NOT ME

NOT ME
PERHATIAN DIEGO



Diego memperhatikan sikap Bram pada Lucia melalui CCTV. Dia menggeram dalam hati, merasa panas dengan kedekatan mereka.


Setelah Bram pergi, Diego pun beranjak kembali ke gudang itu. Niatnya ingin menyiksa Lucia lebih kejam dari sebelumnya.


Pintu gudang ditendang. Lucia tidak menunjukkan sikap kaget. Dia tahu hanya lelaki 1blis itu yang akan melakukan hal menyebalkan.


“Puas kau bercengkerama dengan adikku?” Diego menarik kasar tubuh Lucia.


“Apa lagi yang kau mau?” tubuhnya yang lemah hanya bisa menuruti perbuatan Diego.


Ternyata Diego membawa Lucia kembali ke kamar wanita itu.


“Istirahat di sini!” ucapnya sambil mendengus lalu berbalik.


Lucia mengerutkan dahi. “Seharusnya dia menyayat kulitku dengan silet,”


Beberapa menit setelah kepergian Diego, empat orang pelayan wanita masuk membawa makanan serta obat untuk Lucia.


“Siapa yang menyuruh kalian?”


“Tuan Diego,” jawab seorang pelayan sopan.


“Ini tidak beracun kan?” selidik Lucia.


Keempat pelayan itu saling tatap kemudian menggeleng lembut.


Lucia semakin bingung dengan sikap Diego yang berubah hanya dalam hitungan detik.


“Maaf Nona, Anda diminta untuk makan dan segera minum semua obat ini,” jelas pelayan tadi.


Lucia tersenyum tipis sambil mengangguk. Dia tahu, jika tidak melakukan itu, maka para pelayan ini yang akan menderita.


“Aku akan makan dan minum obat-obat ini. Setelah itu, akan istirahat. Kalian bisa pergi,”


“Tapi ... Tuan menyuruh kami mengawasi Anda,”


Lucia menghela nafas dalam lalu mengusap wajah. ‘Permainan apa lagi ini?’ batinnya.


“Baiklah!” jawabnya kemudian mulai makan serta bersikap biasa saja.


Seharusnya saat ini, Lucia adalah wanita yang paling sedih di dunia karena kehilangan anaknya. Tapi, baginya ini tidaklah seberapa.


Sejak awal masuk dalam hidup Diego, Lucia merasa telah mati. Ditambah lagi kematian orang tua angkatnya, semakin membuat Lucia kehilangan arah hidup.


Lalu, seiring berjalannya waktu, Lucia tahu alasan dirinya disiksa sedemikian rupa.


Selesai dengan makannya, Lucia bergegas minum beberapa obat yang diberikan tadi.


“Lukanya masih sakit?” tanya salah satu pelayan.


Lucia hanya tersenyum kecut. Dia tahu ini adalah pertanyaan dari Diego. “Masih. Tapi aku bisa mengatasinya,”


“Jika Nona memerlukan sesuatu, panggil saja kami!” tawar para pelayan itu.


Lucia melambaikan tangan. “Kalian bisa pergi sekarang! Aku hanya ingin tidur.”


“Baik Nona!” jawab mereka serentak lalu memberi hormat sebelum pergi.


“Aku bukan majikan kalian!” ucapnya perlahan saat para pelayan itu menghilang di balik pintu.


Dia terus saja berpikir, bagaimana bisa Diego tahu segala aktivitasnya?


Pengaruh obat tadi membuat mata Lucia terasa berat, kemudian pada akhirnya ia tertidur.


Diego masih ingin memastikan apakah Lucia tertidur nyenyak atau akting.


“Ah ... tidak mungkin. Lagian, dia bukan tipe wanita yang suka drama!”


Diego memutuskan untuk melihat kondisi Lucia secara langsung.


Wajah Lucia yang tertidur nyenyak terlihat sangat cantik. Diego mendekat dan menatap lekat.


Ada perasaan kasihan dalam hatinya. Akibat perbuatan keluarganya, Lucia harus menanggung penderitaan ini.


“Mungkin ini sudah jalanmu, menanggung semua kesalahan mereka. Aku juga tidak bisa melepasmu begitu saja!” lirih Diego.


Lucia menggeliat. Pengaruh obat membuatnya begitu nyenyak.


Tangan Diego spontan mengelus pipi mulus Lucia. Dari wajahnya, terlihat dia sangat menderita.


Diego terpaku akan kecantikan itu. Namun, ia berusaha menyadarkan diri. Secantik apa pun, dia tidak akan mau menghadirkan wanita dalam hidupnya. Bagi Diego, itu hanya kelemahan.


Dia bersandar pada kepala ranjang sementara tangan kanannya masih diletakkan di atas kepala Lucia. Diego menatap nanar langit-langit kamar.


Saat ini dia memikirkan Arsyan yang sedang mengikuti pertemuan antar mafia di Macau.


Begitu banyak urusan dalam hidupnya, sehingga Diego tidak ingin memikirkan hal tentang cinta.


Ponselnya berdering. Diego meraih benda itu dari saku celananya. Panggilan dari Arsyan.


“Aku baru saja memikirkanmu,” ucapnya sebelum Arsyan berbicara.


“Tuan ... ada yang harus kita bicarakan!” suara Arsyan terdengar berbisik.


Diego bangkit dan beranjak menuju kamarnya.


“Katakan!”


“Aku rasa ada kecurangan di antara mereka.”


“Apa kau seyakin itu?” selidik Diego.


“Ya tuan ... ada beberapa pihak yang bekerja sama dengan Thomas.”


“Kau sudah menerima jatah kita?”


“Mereka bilang barang yang dipesan belum sampai.”


Diego menyipitkan mata. “Aku akan tiba di sana, besok!”


Panggilan diakhiri. Diego memerintah Bram untuk menyiapkan penerbangan menuju Macau.


Diego memiliki beberapa jet pribadi dengan pilot yang hebat. Bukan hal yang sulit baginya untuk bepergian ke mana pun ia mau.


Sebelum berangkat, Ia masih memperhatikan Lucia dari CCTV. Wanita itu masih terlelap.