
Mobil mewah yang ditumpangi ketiga pria itu, memasuki halaman luas sebuah rumah berlantai 2.
Gerbang yang kokoh itu, dijaga oleh 2 orang pengawal bertubuh kekar. Sepanjang perjalanan menuju rumah bak istana tersebut, berjejer bunga dan pemandangan yang begitu indah.
Arsyan lah yang mengendarai mobil tersebut. Bram duduk di sebelahnya, lalu Diego seperti biasa akan duduk di belakang.
“Siapa yang menyuruh kalian membawa wanita hina itu ke sini?” tanya Diego dengan suara serak.
“Tidak ada lagi tempat yang aman tuan.”
“Kalian tahu kan, betapa berharganya tempat ini?” masih duduk di tempatnya ketika mobil telah terparkir.
“Maaf kak ... ini adalah ideku,”
“Cukup! Jangan lagi ada kata maaf dari mulut kotor kalian. Aku muak!” keluar dan membanting keras pintu mobil.
Arsyan dan Bram masih terlihat kaku di dalam mobil.
“Hei?” bentak Diego.
Kedua lelaki itu gelagapan keluar dari mobil. Meski sampai hari ini, Diego belum pernah menyakiti mereka, tapi semua orang tahu sekejam apa lelaki titisan ibl*s tersebut.
“Di mana kalian meletakkan manusia tidak berguna itu?”
“Di gudang, tuan.”
“Hmmmm ... bawa dia ke kamarku, sekarang!” melirik Arsyan.
“Baik tuan!” jawab Arsyan tegas.
Diego berjalan menuju rumah mewah itu. Sementara Bram dan Arsyan berjalan menuju sebuah bangunan kecil yang terletak di belakang rumah tadi.
Tempat itu, adalah rumah peninggalan orang tua Diego dam Bram.
Beberapa tahun sebelumnya, kehidupan mereka baik-baik saja. Diego anak pertama dari keempat bersaudara. Papanya seorang pengusaha batu bara yang sukses. Mamanya adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat mencintai keluarganya.
Setelah Diego dan Bram, ada juga adik perempuan kembar mereka. Kehidupan keluarganya berjalan baik-baik saja. Hingga suatu hari, Diego memutuskan untuk bergabung dalam sebuah bisnis gelap.
Jelas sesuatu yang tidak baik akan merujuk pada hasil yang tidak baik juga. Begitu banyak persaingan ketat di antara musuh-musuhnya. Hingga membuat mereka harus membunuh orang tercinta Diego, agar menjadi titik lemahnya.
Saat sedang mengikuti pertemuan di luar negeri, para musuh Diego dengan leluasa masuk ke rumah orang tuanya. Pada malam itu, nyawa keempat orang tercintanya menjadi taruhan.
Sedangkan Bram masih selamat karena ketika kejadian itu, dirinya asyik berpesta ria di club bersama teman-teman kuliahnya.
Ketika fajar menjemput, yang ditemui oleh kedua lelaki itu, hanyalah penyesalan.
Baik Diego maupun Bram berjanji, akan membalaskan dendam keluarga mereka, meski nyawa yang akan menjadi taruhannya.
Di dalam kamar lamanya, Diego masih menatap satu-persatu potret yang berbaris rapi di atas meja.
Tangannya meraih sebuah potret yang berisi gambar kedua adik kembarnya. Jeslyn dan Jesyka.
Seperti terulang lagi kejadian malam itu. Beruntung di rumah tersebut ada kamera pengaman. Dengan begitu, Diego bisa tahu seperti apa penderitaan keluarganya sebelum tewas.
Tok ... tok ... tok!
“Masuk!” ujarnya sambil meletakkan foto tadi.
Bram menyeret masuk seorang wanita. Terlihat letih dan pucat. Mungkin beberapa hari ini dia tidak diberi makan dan minum.
“Ini orangnya kak!” mendorong jatuh tubuh Lucia hingga mencium kaki Diego.
Gadis itu meringis. Entah sebesar apa kesalahannya sampai harus diperlakukan layaknya budak.
Diego duduk setengah berlutut dan menarik rambut Lucia. Mereka saling tatap, sama-sama menyorotkan kebencian di sana, terlebih Lucia.
“Katakan, apa maumu?” tanya Diego dingin.
Lucia tidak bersuara. Rasanya sudah muak mengemis kebebasan itu. Jelas dirinya tidak tahu perihal dompet yang selalu dibicarakan, tapi orang-orang aneh ini tetap ngotot.
“Katakan padaku, siapa yang membayarmu, untuk mencuri benda itu?”
“Seberapa berharganya benda itu, sampai kalian pikir nyawa manusia tak sebanding dengannya?” bukannya menjawab, gadis itu berani bertanya balik.
Diego tersenyum sinis. Dia suka dengan wanita yang berani menatap dan menentangnya.
“Suruh para pelayan mengurusnya. Jangan lupa, beri dia makan yang banyak. Obrolan ini pasti akan sangat menarik!” berdiri dan duduk di sofa yang terletak di sudut kamar dekat jendela.
Bram tercengang. Pikirannya sebelum ini telah menebak, gadis asing tersebut pasti akan ditembak mati. Tapi, ini justru berbanding terbalik.
Ditariknya gadis itu keluar.
“Jangan senang terlebih dahulu! Kakakku akan memperlakukan kamu jauh lebih kejam dari ini,” ancam Bram.
Lucia tidak menjawab. Sejujurnya dia tidak mampu lagi berjalan. Tubuhnya lemas karena tidak diberi air setetes pun. Dalam langkah kelimanya saat digiring Bram, gadis itu jatuh pingsan.
“Drama apa lagi ini?” keluh Bram kesal.
“Pengawal!” panggilnya, membuat kedua pria yang berdiri tidak jauh dari sana, berlari menghampiri.
“Bawa sampah ini pada pelayan wanita. Suruh mereka memandikan dan beri dia makan.”
Wajah Bram tampak kesal. Lelaki itu memilih keluar sebentar untuk mencari ketenangan. Entah mengapa, tapi Bram sangat benci pada Lucia. Dia yakin gadis itu sangat hebat, sehingga mampu menyembunyikan kebenaran dari wajahnya.
“Apa dia mantan artis?” Bram mulai berdebat dengan pikirannya sendiri.
“Kamu mau ke mana?” tanya Arsyan ketika melihat Bram hendak keluar.
“Aku ingin menemui April. Sudah hampir sebulan kami tidak bertemu.”
Arsyan tersenyum mengerti. “Baiklah, sampaikan salamku padanya.” Melambaikan tangan.