NOT ME

NOT ME
JALAN-JALAN



Di akhir pekan kali ini, Diego berniat mengajak Lucia jalan-jalan. Selain itu, kalung berlian yang dibuat Arsyan pun akan diberikan pada ibu dari anaknya itu.


Di kamar sekaligus penjaranya, Lucia sedang berdiri mematung dekat jendela, mengamati taman nan indah.


Entah malaikat apa yang bertakhta di pikiran Diego hari ini. Ketika memasuki kamar Lucia, wajahnya terlihat lumayan hangat dengan senyum samar terlukis di sana.


“Aku berniat mengajakmu jalan hari ini!” tuturnya lalu duduk di ranjang, memperhatikan Lucia yang masih tenang.


“Apa kamu tidak tertarik?” Diego mengerutkan dahi.


Lucia pun sedikit melirik lalu menghela nafas. Tidak ada lagi respons.


Diego mulai kesal. “Kali ini aku tidak akan menyakitimu. Niatku baik,” suaranya mulai terdengar dingin.


Lucia berbalik, menatap tajam wajah yang dianggapnya 1blis itu.


“Kamu yang membuatku terbiasa dengan kehidupan ini. Aku tidak tertarik!”


Diego tertawa sinis. Raut wajahnya kemudian berubah datar. Sikap hangatnya bahkan tidak dihargai wanita itu.


Lucia menyadari itu. “Kamu yang membuatku terbiasa dengan sikap kasarmu. Makanya, aku justru merasa risih jika kamu berbuat baik,”


“Baiklah. Aku tidak akan mengajakmu jalan.” Diego memaklumi.


Sebelum pergi, Diego mengeluarkan kotak perhiasan kecil dari saku celananya dan memberikan itu pada Lucia.


“Ini hadiah dari Arsyan. Aku harap kamu tidak akan menolak yang ini.”


Lucia memperhatikan kotak yang kini telah berada pada tangannya.


“Apa kamu tidak ingin melihatnya?” selidik Diego.


Lucia menatapnya sesaat lalu kembali menatap kotak itu. “Aku tidak suka perhiasan,”


Diego menghela nafas kesal. “Apa maumu?”


Lucia sendiri bingung. Sejak dulu dia memang tidak suka perhiasan. Mungkin terbiasa hidup sederhana.


“Ya sudah. Kalau kamu tidak suka, simpan saja!” Diego bangkit lalu pergi.


Ada yang aneh dengan sikap Diego hari ini. Tidak seperti biasa, jika keinginannya ditolak, dia akan memaki atau menyiksa Lucia.


Sesampainya di kamar, Diego langsung menghempaskan kedudukan kasar di ranjang.


Dia mengusap wajah berulang kali.


“Aku bisa saja memukulnya, tapi rasanya ... ahhh ...!”


Diego melayangkan pukulan di udara. Percakapannya dengan Bram semalam berhasil meluluhkan hatinya.


Bram menekankan pada kakaknya, bahwa Lucia tidak pantas menerima semua hukuman ini. Wanita itu sendiri tidak tahu siapa orang tuanya.


Perdebatan kakak adik itu menguras cukup banyak emosi. Hingga Diego sadar, Lucia memang tidak tahu apa-apa. Dia hanya korban dari keusilan Clara, kemudian merupakan sebuah kebetulan dia adalah kembaran Clara yang hilang.


“Kita cukup menjadikan dia tawanan tanpa harus menyakitinya lagi. Kasihan wanita polos itu!” begitulah ucapan Bram yang kemudian disetujui Diego.


Hampir 30 menit berargumen dengan pikirannya sendiri, Diego kembali menuju kamar Lucia.


Keinginannya jelas, dia ingin ditemani Lucia berkeliling kota hari ini. “Aku tidak bisa ditolak!”


Tanpa mengetuk, Diego langsung menerobos masuk. Bahkan pintu yang dibuka tiba-tiba, tidak membuat Lucia kaget.


Wajah Lucia tetap tenang dengan posisi yang sama sejak tadi. Kotak perhiasan pemberian Diego telah berpindah di atas ranjang.


Sebelum melangkah maju, Diego sempat memperhatikan benda itu.


“Siapkan dirimu sekarang!” suaranya meninggi.


Wanita di hadapannya bertingkah seolah tidak ada siapa-siapa di sana. Diego mengerutkan dahi heran.


“Apa maksud sikapmu ini? Kamu seperti memintaku untuk menyiksamu,”


Lucia tersenyum simpul sambil mengangguk. “Bukankah itu rutinitasmu?” ucapnya sambil menatap Diego.


“Sejak tadi aku telah menyiapkan diri untuk menerima siksaanmu,” sambung Lucia tenang.


Diego menyentuh dahi Lucia dengan tangan. Jangan-jangan wanita ini demam.


Pergerakan itu membuat Lucia memejamkan mata. Dia mengira Diego akan menamparnya. Lagi-lagi sikap Diego membuatnya kaget. Namun, Lucia berhasil menyembunyikan semua itu dari wajahnya.


Lelaki itu kemudian bersikap seperti biasa. “Jangan membantahku. Satu jam lagi aku ke sini!” ucapnya sambil menjentikkan jari.


Dua orang pelayan wanita masuk dengan beberapa potong pakaian di tangan serta berbagai perlatan make up. Sebelum pergi, Diego meninggalkan senyum penuh kemenangannya.


Tidak ada lagi perlawanan dari Lucia. Untuk hari ini saja dia ingin merasakan udara bebas di luar sana.


Sesuai ucapannya, Diego kembali lagi ke kamar Lucia tepat 1 jam setelah itu. Dua pelayan yang ditugaskan tadi telah pergi.


“Ayo berangkat!” ucap Diego hangat.


Lucia merasa canggung dengan penampilannya. Dia bahkan belum menunjukkan wajah pada Diego.


“Lucia?” panggil Diego saat wanita itu masih duduk diam di depan meja rias.


Lucia merasa aneh saat namanya diucap dari bibir lelaki 1blis tersebut.


Diego yang mulai terpancing emosi, berjalan mendekati lalu tanpa ragu menarik tangan Lucia.


Saat wajah mereka berpapasan, Diego langsung takjub. Lucia terlihat begitu cantik dan anggun, meski perutnya semakin membesar.


Diego bahkan tak berkedip cukup lama. Ditatapnya seluruh garis wajah Lucia yang sempurna tanpa cacat itu.


“Ah ...!” ucap Diego saat menyadari kebod0hannya.


“Gimana sama anak aku?” tiba-tiba pertanyaan aneh muncul dari mulut Diego.


Lucia melebarkan mata sambil menelan ludah. Sepertinya ada mukjizat yang bekerja hari ini. Diego menanyakan kondisi bayi yang ingin dibunuhnya.


“Baik!” jawab Lucia dingin.


“Baguslah. Dengan begitu kamu tidak akan mengeluh sepanjang perjalanan.” Diego mulai mencari alasan dari pertanyaan tadi.


Kabar tentang jadwal jalan-jalan itu pun hangat diperbincangkan oleh semua penghuni istana Diego.


Mobil mewah telah disiapkan pengawal. Hari ini, Diego ingin menyetir sendiri.


“Selamat menikmati waktu kalian!” ejek Bram sebelum Diego pergi.


“Akan ada hukuman untukmu!” ancam Diego dengan wajah serius.


Bram terkekeh mendengar itu. Dia tahu, Diego tidak akan bisa berbuat kasar padanya.


“Jaga keponakanku dengan baik ya,” pesan Bram lagi saat mobil yang dikendarai Diego melaju pergi.


Tidak ada balasan dari Diego. Wajahnya tetap dingin dan bersikap seolah tidak ada yang berbicara.


Lucia pun tidak peduli dengan perkataan Bram. Dia hanya mengelus perutnya lembut.


“Mau ke mana kita?” Diego membuka percakapan.


Lucia mengerutkan dahi. Bagaimana bisa Diego bertanya demikian. Sementara dia tahu, Lucia adalah perantau yang tidak tahu seluk-beluk kota ini.


“Mau ke mana kita?” Diego mengulang pertanyaannya.


“Tempat jualan Bu Salimah!” jawab Lucia.


Diego menghentikan mobil dan menatap Lucia. “Kamu kira aku bercanda?”


“Tuan Diego, harusnya Anda tahu!”


Lelaki itu mengedipkan mata beberapa detik. Barulah dipahami olehnya.


“Baiklah ... coba tanyakan pada anakku, mau ke mana dia hari ini?” Diego kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Lucia ingin tertawa mendengar candaan itu. Rasanya cukup menjijikkan.


“Lucia!” bentak Diego. Dia kesal karena tak ada jawaban dari wanita itu.


“Kamu yang ngajak aku, masa harus aku yang nentuin tempatnya?”


“Dengar, jangan kamu berpikir aku sudah suka padamu karena sikapku hari ini.”


“Aku hanya ingin membayar semua perbuatan jahatku padamu selama ini. Tidak ada maksud lebih!”


“Aku tidak butuh perbuatan baikmu. Tolong, biarkan aku bebas.” Wajah Lucia memelas.


Diego mendekatkan wajahnya pada Lucia. “Tidak akan!” ucapnya kemudian kembali fokus pada kemudi.