NOT ME

NOT ME
TERNODAI



Lucia benar-benar terisak. Nafasnya sesak. Gadis itu menengadah dan terus memohon pada Tuhan dalam hati.


Pintu dibuka. Lucia bersyukur. Pengawal tadi mengambil ular yang ada pada tubuh Lucia dan meletakkan kembali di kandang mereka.


“Masih mau main-main dengan tuan Diego?”


“Diego?” ucap Lucia.


Pengawal itu menatap sinis Lucia.


“Selain wajah, ternyata namanya juga buruk!”


“Silakan Nona. Kamu hina terus bosku. Hukumanmu kali ini jauh lebih menyakitkan!”


Lucia menebak. “Oh ... mungkin aku akan disengat di kursi listrik. Tidak masalah, itu lebih bagus.”


Pengawal itu heran. Wajah Lucia tidak menunjukkan ketakutan.


“Kenapa? Heran ya? Asal kamu tau ya, aku justru lebih senang mati!”


“Ahh jangan banyak ngomong. Ayo ikut aku!”


Lucia ditarik kasar ke kamar tadi. Pecahan piring sudah tidak ada lagi.


“Begitu hormat dan takut semua orang di sini pada baj*ngan itu,” cibir Lucia.


“Kali ini aku akan berbicara yang baik padanya. Aku akan bersikap lembut agar dia percaya.”


Lucia mulai teringat kejadian di mall waktu itu.


“Apa jangan-jangan, gadis itu malingnya. Mereka salah lihat. Ya, waktu itu dia dekat sama aku terus tarik-tarik bajuku,”


Suara pintu dibuka. Lucia berbalik dan ingin menjelaskan semua pada Diego.


“Tuan,” ucapnya.


Diego bersikap dingin seperti biasa. “Ada apa?”


“Kalian salah paham! Aku bisa jelaskan semuanya,”


“Apa yang mau dijelaskan?” Diego heran dengan sikap gadis menyebalkan itu yang mendadak sopan.


“Bukan aku yang mencuri dompet tuan Arsyan. Tapi, wanita yang mendekatiku. Mungkin kalian tidak melihat wajahnya dengan jelas, sehingga ...,”


“Dari mana kamu tahu nama asisten pribadiku?” tanya Diego semakin curiga.


“Dari pengawal tadi. Dia menyebut nama Tuan Arsyan. Aku tidak mengenalnya, sungguh!”


“Semakin lugu sikapmu, aku yakin, kamu adalah seorang penipu berkelas!”


Lucia tercengang. Apa yang harus dilakukan lagi? Niatnya untuk menjelaskan malah dituduh sebagai kebohongan.


“Terserah! Aku tidak peduli. Sekarang juga, aku mohon bebaskan aku.”


Diego tertawa sinis. “Tidak semudah itu! Kau harus bayar semuanya!”


“Bayar apa? Oh ... tagihan penginapan dan makanan yang tadi?”


Diego semakin kesal. Niatnya untuk menghancurkan Lucia telah bulat. Sikap lugu gadis itu dianggapnya penipuan.


“Membayar semua hinaanmu pada ibuku,” ucap Diego sambil maju dan mendorong tubuh Lucia hingga terjatuh di ranjang.


“Ma ... maksudmu?” Lucia gugup.


“Aku ingin kau menyesali kata-katamu.” Mendekati Lucia sambil membuka pakaiannya.


Gadis polos itu menutup matanya takut. Jantungnya berdetak kencang.


“Kata-kata yang mana?” suaranya terdengar serak.


Lucia memberanikan diri untuk menatap Diego. “Ya, aku memang lebih istimewa dari ibumu. Jika ibumu wanita yang istimewa, kamu tidak akan bersikap sekasar ini pada wanita lain!”


Gadis itu memberontak dan berhasil mendorong tubuh Diego hingga terpental jauh. Saat itu, perkataan Lucia seperti merebut seluruh perhatiannya.


Lucia bangkit dan merapikan pakaiannya. Gadis itu berjalan menuju pintu. Namun, tangan Diego menarik dan menyeretnya menuju ranjang.


“Lepaskan aku!” meski lemah, Lucia tetap akan berusaha menjaga tubuhnya.


“Ucapanmu tidak bisa dimaafkan!” Diego mendorong tubuh Lucia.


Saat ingin melawan, Tangan kekar itu berulang kali mendarat di kedua pipi Lucia. Gadis malang tersebut memilih pasrah.


Benar kata pengawal tadi. Hukuman kali ini jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya. Bahkan Lucia berpikir untuk bunuh diri setelah dilecehkan.


Diego yang sudah terbiasa dengan perbuatan itu, memperlakukan Lucia seenaknya. Sakit kali ini berlipat kali lebih dari semua siksaan yang diterima.


Lucia memejamkan mata, ketika Diego memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Dinding kesuciannya telah robek. Harga dirinya sebagai seorang wanita telah hancur. Terpikir olehnya untuk membunuh Diego saat itu juga.


Lucia bergerak mencari sesuatu di nakas. Dia berhasil mendapat vas bunga yang pas di tangannya. Sambil menahan nafas, ia membanting benda itu tepat di kepala Diego.


Aneh lelaki itu tidak berteriak atau sebagainya. Dia memegang kepalanya yang berdarah, kemudian tersenyum licik. Kini, Diego semakin menambah penderitaan Lucia.


“Aku akan membuatmu sampai hamil. Lalu, seumur hidupmu, kau akan sangat menderita!”


Lucia menggeleng dan berusaha mendorong tubuh kekar Diego. Gagal. Dia sama sekali tak berdaya.


“Aku akan membuatmu menangis dan memohon kematian!”


Tubuhnya mulai lemas. Sedangkan Diego masih terus berbuat sesukanya. Niatnya ingin balas dendam. Lucia benar-benar dibuat terluka olehnya. Dia berhasil melukai gadis itu secara fisik dan mental.


Selesai dengan perbuatan kejamnya, Diego pergi tanpa berucap. Hanya sebuah senyum kemenangan yang diberi.


Lucia menjerit dan memukul kepalanya sendiri. Dengan susah payah dia berjalan menuju kamar mandi lalu menyiram tubuhnya. Karena terlalu banyak bergerak, jahitan pada tubuhnya terlepas. Darah segar mengalir berbaur dengan air.


“Biarkan aku mati! Aku mohon, siapa pun yang mendengarku, bunuh saja aku!”


“Ah ... ayah ibu, kenapa kalian menyuruhku ke kota ini? Lihat, sekarang aku telah ternoda!”


Berulang kali Lucia membanting kepalanya di tembok hingga berdarah. Akibat terlalu banyak darah yang keluar, ia pun pingsan.


Tidak ada kecemasan di wajah Diego saat menyaksikan itu. Seperti biasa dia akan meminta pelayan serta dokter pribadinya untuk merawat Lucia. Setelah dirasa cukup baik, dia akan terus menyiksa hingga wanita itu mau berkata jujur.


***


“Bagaimana kondisinya?” tanya Diego pada Johan, dokter pribadinya.


“Sudah cukup membaik. Dia gadis yang kuat. Aku pikir dia akan membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh.”


“Luka fisiknya akan lekas sembuh. Tapi tidak dengan luka batinnya,” ucap Diego santai lalu meneguk kopi hangatnya.


Johan terdiam. Semua sudah tahu, Lucia telah dinodai Diego. Sebenarnya, Johan tidak suka dengan cara Diego. Tapi, tidak ada yang berani menantang perbuatan mafia kejam ini.


“Rawat semua lukanya sampai sembuh. Secepatnya, aku ingin melukainya lagi.”


“Tuan ...,”


“Ada apa?” Diego menatap tajam dokternya.


“Aku tidak tahu apa masalah Anda dengan wanita itu. Tapi ... alangkah lebih baik, Anda membiarkan dia pergi. Kasihan. Dia bukan boneka atau mainan,”


“Sejak kapan kau berani berbicara begitu padaku?”


Johan menunduk. “Maafkan saya, Tuan!”


“Lakukan apa yang ku katakan tadi. Jangan bertanya ini dan itu. Tugasmu, hanya merawat aku dan keluargaku!”


“Baik, Tuan. Saya permisi,” ucap Johan gugup lalu pergi.