NOT ME

NOT ME
PEMAKAMAN ORANG TUA LUCIA



Kedua jasad orang tua angkat Lucia didoakan dan dimakamkan secara layak di pekuburan keluarga Diego yang terletak di belakang rumah lama keluarganya.


Semua orang yang bekerja dan setia padanya dianggap sebagai keluarga. Jika ada yang meninggal, maka mereka akan dimakamkan secara layak sesuai kepercayaan masing-masing lalu dikubur di tanah itu.


Tanah itu seluas hampir 5 hektare. Tepat di tengahnya, makam orang tua dan kedua adik Diego.


Upacara pemakaman itu dihadiri oleh Diego. Sedangkan Lucia tak diizinkan ikut. Bagi Diego, wanita itu hanya akan mengganggu seluruh rangkaian upacara.


“Apa kakak akan membunuh bayi itu?” tanya Bram saat mereka pulang dari pemakaman itu.


“Tidak perlu. Kita hanya perlu menyembunyikan kebenaran dari Lucia. Biarkan dia hidup menderita. Agar pertahanan France semakin lemah.”


“Tapi kak, kenapa kakak tidak jujur saja perihal kematian ayah dan ibu angkatnya?” protes Bram.


“Biarkan saja. Dengan begitu dia akan semakin membenciku.”


“Dia semakin berani untuk mencacimu, kak!”


“Itu berarti dia dalam tekanan batin. Semakin dia membenciku, semakin dia menderita. Lama-kelamaan jiwanya akan terganggu,”


“Lalu?” Bram mengerutkan dahi.


“Kita kirim dia kepada keluarga aslinya dalam kondisi g1la.”


“Wah ... semakin kejam. Aku suka rencana kakak!”


“Biarkan mereka menderita karena melihat kondisi mental Lucia.”


Geby yang mengendarai mobil hanya tersenyum simpul mendengar percakapan itu.


‘Aku kehilangan keluargaku, tapi kau ... akan kehilangan jati dirimu!’ batin Diego sambil menatap keluar jendela.


Setibanya di rumah, Diego langsung menuju kamar Lucia.


Wanita itu murung di depan cermin rias. Diego tersenyum lalu memeluk pinggang Lucia dari belakang. Tangannya diletakkan tepat pada perut Lucia.


“Lihat, bahkan tanpa menikah pun aku bisa memiliki anak.”


Tidak ada tanggapan dari Lucia. Dia hanya menatap kosong pantulan bayangan mereka di cermin.


Diego mulai mendekatkan bibir di telinga Lucia lalu menggigitnya lembut.


Tangan Lucia telah meraih sumpit rambut yang terbuat dari besi. Bagian tajamnya diarahkan ke mata Diego.


“Apa yang ingin kau lakukan?” ejek Diego lalu menyandarkan tubuh Lucia pada tembok.


“Harus berapa kali aku ulangi? Aku ingin kau mati!”


Diego terkekeh lalu kembali memegang perut Lucia. “Apa kau ingin bayi kita hidup tanpa ayahnya?”


“Dia tidak butuh ayah peng3cut sepertimu! Dia hanya perlu hidup damai denganku tanpa terlibat dalam duniamu!”


“Aku katakan ini padamu ... dalam darah anak ini mengalir jiwa mafia dan psikopat. Mau dididik sebaik apa pun, kelak dia akan kembali ke dunia hitam!”


“Cuih!” Lucia meludahi Diego.


Diusapnya perlahan ludah yang menempel pada pipi kanannya. Diego pun menatap Lucia tajam.


Tamparan pun mendarat pada pipi Lucia hingga ia jatuh. Bukannya menangis dia justru tertawa dan bangkit.


“Tamparanmu, sama sekali tidak sakit!” tantangnya.


“Aku tidak peduli tentang sakit atau tidaknya. Yang penting bagiku sekarang kau adalah mainanku!” Diego pun meludah tepat pada kaki Lucia.


“Pel4cur!” ucapnya datar dan berlalu.


Lucia berusaha tegar sampai Diego menghilang di balik pintu. Lalu, air matanya bercucuran bebas dari tempatnya. Tak ada wanita yang kuat hidup seperti ini.


Dihamili oleh lelaki yang membunuh kedua orang tuanya. Lalu sepanjang hari, dia dijuluki pel4cur.


“Apa sebenarnya yang terjadi!” jeritnya sambil terduduk di lantai.


Lucia memegang kepala sambil menangis. “Tuhan, tolong katakan padaku ini hanya mimpi!”


Lucia menggeleng sampai bergetar seluruh tubuhnya. “Ini pasti mimpi. Tolong bangunkan aku! Sadarkan aku dari mimpi panjang ini!”


Wanita itu memberontak dan menghancurkan isi kamarnya. Dia hanya belum bisa menerima keadaan ini. Rasanya seperti baru kemarin dia hidup tenang di kampung bersama ayah dan ibunya.


Lucia memukul keras kepalanya. “Bawa aku pada kehidupanku yang dulu!” keluhnya berulang kali sambil mengingat masa kecilnya yang bahagia.


Dari dalam ruangan pribadinya, Diego puas menyaksikan keg1laan Lucia dari CCTV. Senyum jahat tergambar di sudut bibirnya.


Diego mengambil ponsel lalu menghubungi Bram. “Kirim hasil rekaman CCTV itu pada France!” mematikan panggilan itu.


Dia memilih bersantai sejenak. Sekarang tugasnya adalah, membuat Lucia menderita dari waktu ke waktu.