
Semua perlengkapan medis yang melekat di tubuh Lucia telah dilepas oleh Diego. Kini, dia menyeret kasar wanita itu menuju gudang.
“Kakak!” Bram masih mengikuti langkah mereka, berusaha membujuk Diego.
“Kalau kau masih terus mengikuti langkahku, berarti kau menyukai j4lang ini!”
Lucia berusaha melepaskan diri dari genggaman Diego. “Kau bahkan tidak layak menjadi seorang kakak!”
Ucapan itu menghentikan langkah Diego. “Beraninya wanita murahan sepertimu berbicara begitu?”
“Murahan?” Lucia menyipitkan mata. Tangan kanannya memegang bekas operasinya yang terasa sakit.
Diego memilih diam untuk menyimak perkataan Lucia selanjutnya. Sementara Bram hanya bisa menggeleng, seakan tidak percaya dengan keberanian Lucia.
“Wanita yang pantas kau sebut murahan, adalah mereka yang berlomba untuk mendapatkan cintamu! Aku tidak serendah itu, yang tergila-gila dengan harta dan tampangmu!”
Lucia berhasil melepaskan diri dari tangan Diego. Ia bersandar pada salah satu pilar dan masih memegang perutnya.
Wajahnya berubah pucat dengan keringat dingin mengalir di sana.
“Kau ingin menghukum aku?” Lucia memaksakan senyum.
“Aku bahkan tidak tahu di mana letak kesalahanku. Kau bilang karena aku tidak menghormatimu? Cuihhh ... kau tidak pantas dihargai apalagi dihormati.”
“Aku ditangkap dan dipermainkan dengan sesukamu. Kesucianku kau renggut secara paksa, lalu aku dibilang murahan? Hahahah,”
“Lalu, kematian anakku pun semua karena kesalahanku? Orang tuaku kau bunuh dengan sadis, ketika aku marah kau justru menyebutku pel4cur.”
“Aku pikir, kau seorang yang pintar. Harusnya kau bisa membedakan penggoda dan korban atas perbuatan menjijikkanmu itu!”
Mata Diego merah, berusaha mengontrol amarah. Lucia tertawa kecil melihat sorot mata itu.
“Lihat ... kau marah karena aku mengatakan hal yang sebenarnya.” Wanita itu berusaha kuat.
“Katakan padaku, kenapa aku diperlakukan demikian? Aku tidak mengenalmu sebelum ini. Tapi kau terus menyiksa bahkan ingin agar aku memohon kematian itu.”
Diego mendekati Lucia. “Kau ingin tahu alasan, kenapa aku menyiksamu?”
“Katakan saja, aku tidak akan percaya!”
Diego tersenyum sinis. “Segala sesuatu tentangmu sudah aku ketahui. Bahkan keberadaan orang tua kandungmu!”
Lucia mengerutkan dahi dan menyimak perkataan Diego.
“Alasan aku ingin membunuhmu adalah ...,”
“Kakak?” cegat Bram tapi Diego semakin mendekati Lucia.
Lucia menelan ludah. “Tidak. Aku rasa ini hanya cerita omong kosong!”
“Kau pikir, sepenting itukah aku harus berurusan dengan orang dari kalangan biasa?”
“France telah membunuh keluargaku. Maka sebagai gantinya, dia harus melihat putrinya tersiksa!” Diego kembali menarik Lucia menuju gudang.
“Lepaskan aku!”
“Kau sudah tahu kebenarannya. Maka segala bentuk siksaan harus diterima tanpa adanya penolakan!” mendorong kasar tubuh Lucia hingga tersungkur di lantai gudang yang berdebu.
Wanita malang itu batuk, akibat udara yang menyesakkan dada.
“Pilih hukuman mana yang kau inginkan?”
“Mati!” jawab Lucia tegas sambil menatap tajam mata Diego.
“Belum saatnya. Kau harus melihat neraka sebelum kematian datang!” Diego terkekeh lalu keluar dari ruangan itu.
Lucia masih belum percaya perihal orang tuanya.
“Tidak mungkin aku berasal dari keluarga yang dikatakan b4jingan itu.”
Ia mengusap wajah dan meyakinkan kalau Diego hanya membual.
Tiba-tiba pintu dibuka oleh Bram. Wajahnya menunjukkan rasa kasihan pada Lucia.
“Maafkan kak Diego.”
Bram tetap berdiri di dekat pintu gudang.
“Apa semua perkataannya benar?” Lucia tidak menghiraukan permintaan maaf itu.
Bram menunduk kecil lalu mengangguk. “Benar ... kamu anak dari musuh keluarga ini. Hanya saja, kamu tidak pantas menerima hukuman ini.”
Mata Lucia berkaca. Ia menggeleng, tak ingin menerima kenyataan ini.
“Aku tidak mau terlahir dari keluarga pembunuh!” ucapnya lirih.
“Kita tidak bisa menentukan dari mana dan seperti apa orang tua kita.” Bram menghela nafas panjang. Bahkan ia pun tak pernah berpikir akan menjadi seorang mafia seperti sekarang.
Lucia menatap kosong lantai berdebu yang kini menjadi tempatnya duduk.
“Kali ini aku tidak akan menyiksamu. Tapi aku juga tidak bisa membantumu, maaf!” ujar Bram kemudian pergi.