
France hampir g1la ketika menerima pesan singkat dari Bram.
Pesan itu mengatakan bahwa Lucia sedang mengandung anak Diego. Dan, bayi itu akan dibunuh besok pagi.
“Diego ... sungguh terkutuk perbuatanmu!”
Thomas tak bergeming mendengar cerita France.
“Kita harus menyelamatkan putrimu. Bagaimana pun juga dia sedang mengandung cucumu,”
“Tapi tuan, dalam tubuh anak itu mengalir darah Diego.”
“Dia akan kita besarkan lalu kita didik. Kemudian kita jadikan dia bom untuk Diego suatu saat nanti,”
“Aku tidak menyangka akan sekacau ini!” France memijat dahinya.
“Misi balas dendam mereka sungguh luar biasa. Mari kita buat Diego kembali terancam!”
“Maksud Anda?”
Thomas tersenyum tipis. “Culik kedua putri Arsyan. Aku jamin, ini akan menjadi kelemahan Diego juga!”
France mengangguk. “Aku setuju. Arsyan saat ini sedang di luar negeri, mengurus bisnis perusahaan Diego,”
“Lancarkan Malam ini juga!” Thomas terkekeh.
***
Malam ini, Diego beserta seluruh penghuni istananya mengenang 7 tahun kematian orang tua serta adik kembarnya.
Semua orang hening dan mendekap dalam kamar. Meski 7 tahun berlalu, Diego masih menjatuhkan air mata pedih.
Rasanya percuma dengan semua pencapaiannya saat ini. Terasa sia-sia. Tidak ada tempat untuk berbagi keluh kesahnya. Semua beban dipikul sendiri.
Bukan tidak percaya pada Arsyan dan Bram. Bagi Diego, kedua lelaki itu juga hidup dengan beban yang cukup banyak. Terlebih balas dendam di atas balas dendam.
Diego merenung di kamarnya. Sekarang, dia hanya ingin membunuh Thomas dan France. Dengan begitu sakit hatinya terbalas dan dia akan hidup tenang.
Ponselnya berdering. Diego tahu panggilan dari nomor tak dikenal itu adalah Thomas dan France.
“Ada apa?” jawabnya datar.
“Aku turut berduka ... hahaha. Tak terasa 7 tahun sudah kematian mereka,”
“B4ngsat!”
“Jangan dulu ditutup. Aku punya kejutan untukmu,” ucap France lalu mendekatkan ponsel pada kedua putri Arsyan.
Terdengar di seberang mereka menangis dan meminta pertolongan pada Diego.
Lelaki itu terperanjat lalu berdiri. Matanya terbuka lebar, nafasnya memburu.
“France!”
“Silakan sakiti terus putriku. Maka, kedua malaikat ini akan menerima hukuman yang setimpal!”
Diego tak bisa berkata. Lelaki itu lemah. Dia tahu sejahat apa France.
Diego menjatuhkan ponselnya. Kepalanya terasa sakit. Entah apa yang harus dikatakan pada Arsyan jika terjadi sesuatu pada keluarganya.
Mengingat perkataan France tadi, Diego berlari menuju pintu gerbang utama. Beberapa pengawal yang melihat itu berlari mengikuti langkah sang tuan.
Ketika pintu gerbang terbuka, tergeletak di sana, mayat sepasang suami istri yang tak bersalah.
Di saat yang bersamaan, Lucia menjerit histeris. Tak disangka mayat itu adalah ayah dan ibunya.
Keributan tadi membawanya ikut keluar dan ingin melihat apa yang terjadi.
Wanita itu menangis dan memeluk mayat ayah dan ibunya secara bergantian.
Diego terdiam. Dia bahkan tidak mampu melihat mayat-mayat itu.
“Ayah ... ibu!” seru Lucia berkali-kali.
Wanita itu menatap Diego tajam. Tanpa berpikir lagi, dia mendekat lalu menampar wajah tampan itu.
Para pengawal dan pelayan histeris. Namun, langkah mereka ditahan Diego.
“Bawa mayat mereka masuk!” titahnya kemudian berjalan lunglai menuju rumah utama.
Kini Lucia diseret kasar menuju kamarnya. Wanita itu tidak peduli jika harus disiksa atau dibunuh. Baginya tidak ada lagi yang harus dipertahankan. Ayah dan ibunya telah mati. Dia mengira Diego lah yang membunuh mereka.
Pesan singkat masuk ke ponsel Diego.
‘Aku yang membunuh mereka, karena berani menculik anakku. Bisa ku pastikan kau akan mati demikian!’
Diego membanting ponselnya. Baginya Berno dan Rini tak pantas diperlakukan demikian. Mereka adalah orang baik.
“Aku pikir sudah waktunya kita berperang!”
Bram mengerutkan dahi. “Tapi kak?”
“Sekarang!” serunya.
Para pengawal ikut berseru. “Perang!”
“Bram ...,” panggil Diego.
“Ada apa kak?”
“Sembunyikan Lucia di ruang pribadiku. Bawa juga dokter Johan bersamanya!”
“Aku juga ikut berperang kak!”
“Jaga Lucia! Bagaimana pun juga dia sedang mengandung anakku,”
“Kakak sendiri yang ingin membunuhnya kan?” Bram bingung.
“Rawat bayiku dengan baik. Didik dia! Jika malam ini aku tidak kembali, pastikan dia yang akan membunuh France kelak! Jaga juga rahasia ini dari Lucia. Dia tidak perlu tahu siapa keluarganya!”
“Jika ada kesempatan, izinkan aku yang membunuh Thomas!” pinta Bram.
Diego mengangguk. “Lakukan perintahku sekarang juga!”