
Rasa penasaran itu membawa Bram menemui Johan.
“Apa menurut dokter, kemiripan mereka hanyalah sebuah kebetulan?”
“Bisa jadi iya tapi, aku cukup ragu.” Johan yang tengah bersantai sehabis olahraga mulai menatap ke depan.
Bram mengerutkan dahi sambil berpikir.
“Dokter, aku pikir banyak sekali manusia yang mirip di dunia ini. Tapi Lucia dan Clara hampir tidak memiliki perbedaan,”
“Ya ... aku pun memperhatikan kemiripan itu. Apa jangan-jangan ...,” kalimat dokter Johan terhenti.
“Jangan-jangan apa dokter?” Bram semakin penasaran.
“Mungkin lebih baik kita lakukan tes DNA!”
“Aku akan berbicara sama kak Diego,”
Bram langsung beranjak dari duduknya menuju ruangan pribadi Diego.
“Kakak!” serunya sambil menuruni anak tangga.
Diego yang sedang membaca sebuah buku hanya mengangkat alis sebelah.
“Aku telah melakukan sebuah kesepakatan dengan dokter Johan. Tapi, kami menunggu persetujuan kakak,”
“Katakan!” ucapnya datar.
“Kami berencana untuk melakukan tes DNA pada Lucia dan Clara,”
Perkataan Bram berhasil merebut perhatian Diego dari bukunya. Dia berpaling menatap Bram yang duduk di sebelahnya.
“Bagaimana bisa kalian mendapat ide itu?” Diego pura-pura tidak tertarik kemudian kembali membaca buku.
“Apa kakak tidak curiga dengan kemiripan mereka?” Bram semakin semangat untuk menjelaskan.
“No!”
“Ayolah kak! Kita akan mendapatkan keuntungan jika ternyata Lucia adalah anak France juga,”
“Jelaskan padaku, bagaimana bisa mereka punya hubungan? Bukankah dari data yang terkumpul mengatakan kalau Lucia seorang perantau?” Diego menutup buku dan meletakkannya di atas meja.
“Kita bahkan tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu,” Bram tersenyum tipis antara ragu dan yakin.
“Lakukan!”
“Kakak serius?” melebarkan mata dan hampir tertawa bahagia.
“Ya ... jika terbukti DNA mereka cocok, culik kembali Lucia. Tingkatkan penderitaan mereka dan ancam France!”
“Tapi kak, Lucia sedang hamil.”
“Bunuh juga anak itu. Sampai mati aku tidak ingin mempunyai hubungan dengan France!”
“Tapi dia anakmu, darah dagingmu!”
“Mungkin kakak sanggup. Tapi aku tidak!”
“Bram!” nada suara Diego mulai tinggi.
“Aku yang menjadikan anak itu ada. Maka aku juga berhak untuk menentukan dia hidup atau tidak.”
“Sekarang, lakukan saja apa yang aku minta!”
Demi melampiaskan amarahnya, Diego memilih pergi. Jika sedang dalam keadaan marah, dia tidak bisa mengontrol diri. Terkadang tanpa sadar dia akan menyakiti atau menyingkirkan apa saja yang ada di hadapannya.
Bram menghela nafas dan bersandar pada sofa. Niatnya hanya ingin mengetahui hubungan Lucia dan Clara, bukan membunuh bayi yang tak berdosa itu.
Namun, setelah dipikir-pikir, Diego benar. Jika Lucia anak France, maka kelahiran bayi itu akan menambah masalah.
France dan Diego sama-sama kuat. Mereka pasti akan berusaha mempertahankan bayi itu. Permusuhan di antara mereka justru akan bertambah panjang.
***
Selesai menjual cilok, seperti biasa Lucia akan pulang ke rumah Salimah.
Sepanjang perjalanan, dia hanya memikirkan cara agar tidak memakai uang itu serta bagaimana cara untuk mengembalikannya.
Lucia tidak mau lagi berurusan dengan Diego serta kehidupannya. Intinya apa pun yang berkaitan dengan lelaki itu harus disingkirkan olehnya.
“Nak Lucia ... capek ya hari ini?” sapaan Salimah membuyarkan lamunan Lucia.
“Ibu ... maaf ya nggak sempat ucap salam,” cengirnya.
“Nggak apa-apa kok. Ayo masuk dulu!” Salimah merangkul pinggul Lucia yang semakin melebar.
Lucia merasakan ada sesuatu yang lain dari perlakuan Salimah. Padahal wanita itu selalu ramah dan bersikap layaknya seorang ibu. Namun, seperti ada sebuah keanehan.
“Ada apa nak?” Salimah yang menangkap keanehan di wajah Lucia perlahan mulai waswas.
“Ah ... tidak Bu. Aku hanya butuh istirahat sejenak,” Lucia berpura-pura memegang leher belakangnya.
Salimah mengangguk kemudian mengantar Lucia ke kamar.
“Dewi belum pulang ya bu?”
“Iya ... mungkin dia sibuk,” Salimah menyelimuti Lucia kemudian mengelus rambutnya.
Lucia merasa ada yang tidak beres. Pasalnya, Salimah tidak pernah mengelus rambutnya. Tapi malam ini, berulang kali ia melakukan itu.
Setelah dirasa cukup, Salimah berpamitan pergi untuk menyiapkan air mandi pada Lucia.
Ketika Salimah pergi, Lucia pun mengelus kepalanya sendiri. Mungkin pengaruh kehamilan sehingga banyak rambutnya yang rontok.
Di dapur, Salimah telah merapikan beberapa helai rambut milik Lucia pada sebuah kantong. Dia sendiri tidak tega melakukan itu. Tapi apa dayanya sebagai orang lemah? Kini, Dewi telah disekap sebagai jaminan agar dia mau mengambil rambut Lucia.
Beberapa jam sebelum kepulangan Lucia, Bram serta anak buahnya menemui Salimah. Tidak ada tugas yang sulit, dia hanya cukup mengambil rambut Lucia. Jika berhasil ia akan mendapat hadiah. Tapi jika tidak, maka nyawa Dewi di ujung tanduk.
Kini Salimah yakin, Lucia bukanlah orang biasa.