
Diego dan Arsyan berhasil keluar dari hotel Lisboa tanpa adanya curiga sama sekali.
“Antar kami ke bandara, sekarang juga!” titah Diego pada sopirnya.
Sebelumnya, Diego telah menghubungi Jhon untuk menyiapkan perjalanan kembali ke Indonesia.
Segala sesuatu berjalan lancar. Meski tidak mendapat bagian dari hasil penggalian ilegal itu, paling tidak Diego telah membunuh musuh-musuhnya. Dengan begitu, Thomas akan semakin takut untuk bermain dengannya.
Sudah 2 hari Lucia tidak mendapat gangguan dari Diego. Dia merasa ada yang kurang jika sehari saja tidak disiksa atau dicaci oleh 1blis itu.
Kepergian Diego tidak diberitahukan kepada Lucia. Lelaki itu hanya berpesan agar urusan makan dan obat Lucia diatur sebaik mungkin.
Merasa jenuh dengan keadaannya, Lucia memutuskan untuk berkeliling. Lagi pula, kemarin Bram sendiri yang menyuruhnya untuk bermain di luar ruangan, agar menikmati udara bebas.
Seperti biasa, Lucia akan berjalan menuju taman bunga. Tepat di bangku tempatnya mengelus sang bayi untuk terakhir kalinya.
Lucia menengadah. Berpasrah pada sang Pencipta akan segala derita yang ditanggungnya.
30 menit, mulai bosanlah wanita itu. Kali ini dia memutuskan untuk berkeliling di rumah seluas istana tersebut.
Entah apa yang telah terjadi, Lucia berharap bisa bertemu dengan Diego saat itu juga. Matanya terus mencari.
“Apa mungkin dia sibuk?” ucapnya sambil menelusuri setiap detail rumah itu.
Sampai kakinya terhenti pada sebuah pintu. Lucia ingat ini adalah kamar Diego. Beberapa waktu yang lalu, dia pernah di bawah ke sini.
Rasa penasaran itu mendorong dirinya untuk masuk ke sana.
“Sepi?” Lucia mengerutkan dahi lalu berjalan semakin jauh.
Dia juga masih ingat jalan menuju ruang rahasia Diego.
“Ada apa denganku? Ah ... sebaiknya aku kembali!”
Ketika ingin pergi, terdengar ada yang mendekat. Lucia melebarkan mata. Dari suara itu, dia tahu pasti Diego yang datang.
Dengan segala ketakutannya, Lucia memutuskan bersembunyi di ruangan pribadi Diego. Tidak sulit untuk masuk ke sana. Cukup membuka lemari kayu yang ada di kamar itu lalu terdapat tangga turun di dalamnya.
Lucia dengan cekatan turun lalu bersembunyi di balik lemari buku yang menghadap ke arah meja kerja Diego.
Keringat dingin bercucuran. Lucia yakin, jika hal ini sampai diketahui, dirinya akan disiksa habis-habisan.
“Pelan-pelan tuan!” Johan memperingati majikannya.
Diego yang mulai lemah hanya bisa bersandar pada sofa sambil menunggu tindakan Johan untuk merawat.
Arsyan pun telah ditangani oleh dokter lain di ruang perawatan.
“Di mana Bram?” tanya Diego sambil memijat dahi.
“Dia juga turut membantu Arsyan. Saya yang memintanya tuan,” jelas Johan sambil mengobati luka pada kaki Diego.
“Bagaimana keadaan Lucia?”
Mendengar pertanyaan itu, Lucia tercengang. Tak disangka, Diego masih menanyakan kabarnya meski sedang sekarat.
“Dia aman tuan.”
“Baguslah!”
“Anda kehilangan cukup banyak darah. Lebih baik saya ambilkan dulu stok darah.”
Johan berlari menuju lemari tempat Lucia bersembunyi. Wanita itu gugup dan mulai meremas jemari.
Tapi tidak. Johan mengambil darah yang disimpan di dalam laci lemari itu. Lucia menghela nafas perlahan.
Dia bisa melihat Diego dan Johan dari celah buku yang tersusun.
“Luka ini tidak parah. Hanya saja penerbangan dari Macau cukup lama. Aku sendiri tidak pandai untuk urusan begini,”
“Ya tuan. Untung saja mereka tidak memakai peluru beracun,”
Diego terkekeh. “ Teknik itu hanya dipakai oleh aku dan Thomas.”
Johan mengangguk lalu mulai memasang selang agar dapat memasukkan darah ke tubuh Diego.
“Maaf jika melenceng tuan. Saya perhatikan, akhir-akhir ini semua bisnis dan rencana tuan berjalan lancar. Apa mungkin ada hubungannya dengan Lucia?”
‘Lagi-lagi mereka membawa namaku!’ batin Lucia.
“Entahlah!”
“Sudah Tuan. Anda bisa beristirahat!”
Diego mengangguk lalu menyuruh Johan pergi dengan lambaian tangan.
Posisinya saat ini terbaring di brankar yang telah disiapkan di sana.
Setelah mendengar langkah kaki Johan hilang di balik pintu, Diego membuka mata.
Darah yang masuk membuat tubuhnya sedikit membengkak. Diego pun merasa cukup lemas.
Akan tetapi, dia ingin melihat keadaan Lucia saat ini juga. Dengan segenap kekuatan, dia bangkit lalu mendekati meja kerja dan meraih laptop.
Diego kembali ke brankar lalu mulai mengecek hasil rekaman CCTV selama dirinya pergi.
Masih biasa saja. Lucia pun turut memperhatikan. Namun, dia tidak bisa melihat apa yang dilakukan Diego, karena posisi lelaki itu menghadap pada lemari tempatnya bersembunyi.
Raut wajah Diego berubah seram. Perlahan, matanya bergerak ke arah persembunyian Lucia.
Wanita itu membulatkan mata. Merasa seolah Diego sedang menatap ke arahnya.
“Keluar dari persembunyianmu!” Diego memejam mata, kesal dengan perbuatan Lucia.
‘Hah ... bagaimana bisa dia tahu?’ batin Lucia.
Seluruh tubuh Lucia gementar. Jantungnya berdetak 10x lebih cepat dari biasanya.
“Lucia!”
Teriakan itu membuat Lucia kaget. Perlahan, dia keluar dan menunduk takut.
Diego menggeleng sambil menatap dingin wanita di hadapannya.
“Kamu suka main petak umpet?”
“Aku hanya ...,”
“Kembali ke kamarmu sekarang!”
Lucia mengangkat kepala dan menatap heran. Dikiranya, Diego akan mencaci atau menyiksa dia seperti biasa.
“Aku akan memberimu hukuman setelah keadaanku membaik.” Diego membaringkan tubuh lalu memilih tidur.
Lucia menelan ludah dan pergi dari tempat itu.
‘Dugaanku benar. Dia pasti akan menyiksaku setelah sembuh.’