
Saat masuk ke dalam mobil, Geby disambut dengan wajah datar Diego.
“Kita akan ke mana lagi, tuan?” tanya Geby gugup.
“Pulang!”
“Ke rumah?” tubuh Geby semakin gementar.
Tanpa jawaban, Diego hanya menatap dingin lelaki di sebelahnya.
Geby menelan ludah kemudian melajukan mobil ke istana Diego.
Mobil sport yang ditumpangi Diego dan Geby melesat cepat di jalanan yang ramai. Sampai pada tempat sepi, terlihat segerombolan orang yang memegang benda tajam menghalangi jalan mereka.
“Tuan ... sepertinya mereka orang suruhan France,”
“Hmmm ... tabrak saja!” titah Diego dengan wajah santai.
Geby melebarkan mata. “Tapi tuan, jalan kita dihalang oleh motor mereka juga,”
“Hanya ini kemampuan menyetirmu?”
Diego menatap ke depan. “Kita hanya punya dua pilihan. Menghadapi mereka atau kabur. Dan aku suka tantangan!” senyum jahat terlihat di wajahnya.
Geby hanya menghela nafas dalam. “Baiklah tuan,”
Meski selalu tampil santai, Geby memiliki kemampuan bela diri yang bisa diandalkan.
“Apa yang kamu bawa?” tanya Diego sembari melipat lengan bajunya.
“Hanya MK23 tuan,”
“Itu sudah cukup!” katanya kemudian mengeluarkan revolver dari balik jasnya.
Kedua lelaki itu turun dari mobil dengan gagah. Belum ada penyerangan sama sekali. Senjata api milik mereka telah disembunyikan dengan baik.
“Jangan menghalangi jalanku,” kata Diego sambil bersandar pada bagian depan mobil.
Seorang preman yang terlihat seperti pimpinan mereka, terbahak kemudian diikuti yang lainnya.
“Lihatlah ... segerombolan 4njing sedang meraung!” cibir Geby.
Seketika tawa itu lenyap. Wajah-wajah lelaki itu berubah merah dan menakutkan. Namun, sama sekali tidak menyiutkan nyali Diego dan Geby.
“Biarkan kami pergi, jika kalian masih ingin hidup!” Diego melipat tangan di dadanya.
“Cuihhh ... jangan sok! Maju kalo berani!” si pemimpin berlari menuju arah Diego sambil mengayun beton di tangan kanannya.
Bukan hal baru bagi Diego untuk menghadapi situasi seperti ini. Dengan gesit ia menghindar lalu balas menendang tengkuk musuh.
“Serang!” ucap para preman itu.
Diego dan Geby saling tatap lalu tersenyum licik. Gerakan tangan mereka begitu cepat saat mengambil senjata api yang terselip pada tubuh mereka.
Dalam hitungan detik, 5 korban berjatuhan oleh tangan Diego. Sedangkan Geby berhasil menyingkirkan 7 orang.
Melihat mayat teman mereka tergeletak begitu saja, membuat para preman itu takut. Seketika mereka mundur dan pergi dengan kendaraan masing-masing.
Diego hanya menggeleng lalu mengibaskan jasnya.
“Ternyata hanya begini kemampuan anak buah France?” tanya Geby saat mereka kembali masuk ke mobil.
“Sepertinya mereka tidak ada hubungan dengan France,” jawab Diego tenang.
“Lalu?” Geby pun kembali melajukan mobil.
“Mereka hanya preman yang berkuasa di sini. Aku tahu persis seperti apa kemampuan anak buah Thomas dan France,”
Geby mengangguk. Anak buah France pun tidak mungkin berpenampilan seperti preman.
Tidak jauh berbeda. Para pengawal Diego juga datang dari prajurit negara yang dipecat. Bahkan beberapa di antaranya adalah perancang dan penjinak bom profesional.
Jadi, bisa dipastikan bahwa mereka adalah lawan yang setimpal.
***
Sebuah ruangan berukuran 4 × 4 meter, berdinding putih serta dihiasi banyak ular, kini menjadi penjara bagi Clara.
Sejak 30 menit yang lalu, dirinya dikurung. Gadis itu sangat menderita. Anehnya, dia bahkan tidak bisa pingsan.
2 ekor ular piton telah melilit habis tubuhnya. Nafas Clara tersengal. Semakin ia bergerak, ular itu semakin memperkuat lilitannya. Sama seperti Lucia, Clara sangat takut dengan ular.
Gadis itu hanya bisa menangis tanpa suara. Meski dililit cukup kuat, namun sama sekali tidak meremukkan tulang-tulangnya.
Saat memilih pasrah, pintu pun terbuka. Clara membuka mata dan berharap yang datang kali ini adalah papanya.
Sayang sekali. Lelaki yang muncul di hadapannya adalah Bram. Senyum jahat dilemparkan pada Clara.
Bram mendekat lalu setengah berjongkok di hadapan Clara. Ketika mata mereka bertemu, Bram tertawa tapi dengan ekspresi seperti 1blis.
“Clara!” ucapnya lembut.
Gadis itu tidak bisa menjawab. Lantaran lehernya telah dililit juga.
“Apa kamu tahu siapa aku?”
Clara berusaha menggeleng.
“Aku adalah lelaki yang kamu kerjain di Mall beberapa bulan yang lalu,”
Clara melebarkan mata. Gadis itu baru mengingat wajah Bram.
“Kamu takut ular?” tanya Bram sembari tersenyum licik.
Bram berdiri lalu mengambil seekor ular kobra dari kandangnya dan meletakkan perlahan di paha Clara. Gadis itu memberontak, menyebabkan lilitan ular piton semakin kuat.
“Waktu itu ... kami menangkap orang yang salah,” Bram mulai menjelaskan.
“Hukuman pertamanya adalah tidak diberi makan. Dan hukumannya di ruangan ini adalah yang keempat,” ucapnya sambil lalu-lalang di depan Clara.
“Perbedaannya sangat jauh bukan? Maksudku, jika hukuman pertamamu sebanding dengan hukuman keempatnya, maka bisa dipastikan hukuman keempatmu adalah neraka!” Bram melebarkan mata.
Nafasnya memburu ketika mengingat kematian April yang mengenaskan.
“Ayahmu ... adalah seorang ...,’ belum habis kalimat itu, ponsel Bram berdering.
“Jika terjadi sesuatu pada putriku, kamu akan aku bunuh!” tegas France dari seberang panggilan.
Bram terbahak puas. “Kau ingin melihat kondisi putrimu?”
“Bram!”
Lelaki itu terbahak lagi dan mematikan panggilan. Dia masih tersenyum simpul lalu mengambil gambar Clara saat itu dan mengirimnya ke France.
Pada panggilan kedua dari France, Bram langsung menonaktifkan ponselnya.
“Bertahan saja. Waktumu di ruangan ini tersisa 20 menit lagi.” Bram mendekatkan wajah lalu membelai rambut Clara kemudian pergi.
Selepas pergi dari ruangan itu, Bram merasa ada yang salah dengan semua ini. Bagaimana bisa wajah Clara dan Lucia tidak ada bedanya sama sekali?
Perbedaan yang ada pada wajah mereka hanyalah tahi lalat. Di bagian atas alis kanan Clara terdapat tahi lalat kecil. Sedangkan Lucia tidak ada.
Bram mengusap dagu sambil berpikir. “Bahkan aku dan kak Diego masih memiliki perbedaan,”
“Apa jangan-jangan ...,” menyipitkan mata.
“Mungkin lebih baik aku bertanya pada dokter Johan,”