
Meski Clara telah kembali ke pelukannya, tapi France dan Lauren masih belum tenang.
Kabar tentang penculikan Lucia telah terdengar oleh mereka. Kini mereka pun tahu, bahwa Lucia adalah anak yang hilang 20 tahun silam.
“Kita terlambat!” France memecahkan vas bunga di ruangan keluarga.
Laura memejamkan mata dan hanya bisa menangis. Sementara Clara masih trauma dengan siksaan Diego kemarin. Gadis itu memilih di kamar seharian.
“Diego benar-benar melancarkan aksi balas dendamnya. Dia berhasil membuat Clara trauma, lalu sekarang dia ingin membuat anak kita yang satunya menderita lagi.”
“Suruh En culik Lucia ke sini lagi pa,” bujuk Laura.
“Tidak semudah itu istriku. Aku yakin, Diego semakin memperketat pengawasan.”
“Tolong bawa anak kita ke sini. Mama sangat merindukan dia,” tangis Laura pecah dalam pelukan sang suami.
France mengusap lembut rambut istrinya. “Lagi pula, butuh usaha yang keras untuk meyakinkan Lucia kalau dia anak kita.”
“Dia ke sini untuk mencari kita. Aku yakin, saat melihat Clara dia akan percaya!”
“Tenang saja Ma. Papa akan berusaha!”
Thomas sendiri mengakui kehebatan Diego. Lelaki itu 10 langkah lebih cepat di hadapannya.
Hal itu semakin menambah kebenciannya pada Diego. Belum lagi rekaman perbuatan ilegalnya yang disimpan oleh Diego.
“Bagaimana pun juga, aku akan membunuhmu Diego! Jika bisnisku sampai hancur, maka semua orang kesayanganmu akan hancur di tanganku!” Thomas menggenggam jemari tangannya erat.
***
Setelah cukup lama berpisah, Lucia akhirnya dipertemukan lagi dengan kedua orang tua angkatnya.
Wanita itu memeluk erat Berno dan Rini sambil menangis. Ada yang ingin diceritakan, tapi Lucia memilih diam. Dia takut Diego akan berbuat semena-mena kepada ayah dan ibunya.
“Nak?” Rini melepas pelukan itu lalu memperhatikan Lucia.
“Ibu ... aku gagal!” ucapnya kemudian kembali menangis.
Berno dan Rini saling tatap. Mereka sangat sedih melihat Lucia yang sedang hamil.
“Siapa yang melakukan ini?” tanya Rini lembut.
Lucia menggeleng lalu memeluk erat sang ibu. “Biarkan aku pulang Bu. Kita hidup bersama lagi seperti dulu,”
“Tidak bisa Nak,” Berno mengelus kepala anaknya. “Kata tuan Diego, dia akan menikahimu.”
Lucia melepas pelukan itu lalu menatap ayahnya. “Menikah?”
Rini mengangguk. “Apa dia yang melakukan ini?”
Lucia mengangguk kecil.
“Syukurlah, dia mau bertanggung jawab!” ucap Rini bahagia.
Lucia menelan ludah. Dikiranya perkataan Diego semalam hanya sebuah bualan. Tapi dia masih berharap, Diego hanya menipu kedua orang tuanya agar tidak perlu cemas.
“Apa yang diceritakan pada ayah dan ibu?” tanya Lucia.
“Tidak ada Nak. Tuan Diego yang meminta kami untuk bercerita tentang kamu,” jelas Rini.
“Lalu ... ayah dan ibu melakukan itu secara jujur?”
“Tentu saja. Dia lelaki yang baik. Ayah pikir tidak ada salahnya bercerita jujur, mungkin dia bisa membantu kamu bertemu keluargamu,”
“Apa yang ayah katakan? Kalianlah keluargaku satu-satunya. Sungguh, bawa aku pulang, aku mohon!”
“Selamat siang!” sapa Diego hangat dari pintu.
Lucia mengusap wajah lalu memperbaiki posisi duduknya. Dia tidak mau Diego tahu kalau dirinya menangis.
“Selamat siang tuan!” jawab Rini dan Berno bersamaan.
Diego sempat melirik Lucia. Saat itu juga dia ingin menampar pipi mulus tersebut.
“Lucia ... biarkan aku bicara dengan ayah dan ibu,”
“Aku juga ingin mendengarnya.” Tanpa Ragu, Lucia tersenyum lebar.
Wajah Diego mendadak datar. Tatapannya pada Lucia semakin menajam. Tak ingin kalah, Lucia pun balas menatap.
Diego tersenyum kecut lalu beralih pandang pada Berno dan Rini. Dari tatapannya seolah mengancam nyawa kedua orang itu.
Diego merayakan kemenangan dalam hatinya. Sekarang dia tahu titik terlemah Lucia adalah kedua orang ini.
Di dalam kamarnya, Lucia sangat gelisah sekaligus penasaran dengan kedua orang tuanya.
“Sungguh, jika sampai terjadi sesuatu, aku akan membunuhmu!”
“Siapa yang ingin kau bunuh?” suara itu mengagetkan Lucia.
Diego berjalan santai dengan kedua tangan di saku celana.
“Kamu! Jika ayah dan ibuku terluka, maka ...,”
“Apa kau mampu membunuhku?” Diego mendekati Lucia yang duduk bersandar di ranjang.
“Mampu!” Lucia menatap mata Diego.
Cukup lama mereka saling tatap.
‘Tentu saja kau mampu, Lucia. Karena dalam dirimu yang lugu itu mengalir darah psikopat keluargamu!’ batin Diego.
“Aku tidak akan membunuh orang yang tak bersalah. Ayah dan ibumu sudah pulang!”
“Secepat ini?” Lucia melebarkan mata lalu beranjak turun.
Namun, tangan Diego lebih dulu menariknya dan menindih tubuh itu.
“Biarkan aku bertemu mereka lagi.”
“Kau merindukan mereka?”
“Tolong untuk saat ini posisikan dirimu jika menjadi aku. Cukup lama kami tidak bertemu, aku sangat merindukan ayah dan ibu,”
“Kau tidak rindu padaku?”
Lucia memalingkan wajahnya saat Diego ingin bersentuhan bibir. Lelaki itu hanya tertawa kecil. “Apa kau tidak merindukan sentuhanku?”
“Aku hanya merindukan orang-orang baik dalam hidupku. Peng3cut sepertimu, tidak pantas untuk dirindukan!”
Diego menatap dingin Lucia. “Aku harus mengatakan sesuatu padamu.” Bangkit lalu mengambil posisi duduk.
Lucia pun turut melakukan itu sambil memperbaiki bajunya.
“Bayi dalam kandunganmu, harus dimusnahkan!” tegas Diego.
Lucia menggeleng lalu memeluk perutnya. “Tapi ... dia anakmu!”
“Ya, karena itulah aku berhak membunuhnya!”
“Bunuh juga aku!” Lucia berdiri dan berusaha menjaga jarak.
“Tentu saja. Tapi, belum giliranmu. Saat ini biar bayinya dulu,”
Lucia terpaku. Apa pun situasinya dia tidak akan menangis di hadapan Diego.
“Apa kau tidak ingin tahu, kenapa aku menculikmu lagi?”
“Tidak! Kau mana paham tentang perasaan wanita?”
“Bagus! Aku katakan saja. Bayi itu harus dibunuh, karena aku tidak ingin menjadi seorang ayah. Aku juga tidak ingin mempunyai anak dari rahim wanita rendahan sepertimu!”
“Aku membawamu ke sini, dengan tujuan menyiksamu dan menjadikan kamu pel4cur pribadiku!”
Air mata Lucia pun jatuh. Perkataan Diego sungguh menyakitkan.
“Kau membohongi orang tuaku? Katamu ingin menikahiku dan bertanggung jawab,”
Diego tertawa sambil menggeleng. “Aku pikir kamu berbeda dengan wanita lain. Ternyata kau juga mau menjadi bagian dari hidupku. Lihat, kau juga pasti menginginkan hartaku bukan?”
Lucia memilih diam sambil mengusap air mata. Dia tidak akan berdebat lagi. Sekarang dia hanya ingin bayinya selamat.
Diego berdiri dan mendekati Lucia.
“Peluk anakmu sepuas hati sampai malam ini. Karena besok dia akan dibunuh!” bisiknya kejam lalu pergi.
Lucia terduduk lemas di lantai. Wanita itu melepas semua air mata benci dan sedihnya. Meratapi nasibnya yang menyedihkan ini.
“Ternyata selama ini aku berusaha tegar hanya untuk membuatmu mati. Maafkan ibu,”