NOT ME

NOT ME
KEGELISAHAN FRANCE



France menyapu habis seluruh isi ruangan kerjanya dengan tongkat golf.


“Kep4rat! Apa yang kalian lakukan sampai anakku diculik?” wajahnya gementar dan merah.


Laura sang istri hanya terduduk sambil menangis di sofa ruangan itu.


Sedangkan empat orang pengawal yang diutus untuk menjaga Clara telah babak belur. Mereka berdiri sambil menunduk di hadapan France, menunggu hukuman apa lagi yang akan diterima.


“Sekarang juga, panggil seluruh pengawas ... sudah saatnya kita berperang!”


“Tidak Pa ...,” Laura berdiri dan memegang tangan suaminya. “Jika Papa mengajak mereka berperang, kita akan kalah telak. Anak kita sedang disandera. Mereka bisa saja membunuh dia kapan pun,”


“Lalu aku harus bagaimana??” France membuang tongkat golf dan terduduk di meja sambil memijat dahi.


“Kita cari mata-mata terhebat untuk menculik Clara lagi,”


“Kita tidak punya banyak waktu untuk itu! Mereka bisa saja membunuh Clara detik ini juga!” bantah France.


Laura memegang dadanya yang bergemuruh. Sebagai seorang ibu, dia rela menggantikan posisi anaknya saat ini juga.


“Jangan takut,” Thomas masuk dengan gagahnya. Semua yang ada di ruangan itu menunduk hormat padanya termasuk France dan Laura.


Lelaki itu mendekati France dan memukul bahu temannya yang mulai rapuh itu.


“Aku sudah memiliki orang itu. Sekarang perintah saja dia!” Thomas menunjuk ke arah pintu.


Di sana, berdirilah seorang lelaki dengan perawakan seperti orang Chinese. Bermata sipit, berambut lurus, dengan kulit putih bersih.


“Dia adalah salah satu agen rahasia terbaik di Asia. Pergerakannya seperti angin. Cepat dan tidak bisa dilihat,” jelas Thomas dengan senyum terbaiknya.


France memperhatikan orang itu dengan teliti. “Apa dia bisa berbahasa Indonesia?”


Lelaki asing itu tersenyum lalu berjalan maju kemudian menunduk hormat. “Saya orang Indonesia Tuan. Hanya saja masih keturunan China,”


Thomas terkekeh. Lelaki itu melambaikan tangan pada keempat pengawal yang gagal itu agar pergi.


Namun, belum sampai pada pintu keluar, nyawa keempat orang itu habis oleh tembakan agen tadi.


France mengangguk. Ketakutan di wajahnya mulai hilang. “Aku yakin kamu bisa menyelamatkan putriku,”


“Tentu tuan. Silakan beri saya perintah!” ucapnya sambil menundukkan kepala.


“Sekarang juga!”


“Baiklah!”


“Tunggu!” suara France menghentikan langkah itu. “Siapa namamu?”


“En ...,”


France mengerutkan dahi. “En?”


“Ya ... mungkin orang tuaku tidak suka nama yang berbelit,” En mengangkat kedua bahunya.


“Baiklah En, silakan kerjakan tugasmu dengan baik!”


Thomas melipat tangannya dan tertawa lagi. “Aku pikir sudah saatnya membuang mayat-mayat orang tidak berguna ini!”


France dan Laura hanya tertawa kemudian mengajak Thomas keluar.


Urusan mayat-mayat itu adalah pekerjaan para pengawal lain.


***


“France ... aku rasa bayimu yang hilang 20 tahun silam telah ditemukan,” kata Thomas ketika mereka telah bersantai di taman rumah France.


“Maksud tuan?” Laura melebarkan mata.


Thomas hanya tersenyum. “Beberapa waktu yang lalu aku menerima laporan dari anak buah kita,”


France dan Laura menyimak dengan baik cerita itu.


“Bram menangkap orang yang salah. Anehnya wanita itu sangat mirip dengan Clara. Lalu, sesuai dengan informasi yang dikumpulkan, dia ke kota untuk mencari keluarganya.”


Seperti ada detakkan di hati Laura. Penjelasan Thomas menggerakkan hatinya dan timbul bisikan hati yang mengatakan itu benar.


“Apa tuan mengetahui nama anak itu?” Laura mulai gelisah.


“Namanya Lucia,”


Seketika Laura kecewa. Anaknya yang hilang itu diberi nama Claudia.


“Jangan dulu kecewa Nyonya France. Bisa saja penculik itu mengganti nama anakmu,”


“Hanya saja, di dunia ini banyak manusia yang memiliki wajah kembar meski tidak ada hubungan darah,” suara France parau. Bisa dipastikan dia pun kecewa.


Thomas tersenyum simpul sambil menggeleng. “Kasusnya berbeda temanku. Sekarang aku tahu keberadaan wanita itu. Bukan hanya wajah, seluruh anggota tubuhnya sama dengan Clara.”


“Bawa aku pada wanita itu, tuan!” pinta Laura tanpa menunggu lagi.


Thomas menggeleng. “Tidak untuk saat ini. Kita harus berpura-pura tidak tahu, demi keamanan kedua putrimu. Selamatkan lebih dahulu Clara,”


“Tapi bagaimana jika mereka tahu tentang anak itu. Lalu menjadikannya sandera?” mata Laura berkaca.


“Mereka tidak akan tahu. Kabar tentang anakmu yang hilang itu tidak diketahui orang luar. Maka, Diego pun tidak akan tahu. Biarkan mereka bingung dan menebak sendiri kesamaan dari kedua putri kembarmu,”


France menghela nafasnya. “Apapun keputusanmu, aku ikut saja!”


“Oh ... ayolah temanku, lihat wajah pasrahmu itu.” Thomas kembali terkekeh lalu memukul bahu France lagi.


“Tuan, Anda tahukan sesayang apa aku pada putriku? Sungguh dia adalah satu-satunya kelemahanku,”


“Semua itu jelas sekali dari matamu. Serahkan saja padaku France. Aku juga tidak akan membiarkan keponakanku terluka,”


Meski tidak mempunyai istri dan anak, Thomas tahu seperti apa suasana hati France saat ini.


Lelaki tampan itu memilih hidup sendiri bukan karena tanpa alasan. Thomas meyakini bahwa cinta adalah kelemahan. Karena baginya kehilangan adalah hal yang paling menyakitkan.