NOT ME

NOT ME
KETAHUAN



“Periksa seluruh tubuhnya!” Arsyan mengusap dagu.


“Baik Tuan!” jawab kedua pelayan wanitanya.


“Sepertinya dia bosan hidup!” wajah Bram dingin dan menyeramkan.


Padahal, lelaki itu sangat hangat. Tapi, perbuatan Clara dan Rena tidak bisa dimaafkan. Belum lagi, dugaan mereka yang salah. Dikiranya Lucia hanya berpura-pura b*doh untuk menjebak mereka.


“Tunggu sampai dia sadar, aku akan memberinya perhitungan!” geram Bram. Wajah tampannya berubah menyeramkan.


Arsyan hanya duduk dan terdiam. Laporan dari kedua pelayan wanitanya, bahwa mereka tidak menemukan apapun pada tubuh Lucia.


“Kita harus segera menemukan benda itu!” Arsyan mengusap wajahnya.


“Ya ... kalau tidak, kak Diego akan murka. Entah apa yang terjadi jika dia tahu!” Bram pun ikut mengusap wajah.


“Paman bisa pulang sekarang! Aku yang akan urus gadis itu.”


“Ah ... ini semua kesalahanku, jadi aku juga harus menunggu.”


“Tidak paman! Anak-anak sudah rindu. Hampir 2 Minggu mereka menanti paman pulang. Aku akan mengurus semuanya.” Bram masih berusaha tersenyum.


“Tapi ...,”


“Sampaikan salamku pada bibi.” Bram menarik paksa tangan Arsyan agar mau pulang.


Lelaki paruh baya itu pun terpaksa menurut. “Baiklah ... aku percaya padamu,”


Bram tersenyum kecut dan melambaikan tangan.


Selepas kepergian Arsyan, wajah Bram berubah dingin dan menakutkan lagi.


Lucia membuka mata perlahan. Didapati tubuhnya dalam keadaan duduk dengan kedua tangan terikat serta mulutnya diikat kain.


Gadis polos itu mengerutkan dahi, sambil berusaha melepaskan diri.


“Jangan harap kamu akan selamat!” suara lelaki dari arah depan membuat Lucia berhenti bergerak.


Ditatapnya lekat wajah itu. Jelas dia sangat bingung. Entah apa salahnya sampai diperlakukan sedemikian rupa.


“Apa maumu, boc*h?”


Lucia berusaha menggerakkan tubuh. Bagaimana dia menjawab kalau mulutnya disumbat?


“Pelayan!” panggil Bram.


Kedua wanita berlari masuk. “Iya tuan!”


“Buka mulutnya. Biarkan kita dengar, apa jawabannya.”


“Ah ....” Lucia mendesah ketika benda yang menyiksa itu terlepas.


“Di mana kamu sembunyikan benda itu?” tanya Bram lagi.


“Benda apa?” Lucia semakin tidak mengerti.


“Jangan munaf*k! Aku tahu wajah sok polosmu itu,”


“Sungguh aku tidak tahu apa maksudmu! Sekarang, lepaskan aku!” memberontak dan balas menatap Bram tak kalah tajam.


Bram hanya tersenyum sinis. “Kamu belum tahu kan sekarang sedang berhadapan dengan siapa?”


“Aku tidak peduli!” Lucia menatap marah Bram.


Karena emosi, lelaki itu mendekat lalu menampar wajah mulus Lucia. Gadis itu kaget. Seluruh wajahnya terasa panas.


“Kau tahu ... bahkan nyawamu tidak ada bandingannya dengan benda itu!”


“Siapa kamu, berani-beraninya membandingkan hidupku dengan benda yang aku sendiri tidak tahu!”


“Katakan saja di mana kamu membuang dompet itu. Setelah itu kamu bebas. Aku juga akan memberimu uang dalam jumlah banyak.”


“Aku tidak butuh uangmu!” balas Lucia tak kalah geramnya.


Bram semakin marah. Terlihat jelas di mata wanita itu, dia tidak takut. Jika demikian, bisa dipastikan dia tidak tahu. Tapi Bram juga meyakini kalau dia tidak mungkin salah orang.


“Baiklah ... karena kamu tidak mau mengaku, aku akan membuatmu menyesal!” berbalik dan pergi.


Rasanya percuma jika dia berteriak. Lucia yakin tidak akan ada orang yang datang untuk membantunya.


“Ya Tuhan ... ada apa ini? Niatku datang ke sini untuk bertemu keluargaku, lalu kenapa aku harus diperlakukan begini?” menatap sedih langit-langit ruangan.


Lucia memang gadis desa namun dia tidak pernah takut jika dirinya dalam posisi benar. Gadis itu hanya tunduk pada kedua orang tuanya. Selain dari itu, tergantung perlakuan orang-orang.


Gadis itu berusaha mencari celah agar dirinya bisa kabur. Memutar kepalanya ke sana ke mari, mencari benda tajam atau sejenisnya.


Sedangkan dari kejauhan, Bram memperhatikan itu dari rekaman cctv yang terhubung langsung dengan tabletnya.


“Rupanya, dia sudah bosan hidup!”


***


Di ruangan pribadinya yang terletak di bawah tanah, tepat di bagian bawah kamarnya, Diego sedang menahan luapan amarah.


Orang sepertinya tak butuh pengakuan lagi. Dia sudah tahu, benda berharga itu telah hilang dari tangan Arsyan dan Bram.


Yang membuatnya kesal adalah, dia tidak bisa berlaku kasar kepada Arsyan dan Bram. Kedua orang itu yang paling disayanginya. Bahkan mungkin mereka juga alasan kenapa Diego masih ingin hidup.


Lelaki itu memejamkan mata. Dia marah karena Arsyan dan Bram tidak berani jujur padanya sampai sekarang. Hasil rekaman itu telah hilang 2 hari yang lalu. Tidak ada satu pun yang berani jujur padanya.


“Aku ingin liat sejauh mana mereka akan jujur!” mengambil ponsel di atas meja dan menghubungi Arsyan.


“Datang ke ruangan pribadiku, sekarang!” tanpa menunggu jawaban, Diego memutuskan panggilan itu.


Kemudian mengirim pesan singkat pada Bram yang berisi perintah tadi.


Kurang dari 15 menit, muncullah kedua lelaki itu. Raut wajah mereka tidak menampakkan rasa bersalah sedikit pun. Diego semakin kesal atas sikap mereka.


“Duduk!” ucapnya dingin.


Bram melirik Arsyan dan melakukan titah kakaknya, begitu juga dengan Arsyan.


“Apa kalian sudah melakukan keinginanku?” tanyanya dengan wajah datar.


“Keinginan yang mana? Bukankah keinginanmu sangat banyak, tuan?” Arsyan yang tahu maksud pembicaraan Diego, mulai gugup.


“Hasil rekaman dari perbuatan musuh kita!” Diego memajukan kepala menatap tajam Bram dan Arsyan secara bergantian.


“Ah ....” Arsyan melirik Bram.


“Kepar*t!” memukul meja.


Kedua lelaki di hadapannya sama-sama kaget. Diego paling benci melihat adanya rasa bersalah di wajah orang-orang tercintanya. Mungkin itu adalah kelemahan terbesarnya.


“Apa susahnya kalian berkata jujur?” berdiri dan menjauh dari Arsyan dan Bram.


“Maafkan kami tuan!”


“Segampang itu kalian berkata maaf? Kau tahu kan Arsyan, sebesar apa kepercayaanku padamu?”


“Dan kau Bram, kenapa tidak bilang saja? Kalian tahu aku paling benci jika dibohongi begini.”


“Kami tidak berniat membohongi Anda tuan!”


“Lalu? Kau namakan apa ini?” berbalik menatap mereka secara bergantian.


“Kami sedang berusaha menemukan benda itu.”


“Kenapa kalian tidak menghubungiku saat itu juga?” suaranya semakin meninggi.


Arsyan menunduk. Bram bersandar pada kursi sambil memijat dahi.


“Bawa aku pada wanita ibl*s itu!” Diego berjalan lebih dulu.


“Sepertinya wanita itu akan mati!” bisik Arsyan.


“Biarkan saja! Dia pantas menerima itu.”


“Yah ... tapi masa depan bisnis kita ada padanya. Kalau dia mati, maka semuanya akan hancur!”


“Tenang saja paman, kak Diego tidak sebod*h itu.”


“Aku menunggu!” ujar Diego dari atas tangga, membuat Arsyan dan Bram tersadar lalu beranjak pergi dari ruangan itu.