
“Tuan ... kami telah berhasil menculik gadis itu,” kata seorang pengawal pada Diego yang tengah duduk menikmati kopi hangatnya.
Lelaki tampan itu sedang menikmati senja di balkon kamarnya. Sebuah senyum tipis terlukis di sudut bibir tipis itu.
“Bawa dia ke tempat penampungan ular!”
“Baik tuan,”
Diego kembali meneguk kopinya. Terlintas di pikirannya tentang Lucia. Dia pun baru mendengar kabar, bahwa wanita itu sedang mengandung anaknya.
Beruntung saja dia memiliki banyak mata-mata, sehingga bukan hal sulit untuk mencari keberadaan Lucia.
Diego mengambil ponsel lalu menelepon Geby. Salah satu orang terdekat Diego yang tidak diketahui Lucia.
“Jemput aku di rumah sekarang!” ucapnya lalu memutuskan panggilan.
Kurang dari 15 menit, Geby telah tiba. Lelaki itu pun melakukan apa yang diminta Diego tadi.
Kini mereka telah berada dalam mobil sport Geby. Sebelum berangkat ke tempat tujuan, Diego menjelaskan apa yang harus dikatakan Geby pada orang yang akan mereka temui nanti.
Setelah menyimak dengan baik, Geby pun melajukan mobil menuju alamat yang dikatakan Diego.
Sampailah mereka di jalanan umum yang cukup ramai. Dari kejauhan, terlihat Lucia yang repot melayani para pelanggannya.
“Apa kamu suka cilok?” tanya Diego sekedar bergurau.
Geby hanya tersenyum tipis. “Jika boleh jujur, aku lebih suka pedagangnya,”
Wajah Diego mendadak datar. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
“Kamu sudah punya istri dan anak kan?”
Geby terdiam. Seharusnya dia bisa menjaga ucapan di hadapan manusia kutub ini. Meski Diego terkenal suka bermain wanita, tapi dia akan menghukum bawahannya yang tega berselingkuh dari istri mereka.
Siapa pun yang telah menikah dan memiliki kekasih, dilarang keras untuk mendua.
“Maaf tuan ... tadi saya hanya ingin bercanda,” jawab Geby gugup.
“Pedagang yang kau suka itu, adalah milikku!” tegas Diego.
Geby merasa seluruh tubuhnya mati seketika. Bahkan darahnya berhenti mengalir. Bukan tentang siapa dan apa posisi wanita itu.
Tapi, untuk pertama kalinya dia mendengar pengakuan Diego. Jika sudah berkata demikian, tentu saja dia mencintai penjual cilok itu. Sedangkan selama ini semua tahu, seperti apa kelakuan Diego jika membahas soal pasangan hidup.
“Temui dia sekarang!” perintah Diego.
Geby menelan ludah lalu beranjak turun. Diego hanya memperhatikan dari dalam mobil.
***
Lucia menarik nafasnya dalam lalu duduk bersandar pada kursi plastik. Ramainya pelanggan hari ini cukup menguras tenaga.
Belum juga 5 menit istirahat, datang lagi seorang pembeli. Lelaki berusia 30an, dengan kaos oblong dan celana jeans selutut. Meski berpenampilan demikian, bisa dipastikan kalau orang itu bukan dari kalangan biasa.
“Cilok tuan?” tawar Lucia.
Lelaki yang tak lain adalah Geby, hanya tersenyum lembut sambil mengangguk.
“Berapa?”
“Satu aja Neng,” jawabnya kemudian duduk di kursi pelanggan yang telah disiapkan.
Lucia dengan gesit menyiapkan pesanan. Hari ini, Bu Salimah tidak bisa ikut jualan. Pasalnya wanita itu sedang sakit.
Geby menerima cilok itu tanpa memakannya. Lucia mengerutkan dahi lalu mendekat lagi.
“Apa ada yang salah tuan?”
“Ah ... tidak ada yang salah. Aku hanya ingin berbicara denganmu,”
Wajah Lucia mulai tegang. Tidak terlintas sama sekali olehnya tentang Diego.
Geby mengeluarkan sebuah amplop coklat yang cukup tebal. “Terimalah ini Neng,”
“Apa ini?” Lucia kaget lalu mulai menjaga jarak.
“Ini uang. Tolong jangan salah paham!”
“Maaf, saya tidak bisa menerima uang dari orang asing,”
“Aku bukan orang asing. Hmmm ... sebenarnya kita pernah bertemu,”
Lucia menggeleng. “Kamu salah orang. Saya pernah diculik dan dituduh yang tidak-tidak. Jadi ...,”
“Ini atas perintah tuan Arsyan dan dokter Johan!”
Lucia bungkam.
“Maaf Neng ... ini tidak ada hubungan dengan Tuan Diego. Dokter Johan dan Tuan Arsyan merasa kasihan pada kamu. Jadi, mereka mengutus aku ke sini agar tidak diketahui oleh Tuan Diego.”
“Bilang pada mereka, aku tidak butuh dikasihani!” tegas Lucia kemudian menjauh dari Geby.
“Tolonglah Neng. Kami kasihan pada bayinya. Bagaimana pun juga, itu adalah darah daging tuan Diego. Bayi itu harus mendapat perawatan yang pantas serta asupan gizi yang cukup.”
Lucia tersenyum sinis. “Sampai hari ini, aku dan anakku masih bertahan. Itu berarti kami tidak membutuhkan uang sepeser pun!”
Geby mulai keringat dingin. Dia harus bisa membujuk Lucia. Jika tidak, dia yang akan menerima hukuman.
“Anggap saja ini adalah permintaan maaf dari Tuan Arsyan dan dokter Johan. Tolonglah ... mereka akan merasa bersalah jika uang ini kamu tolak.”
“Aku tidak peduli!” jawabnya jutek.
“Neng ... kalau kamu tidak menerima uang ini, maka nyawa saya jadi taruhannya. Kamu tahukan sejahat apa orang-orang itu.”
“Maksudmu?”
“Aku ini hanya bawahan. Mereka berpesan kamu harus menerima uang ini, kalau tidak nyawa aku jadi taruhannya. Belum lagi keluarga kecilku di rumah,” jelas Geby dengan wajah memelas.
Lucia menelan ludah. Dia ingat betul siksaan menyakitkan itu. Bahkan dia juga pernah menyaksikan Diego membunuh bawahannya yang melanggar aturan.
Karena kasihan, dia pun menerima amplop itu. “Tolong bilang pada mereka, temui aku dalam waktu dekat.”
Wajah Geby langsung tersenyum ceria. “Tentu saja!”
Lucia menatap amplop yang telah berada di tangannya. “Sampaikan salamku pada dokter Johan. Bilang padanya, terima kasih karena telah merawat aku,”
“Baiklah. Lalu, untuk tuan Diego?” tatapan Geby seperti mengejek.
Lucia hanya membuang ludah. Wajah ceria Geby pun berubah pucat. “Aku pamit ya Neng ...,”
Tak ada jawaban dari Lucia. Geby memaklumi lalu pergi sambil melambai.
Diego meremas jemarinya sampai berubah merah. Seluruh percakapan Geby dan Lucia terdengar olehnya, melalui aerphone yang dipakai Geby.
“Wanita miskin itu berani meludahiku!”