
Para pengawal yang melihat itu langsung berlari mendekati Lucia. Saat itu mereka panik harus melakukan apa. Sedangkan Diego telah melarang siapa pun untuk menyentuh Lucia kecuali dirinya.
Seseorang dari mereka terpaksa harus memanggil Diego, apa pun resikonya. Jika terjadi sesuatu dengan Lucia, nyawa mereka pun menjadi taruhan.
“Tuan?” panggil pengawal itu waswas saat tiba di pintu kamar Diego.
“Ada apa?” Diego keluar dengan piyama, menampakkan belahan dadanya yang bidang.
“Nona Lucia,”
Mengerutkan dahi. “Ada apa dengannya?”
“Dia pingsan di taman ...,”
Diego mendorong pengawal itu lalu berlari menuju taman. Telah ada kerumunan di sana.
“Minggir!” Diego mendorong kasar para pengawal itu.
“Kalian hanya menonton saja? Kalau terjadi sesuatu dengannya, lihat saja!” ancamnya kemudian menggendong Lucia menuju kamarnya.
Diego meletakkan dengan hati-hati tubuh mungil Lucia di atas ranjang. Malam ini, dia membiarkan Lucia tidur di kamar pribadinya.
“Jangan bangga. Ini hanya kebetulan!” ucapnya sendiri kemudian membuka piyama.
Kini tubuhnya hanya dibaluti oleh celana pendek berbahan karet.
Tidak ada selera untuk mengusik Lucia. Diego berbalik membelakangi Lucia lalu mulai memejamkan mata.
Baru beberapa menit, tidur Diego diganggu oleh Lucia.
Wanita itu menendang ke sembarang arah hingga menyebabkan guncangan kecil.
“Hei!” Diego bangun dan memperhatikan Lucia.
“Bebasin aku!” ucap Lucia dengan gaya mabok pada umumnya.
Diego menutup hidung saat mencium aroma itu dari mulut Lucia.
“Jadi, kamu minum?”
Lucia mengangguk sambil tersenyum lebar. Tidak ada lagi wajah cantik dan anggun. Rambut Lucia telah berantakkan. Make upnya pun sudah terhapus.
“Ah ...!”
Diego berdiri dan menggendong Lucia menuju kamar mandi. Dengan mudahnya dia mencebur masuk Lucia ke dalam bak mandi.
“Tidur di sini!”
“Ah ... dingin!” keluh Lucia dengan wajah merengek, masih belum sadar.
“Hei kep4rat! Kau kira kau itu siapa?” Lucia tertawa kemudian kembali mengeluarkan berbagai macam kalimat.
“Diego ... aku tidak takut sama kamu. Aku benci kamu!”
“Huuuhh ... dingin! Diego, bebasin aku,”
“Hallo ... apakah ada orang di sana?”
Diego berusaha menutup indra pendengarnya dengan bantal. Tapi tidak bisa dihindari. Suara Lucia begitu nyaring memenuhi ruangan.
Dengan segenap kekesalan yang besar, Diego kembali ke kamar mandi.
“Tolong!” Lucia memanyunkan bibir.
Baru kali ini Diego melihat sisi manja Lucia. Ada rasa kesal tapi juga lucu.
“Dingin ya?” tanya Diego sambil tertawa renyah.
Lucia mengangguk berulang kali seperti anak kecil.
“Aku bebasin kamu dari sini. Tapi, dilarang berisik!”
Diego menggendong tubuh Lucia yang basah. “Buka bajumu!”
Lucia yang mabuk menurut saja.
Diego menelan ludah. “Maksudku, jangan buka sekarang. Pakaianmu yang basah itu bisa ...,”
Belum habis ucapan itu, Lucia terjatuh ke pelukannya.
Bagian dadanya yang tidak ditutupi benang, bersentuhan secara langsung dengan dada Lucia juga.
Diego memejamkan mata.
‘Aku harus tahan. Luka operasinya belum sembuh.’
“Dingin!” keluh Lucia semakin melengketkan tubuh ke Diego.
“Baiklah ... kita ke tempat tidur sekarang!”
Perlahan Diego membimbing wanita itu menuju ranjang.
Setelah membaringkan Lucia, Diego masih menatap wajah sendu itu.
Lucia membuka mata. Diraihnya wajah Diego agar semakin mendekat. Kini posisi Diego berada di atas tubuh Lucia.
Nafas mereka saling beradu. Diego ingin menjauh, tapi Lucia justru menggodanya.
“Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu yang buruk!”
Diego pun memuaskan hasratnya. “Kalau lukanya infeksi, nanti dokter Johan yang akan mengatasinya!” bisik Diego nakal lalu melancarkan niatnya.