NOT ME

NOT ME
SALAH ORANG



Clara terbahak memegang perutnya yang mulai terasa sakit.


“G*la! Lo ngajak kita olahraga di siang bolong gini?” Rena menggeleng sambil memegang lututnya dengan nafas tersengal.


“Lucu sumpah.” Mengangkat kedua jarinya.


“Coba liat isi dompetnya dong?” Rena menggigit bibir bawah.


“Bentar!” menarik tangan Rena duduk di kursi taman.


“Wow!” kedua gadis itu membulatkan mata.


Ternyata isi dalam dompet tersebut adalah black card. Meski tidak ada uang tunai, tapi ada sesuatu yang mencurigakan.


“Apa ya ini?” Clara mengeluarkan flash disk.


“Paling juga isinya dokumen perusahaan yang membosankan!” tutur Rena.


“Nah lo bener!” membuang dompet beserta benda tadi.


“Jadi ... black card itu punya kita berdua dong?” Rena tersenyum sok manis.


“Paling juga Cuma bisa dipakai hari ini doang. Percaya deh, besok udah diblokir sama pemiliknya.”


“Eh ... lo sadar nggak, dompet tadi mahal loh!”


“Ya ampun Ren, dompet nyokap gue juga berkelas!” mencibir.


“Oh ... gue yang ambil aja ya? Lumayan kan kalau dijual.”


Rena adalah gadis yang berasal dari keluarga sederhana.


Ketika tangannya akan mengambil dompet tadi, terlihat Bram dan Arsyan yang berlari ke arah mereka.


“Clara!” seru Rena sambil berlari lebih dulu.


“Bakalan seru ni!” ucap Clara yang juga ikut berlari.


Hampir 30 menit kejar-kejaran, terpisahlah mereka. Rena sudah mulai lelah.


Tangannya gementar lalu membuang dompet tadi. Saat ingin berlari lagi, dia bertemu dengan Clara, namun dengan tampilan berbeda.


“Clara?” mendekati sahabatnya yang telah memakai seragam pelayan mall tersebut.


“Maaf mbak?” ucap gadis itu bingung.


“Cepet banget lo nyamarnya?” Rena menarik tangan Clara agar bersembunyi di balik pakaian.


“Maaf ... kamu siapa?” tanya pelayan itu sopan.


“Clara?” Rena memijat dahi. Mana mungkin, sahabatnya mendadak amnesia?


“Clara?” ucap gadis itu dengan raut wajah semakin tidak mengerti.


“Bentar ya!” Rena berlari ke tempatnya membuang dompet tadi.


“Masa lo lupa?” Menunjuk benda tadi.


Gadis itu adalah Lucia. Dia baru saja bekerja di tempat itu 2 hari.


“Maaf ya mbak ... saya harus kerja!”


“Lo pura-pura b*go karena nggak mau bagi tuh duit kan?” menarik kasar tangan Lucia.


“Hei ... kamu siapa?” memicingkan mata. Lucia tidak suka dengan sikap gadis asing yang kasar ini.


“Berhenti di situ!” teriak Bram yang membuat Rena tersentak.


“Lari!” kembali menarik tangan Lucia namun ditepis.


“Nggak waras ya?” menggeleng sambil membiarkan Rena pergi.


“Kamu!” suara Bram terdengar dingin ketika mendekati Lucia.


“Ya tuan ... ada yang bisa saya bantu?” tawar Lucia sopan.


“Cuih ... kamu pikir dengan berganti pakaian aku lupa wajahmu?” Bram terbahak.


Hari ini, aku bertemu 2 orang yang aneh!


Batin Lucia namun wajahnya terlihat santai.


“Bawa dia!” Arsyan muncul dari belakang Bram dengan empat orang pengawal.


Lucia sama sekali tidak gentar. Dia bahkan bersikap sopan sambil tersenyum.


Arsyan melirik keempat anak buahnya. Lalu seseorang mengangguk dan maju mendekati Lucia. Dalam sekejap, gadis itu jatuh pingsan.


Rena membulatkan mata melihat perbuatan itu. Tubuhnya gementar lalu dia memutuskan untuk membuang dompet tadi di tempat sampah.


“Aku harus segera pergi! Sepertinya, mereka bukan orang biasa.”


***


Clara menyedot jusnya dengan wajah santai. Gadis itu tampak menikmati makan siangnya di salah satu Restoran yang masih dalam kawasan mall tersebut.


Rena yang kebingungan harus bagaimana sekarang? Dia takut harus bicara apa pada orang tua Clara?


Dengan wajah putus asanya, Rena melintasi sebuah restoran padang. Wajahnya berubah, melihat Clara sedang santai di sana.


“Itu Clara?” dahinya berkerut.


“Nih anak emang hebat ya? Kok dia bisa lolos?” menggaruk kepala yang tidak gatal.


Rena mendekati sahabatnya. Takut kalau dirinya salah lihat. Ternyata tidak. Itu adalah Clara sahabatnya.


“Lo kok bisa lolos?” duduk di depan Clara dengan tatapan curiga.


“Lolos dari apa?” masih dengan raut wajah santai.


“Tadi lo diculik kan?” menyipitkan mata.


“Gue diculik?” tertawa lepas.


“Iya ... tadi gue liat sendiri, lo dibius gitu sama pengawal 2 pria itu.”


Menjentikkan jari. “Bangun dari mimpi lo! Gue masih di sini Ren.”


Rena semakin heran. Gadis itu mencubit tangan kirinya.


Sakit! Jadi gue nggak mimpi dong. Terus tadi itu siapa? Masa sih itu jiwanya Clara?


“Rena!” bentak Clara.


“Eh ... Ra Sorry!” menatap kosong makanan di depannya.


“Kita belanja yuk, sebelum diblok.” Cengir Clara.


Rena hanya menuruti. Bahkan seleranya untuk menghabiskan uang itu telah hilang.


Astaga ... mereka salah orang!


Rena senang tapi juga gelisah. Orang yang tidak tahu apa-apa, harus menanggung apa yang telah mereka perbuat.


Kalau gadis itu dibunuh, gimana? Haduh ... dosa siapa ya ini?


“Rena!” Clara mulai kesal.


“Lo kok bengong mulu sih dari tadi?”


“Ra ... gue mau ngomong sesuatu,”


“Nanti aja! Ayo, sekarag waktunya belanja cantik!” berdiri mengambil tasnya.


Rena pun terpaksa mengikuti Clara. Baru kali ini Rena merasa bersalah atas perbuatan jahat mereka. Hatinya tidak tega jika terjadi sesuatu pada gadis yang mirip Clara tadi.


“Tapi kok bisa mirip gitu ya?” gumamnya.


“Apanya yang mirip?” Clara yang mendengar ucapan Rena langsung berbalik.


“Eh ... nggak kok! Heheh,”


Clara tidak peduli. Dia kembali berkeliling dari 1 toko ke toko lain. Menikmati uang orang lain tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sementara Rena sama sekali tidak tertarik dengan alasan malas. Clara pun tidak bisa memaksa sahabatnya.