
Setelah hampir sebulan bertugas di luar negeri, Arsyan akhirnya kembali.
Kedatangannya disambut hangat oleh seluruh keluarga besar Diego.
“Selamat datang paman!” sapa Bram ceria ketika menjemput Arsyan di bandara.
“Lihatlah anak ini, kedatanganku selalu disambut olehnya!” tutur Arsyan lalu memeluk erat Bram.
“Kami merindukan paman. Ayo pulang, ada pesta untuk kepulangan ini!” Bram menggiring Arsyan menuju mobilnya.
Barang-barang Arsyan diamankan oleh para pengawal yang juga ikut menjemputnya.
“Ada kabar apa?” tanya Arsyan dalam perjalanan pulang.
Bram yang menyetir hanya tersenyum simpul sambil mengangkat bahu.
“Apa semuanya baik-baik saja?”
“Ada banyak masalah yang terjadi paman. Tapi semuanya bisa diselesaikan kakak.”
Arsyan mengangguk. “Memang, kehebatan kakakmu tidak perlu diragukan lagi!”
Setibanya di rumah Diego, Arsyan dikagetkan dengan kehadiran keluarga kecilnya di sana.
“Anisa? Elsa?” ucapnya heran.
Kedua gadis berusia 7 tahun dan 4 tahun itu lari mendekati Arsyan. “Papa!” ucap mereka serentak lalu memeluk erat Arsyan.
Diego cukup terharu menyaksikan kehangatan keluarga kecil itu. Sedangkan istri Arsyan masih berdiri di dekat Diego, menunggu sang suami yang datang mendekat.
Arsyan yakin, telah terjadi sesuatu yang buruk sampai Diego menampung keluarganya di rumah ini.
“Aku butuh cerita itu,” ucapnya dengan nada candaan pada Diego.
“Tentu saja tuan Arsyan!” balas Diego dengan nada candaan juga.
“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Arsyan pada Intan, istrinya.
“Semuanya akan baik-baik saja, selagi tuan Diego masih hidup,” jawab Intan dengan tenang.
***
Sesuai perkataan Bram di bandara, pesta penyambutan itu pun terjadi pada malam harinya.
Seluruh anak buah Diego bebas minum sampai puas. Musik pun diputar dengan kencang.
Diego dan Arsyan berpamitan sebentar pada orang-orang di sana. Mereka perlu membicarakan banyak hal, termasuk penculikan Anisa dan Elsa yang tidak diketahui Arsyan.
Pada ruangan Pribadi Diego, dirancang untuk tidak mendengar suara keributan dari luar. Sehingga perbincangan mereka tidak terganggu.
Diego telah mengambil posisi duduk santai pada sofanya. Begitu juga dengan Arsyan yang duduk tepat di hadapan tuannya.
Arsyan tersenyum tipis sambil mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam.
Diego melirik benda itu lalu mulai mengambilnya. “Bagaimana caranya kamu bisa mengambil benda berharga ini?”
“Tentu saja nyawa sebagai taruhannya tuan!”
Diego mengangguk dan membuka kotak itu. Sebuah berlian paling langka di dunia terpancar indah di depannya.
“Kau merebut atau mencurinya?”
Arsyan tertawa lepas mendengar pertanyaan itu. “Aku bukan pencuri, tuanku. Tapi, aku adalah perebut yang hebat.”
Diego menutup kotak itu dan menyerahkannya kepada Arsyan.
“Ada apa?” tawa Arsyan mendadak lenyap.
“Berikan hadiah berharga ini pada istri dan anakmu. Mereka berhak menikmati hasil kerja kerasmu,”
“Tapi tuan ... ini berlebihan.” Arsyan menolak halus.
Diego menyipitkan mata. “Kau menolak pemberianku?”
“Aku berjuang mendapatkan ini sebagai hadiah untukmu.”
Diego tersenyum tulus. Dia membayangi wajah putri Arsyan ketika menghadapi ketakutan di rumah Thomas waktu itu.
“Istri dan anakmu butuh penghiburan Arsyan.”
“Maksud Tuan?”
Diego pun menceritakan seluruh kejadian itu. Arsyan hampir syok dibuatnya.
“Ambil berlian ini. Ubah jadi perhiasan yang indah, dan berikan pada mereka.”
Arsyan mengamati bongkahan berlian itu. “Masih akan tersisa banyak tuan. Apa Anda tidak mau dibuatkan sesuatu?”
Diego teringat pada Lucia. “Buatkan kalung dengan model terbaik. Aku ingin memberikannya pada Lucia,”
“Dia di sini?” Arsyan kaget.
Diego lupa menceritakan kebenaran itu. Maklum, tempat Arsyan bekerja hampir sebulan itu penuh dengan tantangan. Dia tidak bisa memberi kabar walau hanya sebentar. Diego pun tidak ingin menyampaikan berita yang dapat mengganggu konsentrasi kerjanya.
“Aku ceritakan lain kali saja. Selain berlian, kau tidak melupakan sesuatu kan?” selidik Diego.
Arsyan terkekeh lagi. “Itu sangat spesial tuan. Saham tersebut berhasil dimenangkan oleh perusahaan kita.”
“Kerja kerasmu tak pernah mengecewakan,” Diego memukul bahu Arsyan dengan bangga.