. Ingat, kamu harus tetap hidup untuk membalas dendam kita!” tuturnya sambil menepuk bahu Bram.
Tanpa menjawab, Bram hanya mengangguk patuh. Kematian April semakin memberinya kekuatan untuk membunuh Thomas.
“Kali ini, aku memintamu secara langsung! Bunuh Thomas dan buat dia menderita, lebih dari wanitamu!” bisik Diego.
Bram balas menatap kakaknya. Terlihat jelas dendam yang membara di mata itu. Sudah dipastikan, Bram akan melakukan itu cepat atau lambat.
***
Sedangkan di gudang, tempat mereka mengurung Lucia. Gadis itu sedang berusaha membebaskan diri. Dia tidak peduli akan terluka separah apa. Yang jelas, malam ini juga Lucia ingin bebas.
Berulang kali Lucia menggesek tali yang terikat pada tangannya di sebuah tiang besi. Gesekkan itu menimbulkan panas, hingga membuat pergelangan tangannya mulai berdarah.
“Sedikit lagi!” ucapnya getir menahan sakit.
Wajahnya terlihat kotor, bibirnya pucat dan kering. Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai, membuatkan gerah sehingga mengalir keringat dari kepala.
Setelah susah payah, akhirnya dia berhasil. Lucia tersenyum lega dan berdiri. Setelah berhari-hari duduk, ternyata kakinya terasa lemas untuk menopang tubuh..
Lucia menghela nafas dan bersandar pada dinding, sebagai kekuatannya untuk berjalan menuju pintu. Cahaya lampu dari luar tembus melalui ventilasi ruangan itu.
Tepat di depan pintu, dia berusaha menggedor. Sayang, tak berhasil. Tentu saja, pintu itu dikunci rapat dari luar. Lucia menatap ventilasi itu cukup lama.
“Apa aku bisa kabur dari sana?” pikirnya.
Bukan sesuatu yang sulit. Ventilasi itu terbuat dari kaca. Dia bisa menggunakan benda berat di sana untuk memecahkan kaca tersebut. Masalahnya adalah dia takut akan terdengar.
Bahkan, Lucia sendiri tidak tahu sekarang jam berapa. Dia hanya tahu ada dan tiadanya matahari.
“Harus aku lakukan!”
Lucia mengambil tangga dan sebuah palu. Sebelum memecahkan kaca itu, dia masih memantau keadaan. Cukup sepi.
Tangannya gementar dan Prak! Bunyi itu terdengar oleh pengawal yang kebetulan berkeliling. Lucia kaget saat mata mereka bertemu. Kedua lelaki bertubuh besar itu berlari ke arah gudang.
Lucia mulai cemas. Namun, sebuah ide muncul. Gadis itu tersenyum licik dan berlari mendekati pintu.
Ketika dibuka, dia bersandar pada dinding. Begitu dua pengawal itu masuk, dia berlari keluar.
Lucia masih memiliki kekuatan untuk lari. Dengan palu di tangannya, dia berharap itu bisa jadi senjata yang bermanfaat.
Karena bingung dengan arahnya, Lucia justru berlari ke arah rumah utama. Tubuhnya yang kotor meninggalkan jejak kaki pada lantai rumah yang bersih. Para pengawal tersenyum santai sambil mengikuti langkah Lucia.
Gadis itu memilih bersembunyi di salah satu pilar besar. Sambil nafasnya menderu naik turun, Lucia telah mengatur untuk menghantam kepala para lelaki itu dengan palu.
Langkah kaki kedua pria itu semakin jelas. Tangan Lucia pun semakin gementar.
“1 ... 2 ... 3!”
Plak! Satu pukulan tepat mengenai kepala seorang pengawal. Lelaki itu mengaduh kesakitan karena darah segar telah mengalir. Lucia pun kaget dan kembali berlari.
“Lu nggak apa-apa?” tanya temannya.
“Ah ... sakit! Cepat kejar dia,” titah pengawal yang terluka itu sambil memegang kepalanya.
“Oke!” jawab temannya lalu mengejar Lucia.
Teriakan pengawal tadi terdengar oleh Diego yang ingin kembali ke kamarnya. Tentu saja, dia langsung mendekat ke arah suara.
Masih dengan strategi yang sama, Lucia semakin mempererat pegangannya. Suara langkah kali ini, terdengar lebih menakutkan dari sebelumnya. Dada Lucia bergerak cepat naik turun.
“1 ... 2 ... 3!”
Plak! Pukulannya kali ini berhasil ditahan. Lucia melebarkan mata. Orang di hadapannya, menatap penuh emosi padanya.
“Kau ingin melukaiku?” tanya Diego dingin.
“Bukan hanya itu, aku juga ingin membunuhmu!”
Diego merampas palu tadi dan melempar jauh. “Ikut aku!”
“Tidak. Lepaskan aku!” Lucia memberontak.
Diego berbalik dan menarik rambut Lucia sambil berjalan. Gadis itu hanya bisa meringis sakit sambil memegang kepalanya.
Tepat di sebuah pintu, Diego melempar masuk tubuh Lucia. Gadis itu tersungkur jauh. Kakinya semakin sakit.
“Apa maumu? Sebenarnya siapa kalian, hah?” Lucia berusaha menahan air mata. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan mau menjatuhkan air mata di depan lelaki asing ini.
Diego menatap dingin wanita itu. Tanpa menjawab, dia menepuk tangan. Kali ini, Lucia semakin tidak percaya. Seorang pengawal membawa 2 ekor Anj*ng besar dengan bulu hitam. Tampak seram.
“Tidak!” Lucia menggeleng dan merapatkan tubuh di dinding.
Diego melipat tangan pada dada dan tersenyum lebar. “Katakan, siapa yang menyuruhmu untuk mengambil benda itu?”
Lucia hanya memejamkan mata. Sejak awal dia merasa ada yang keliru.
“Ya sudah, bunuh saja aku! Lagi pula, aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan.”
Diego menggeleng. “Lepaskan! Pengawal, tunggu sampai 30 menit, kembali dan pastikan dia mau jujur!”
“Baik tuan!”
Ketika Diego pergi, lelaki itu melepas kedua anj*ng tadi dan langsung menutup pintu.
Terdengar jeritan dari dalam. Diego sempat menghentikan langkah. Sejujurnya dia tidak ingin lagi menindas orang lemah. Tapi, sikap Lucia cukup membuatnya marah. Dia berbalik dan meminta pengawal tadi untuk segera mengeluarkan hewan itu dari sana.
“Bagaimana pun juga, kita masih membutuhkan pengakuannya,”