NOT ME

NOT ME
KEHILANGAN



Apa yang diinginkan telah lengkap. Minuman dan seorang wanita cantik.


Sambil meneguk minuman itu, Diego menikmati pijatan lembut wanita panggilan tadi di sekitar pundaknya.


Niat wanita itu ingin melakukan tugasnya. Baginya ini merupakan sebuah keberuntungan melayani Tuan Muda incaran kaum hawa.


Tidak ada respons yang lebih dari Diego saat wanita itu menyentuh dadanya lembut.


“Pijat saja kepalaku!” ucap Diego dingin.


Wanita itu kaget sekaligus malu. Dikiranya Diego akan melakukan hal yang lebih.


Sebagai lelaki normal, b1rahinya pun mulai terpancing. Diego menarik wanita itu ke atas pangkuannya.


Nafasnya mulai memburu sambil memperhatikan kecantikan lawan jenis di depannya itu.


Tangan kekarnya mulai mendekap erat pinggang wanita itu. Wajah mereka semakin berdekatan. Aroma nafas mulai tercium.


Ketika bibir mereka siap bersentuhan, dering ponsel mengalihkan perhatian Diego.


Dia segera sadar lalu mendorong kasar wanita itu hingga terpental di lantai.


Diego langsung menerima panggilan itu karena dari dokter Johan.


“Tuan ... saya harap Anda tidak sibuk,” ujar Johan lirih.


“Katakan!”


“Bayi Anda telah tiada ...,” suara Johan terdengar serak seperti ingin menangis.


Diego mendengus. “Apa Lucia baik-baik saja?”


“Ya Tuan ... tapi dia belum menyadarkan diri, karena pengaruh bius.”


“Kalian sudah melakukan operasi pengangkatan anak?”


“Belum,”


“Br3ngsek! Apa yang masih kalian tunggu?”


“Kami menunggu persetujuan Anda,”


“Lakukan sekarang! 10 menit lagi aku tiba,”


Diego menutup panggilan dan langsung pergi.


Wanita yang dibuang tadi hanya menggeram dalam hati. Kecewa sekaligus malu.


***


Diego berlari menuju ruangan perawatan. Setibanya di sana, dia melihat Johan telah melakukan operasi.


Tidak ada yang bisa mengusir Diego dari ruangan itu.


Operasi itu berjalan lancar. Sebelum dimakamkan, Diego masih memperhatikan anaknya yang berusia 6 bulan itu.


Gambaran wajahnya sangat mirip dengan Diego. Bentuk alis, hidung, dan bibir.


“Dia mirip denganku,” ucapnya lirih menahan air mata.


Johan mendekati Diego lalu mengusap pelan bahu majikannya.


“Lucia mengalami tekanan batin yang sangat dalam. Hal ini yang berpengaruh pada anak Anda, Tuan,” jelas Johan.


“Aku pikir, kematian anak ini tidak akan mempengaruhiku. Ternyata itu salah!” sesalnya.


“Tidak ada yang mau anaknya mati. Kalau pun ada, pasti atas alasan tertentu dan itu terpaksa.”


“Di mana Bram?” Diego baru menyadari adiknya tidak ada.


“Dia sedang berakhir pekan juga tuan. Kesibukan tadi membuat Saya lupa menghubunginya,”


Johan langsung mengambil ponsel dan menghubungi Bram.


Kabar mengejutkan itu membuat Bram pulang.


Kakak beradik itu saling tatap lemas. Padahal, mereka baru saja ingin mempersiapkan kehadiran keluarga baru, penerus dendam yang paling mematikan.


“Siapkan segera pemakaman,” ucap Diego pada Bram dan Arsyan yang telah hadir juga di sana.


“Bagaimana dengan kondisi Lucia?”


“Dia baik-baik saja,” jawab Johan tenang.


“Kau tidak perlu mengkhawatirkan kondisi j4lang itu!” Diego menatap tajam Bram.


Semua yang ada di sana kaget. Bukankah Lucia pun merasa kehilangan? Lalu mengapa Diego mencaci demikian?


“Bram, segera siapkan upacara pemakaman!” Arsyan berjalan lebih dulu, menyisakan Diego sendiri di kamarnya.


“Apa pun alasannya, kaulah yang membuat anakku mati!” mata Diego merah.


Lucia belum sadar. Dia bermimpi menggendong bayi, namun direbut oleh orang lain. Dia berteriak dan berusaha mengejar tapi tubuhnya terikat dan tidak bisa bergerak.


“Kembalikan anakku!”


Wanita itu tersadar dari tidurnya. Seluruh tubuh terasa sakit terlebih perutnya.


“Jangan dulu bergerak, Nona!” tegur seorang perawat yang menjaga Lucia.


“Aku di mana?”


“Nona sedang dirawat. Tenang saja, ini masih di rumah tuan Diego,” jelas perawat itu sabar.


Lucia merasa ada yang aneh di tubuhnya. Ia menyentuh bagian perut yang terasa kosong dan datar.


“Apa ini?” tanyanya sambil memegang luka bekas jahitan.


“Jangan dipegang Nona, berbahaya!” perawat itu berlari menahan tangan Lucia.


“Apa yang terjadi?”


Perawat itu terdiam. Dia tidak diperbolehkan bicara oleh dokter Johan mengenai kematian bayi itu.


“Kamu hanya terluka,” jawab Johan yang masuk tiba-tiba.


“Dokter!” ucap perawat tadi lalu pamit pergi.


“Lalu ... kenapa perutku terasa kosong?” Lucia panik sekaligus curiga.


“Itu terjadi karena lemas. Tenang Lucia, semua akan baik-baik saja.” Johan mendekat lalu memeriksa pasiennya.


“Sungguh semuanya baik-baik saja?” Lucia meyakinkan. Batinnya merasa ada yang tidak beres.


Tidak mungkin hanya karena lemah bisa membuat perutnya terasa kosong seperti tidak hamil.


“Dokter ... di mana bayiku?” Lucia memaksakan diri untuk duduk.


“Jangan!” Johan mendekat dan menahan gerakan itu.


Lucia menggeleng dan air matanya berjatuhan deras. Dia tahu tidak ada lagi bayi dalam rahimnya. Terlihat perutnya yang rata.


“Ada apa ini?” tanyanya lagi.


Lucia menyadari dirinya lemah. Ditambah satu kantong darah yang didonorkan ke dalam tubuhnya.


Johan tidak berani menatap mata Lucia. Lelaki paruh baya itu menunduk kecil dengan raut wajah sedih.


“Aku tahu, telah terjadi sesuatu!” Lucia menggeleng dan ingin memberontak, tapi mendadak ia terdiam.


Di hadapannya telah berdiri Diego dengan wajah menakutkan. Sorot mata yang dingin dan tajam.


Kali ini Lucia meyakini, kalau Diego juga yang membunuh bayinya.


“Pembunuh!” jerit Lucia sampai gementar seluruh tubuhnya.


“Lucia?” tegur Johan. Padahal, Diego pun sedang terpukul akan kehilangan anaknya.


“Biarkan aku bicara dengannya.”


“Tapi tuan, kondisi Lucia sedang sekarat.” Johan memberanikan diri, karena dia tahu Diego akan berlaku kasar.


“Johan!” bentak Diego.


Johan memperbaiki kaca matanya dan pergi.


Lucia menggeleng dan berusaha menghindar, tapi Diego lebih dulu mencengkeram lengannya.


“Kau bilang aku pembunuh?”


Lucia tidak bisa melawan. Tubuhnya sangat lemas. Energinya seperti terenggut habis, ketika tahu anaknya telah meninggal.


“Kamu yang menginginkan dia mati, bukan?” suara Lucia melemah.


“Tapi aku berubah pikiran. Aku ingin dia tetap hidup!”


Lucia melihat kesedihan di mata Diego. “Sepertinya, Tuhan lebih menginginkan anak itu mati. Agar aku bisa bebas dari siksaanmu!”


“Justru penderitaanmu yang sesungguhnya, baru dimulai!” Diego menarik paksa infus yang tertusuk di tangan Lucia.


Wanita itu meringis kesakitan lantaran perbuatan Diego membuat jahitan di perutnya sakit.


“Kakak!” tegur Bram.


Diego berpaling seolah tidak percaya. “Kau meneriakiku?”


“Kita sedang berduka kak. Lucia pun sedih atas kematian anak kalian. Kenapa kakak tega menyiksanya?”


“Kau membela j4lang ini?”


“Kakak keterlaluan. Bahkan semua orang tahu, kesuciannya direnggut oleh kakak. Lalu kenapa masih memanggilnya dengan sebutan hina itu?”


Diego tersenyum sinis. “Apa kau suka padanya?”


Bram menggeleng. “Aku tahu kakak kecewa tapi bukan berarti kakak berbuat sesuka hati,”


“Aku ingin menghukumnya karena dia berani mengatai aku pembunuh!”


Bram pasrah. Dia mengusap wajah dan mempersilakan dengan kedua tangan. “Lakukan saja kak. Sepertinya kehilangan banyak orang belum cukup untuk kakak,” ucapnya sambil berlalu.