
Supir yang mengantar Lucia, sesekali meliriknya dari kaca. Kebahagiaan yang terpancar ikut membuat lelaki tua itu hanyut di dalamnya.
Perkaranya, Lucia adalah tawanan pertama yang dibebaskan Diego. Selama ini, entah salah maupun benar, tak ada tawanan yang selamat. Semuanya mati dengan cara yang sadis.
Diego tidak peduli siapa yang akan dibunuh itu. Wanita maupun lelaki, tua, muda, bahkan anak kecil pun tak segan dihabisi selama mereka termasuk pengusik ketenangannya.
Seluruh pegawai yang bekerja di istana Diego, mengakui kehebatan Lucia. Kebebasan Lucia menjadi berita hangat di kediaman Diego saat ini.
“Kita sudah sampai, Non!” ucap supir itu.
Lucia mengalihkan pandangan. Wajahnya terlihat heran. “Di mana kita?”
“Di rumah anda,”
“Yang mana?”
Supir tadi menunjuk sebuah rumah mewah dengan pagar besi. Lucia menelan ludah.
“Sepertinya kita salah alamat pak,”
“Nona, saya mohon jangan memberi hukuman kepada saya dan dokter Johan. Perintah tuan Diego tidak boleh dilanggar,”
“Tapi pak ... saya tidak bisa tinggal di rumah semewah itu.”
“Itu bukan urusan saya Nona. Sekarang anda harus turun. Tuan Diego sedang menunggu di dalam.”
“Jadi, aku bisa bicara soal rumah ini dengannya?”
Lelaki itu hanya menatap datar Lucia. Spontan wajah cantiknya terlihat pucat. Sebenarnya supir itu tidak ingin membuat suasana menegang. Namun, Diego adalah orang yang tidak suka menunggu.
“Ba ... baik pak!” ucapnya lirih dan turun perlahan dari mobil.
Langkah Lucia terasa berat ketika sampai di depan gerbang. Namun, dia dikagetkan dengan gerakkan pintu yang terbuka secara tiba-tiba. Wanita itu memegang dadanya.
Seperti telah diperintahkan, kakinya melangkah mantap meski hati ragu. Lucia menelan ludah yang terasa begitu sakit. Trauma akan perbuatan Diego selama ini, membuatnya tak ingin menemui lelaki itu lagi.
Lucia kaget saat berhadapan dengan Diego tepat di pintu utama.
Seperti biasa, penampilan Diego yang berwibawa tapi keren serta ekspresi wajah yang dingin.
“Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu lagi.”
Lucia mengangguk lalu mengikuti langkah Diego masuk.
“Ini rumahmu,” jelas Diego sembari duduk di sofa kulit yang ada di ruang tamu.
Lucia terpaku dengan posisi berdiri.
“Ada apa?” tanya Diego ketika tidak mendapati reaksi apa pun dari Lucia.
“Tapi tuan ... rumah ini terlalu besar. Aku akan sangat kesusahan untuk mengurusnya. Lagian aku nggak pernah tinggal di rumah semewah ini,”
Diego tersenyum sinis. Bagi Lucia itu adalah ekspresi yang paling menakutkan.
“Jadi kamu menolak?”
Kepala dan leher Lucia terasa berat untuk menggeleng dan mengangguk. Suara itu terdengar sangat seram.
“Aku hanya ...,”
“Tanpa bantuan Tuan?”
Diego menatap Lucia datar tanpa berkedip.
“Kamu telah menolak permintaan maafku. Maka aku tidak perlu lagi ikut campur dalam urusanmu,”
“Tapi tuan. Saya kehilangan segalanya karena anda!” tegas Lucia. Ketakutannya telah sirna.
“Segalanya?” Diego menyipitkan mata.
Mata Lucia berkaca. Bahkan b4jingan di depannya ini, masih belum mau mengakui.
“Ya ... semuanya!”
Entah mengapa, Diego tertarik dengan pembicaraan ini. Dia bahagia melihat tangis di mata Lucia.
“Bukan hanya pekerjaan, Anda bahkan telah merenggut kehormatanku sebagai seorang wanita!”
“Lalu apa maumu sekarang?” tanya Diego dengan ekspresi tak bersalah.
Lucia mendadak diam. Pertanyaan Diego sepertinya jebakan.
“Kau ingin dinikahi karena telah dinodai olehku?”
Lucia menggeleng. “Baiklah. Aku akan pergi dan memulai semuanya dari awal lagi,”
Wanita itu beranjak pergi. Namun, Diego 10 langkah lebih cepat. Langkah Lucia berhasil dihentikan dengan tangannya.
“Ketika semua wanita berebut ingin menikah denganku, kau justru menolak saat aku mau denganmu!”
“Karena mereka hanya melihat hartamu, bukan kepribadianmu. Lepaskan aku!”
“Aku pikir kau akan bersikap baik setelah dibebaskan. Tapi, caramu ini memintaku untuk terus membuatmu menderita,”
Lucia berusaha melepaskan diri. Namun, kekuatannya tak sebanding dengan Diego.
“Apa salahku? Bukankah tadi kamu bilang tidak akan menyakitiku?”
“Salahmu?” Diego tertawa sambil mempererat genggamannya di lengan Lucia.
“Kau ... adalah wanita pertama yang berani menentangku. Bahkan kau tak segan-segan membentakku secara langsung.”
“Aku berhak melakukan itu. Karena aku disiksa atas alasan yang tidak aku lakukan!”
Mata Diego menyapu seluruh wajah Lucia. Semakin lama, terlihat semakin cantik. Sesaat lelaki itu memejamkan mata dan melepas genggaman tadi.
“Silakan pergi!” ucapnya kemudian kembali duduk di sofa.
Lucia mengerutkan dahi. Manusia di hadapannya ini sungguh aneh. Bisa menjadi baik tapi juga kejam di waktu yang sama.
“Tidak mau pergi?” tanya Diego.
Lucia mengusap wajah dan meninggalkan lelaki itu. Sambil mengusap dadanya, dia melangkah pergi dengan kelegaan.
“Tidak masalah jika aku harus memulai semua dari awal. Asal, jangan bertemu iblis itu lagi!”