
“Apa kamu sudah tahu keseharian gadis itu?” tanya Diego sambil meneguk kopi hangatnya.
Bram yang duduk di samping kakaknya mengangguk.
“Sudah. Hanya saja, bukan hal yang mudah untuk menculiknya kak,”
Diego menyipitkan mata dan menatap tajam adiknya.
“Sepertinya France sudah curiga. Kepergian anaknya selalu diawasi dari jarak jauh.”
“Hmmm ... culik secara terang-terangan. Biarkan mereka tahu. Toh selama ini hanya kita musuh mereka!”
“Tapi Kak ...,”
“Tidak ada kata tapi. Lakukan apa yang aku minta!”
“Baiklah kak.” Bram pun beranjak pergi.
“Clara, kamu harus membayar semua!” ucap Diego dengan suara menakutkan.
***
Hari kedua Lucia tinggal bersama Salimah.
Meski pertengkaran kecil selalu terjadi di rumah itu, tapi Lucia memilih bertahan.
Pagi ini, Lucia membantu Salimah membuat cilok.
“Biar Lucia yang cuci semua piring kotornya Bu,” tawarnya saat mereka selesai.
“Tapi Nak,”
“Ibu siapin aja barang yang mau dibawa,” ucapnya sambil tersenyum manis.
Salimah menurut. Sebelum wanita itu pergi, dia sempat memperhatikan keanehan di wajah Lucia. Gadis itu terlihat pucat.
“Apa kamu kelelahan?”
“Nggak Bu,”
“Semalam begadang?”
Lucia mengerutkan dahi. “Nggak kok Bu. Ada apa?”
“Wajah kamu pucat nak. Jangan terlalu dipaksakan kalo capek,”
“Oh ... mungkin efek mau datang bulan Bu.”
Salimah mengangguk lalu berjalan menuju gerobak dagangan. Baru juga beberapa langkah, terdengar suara Lucia mual.
“Nak?” Salimah berlari mendekati Lucia sambil mengusap bahunya.
“Duh ... dari kemarin perut aku rasanya nggak enak Bu.”
“Kamu istirahat saja ya. Hari ini biar ibu yang jualan,”
“Aku masih sanggup kok Bu.” Kepala Lucia terasa pusing.
“Nak?” Salimah kembali menggoyang bahu Lucia.
Dalam hitungan detik, Lucia jatuh pingsan. Salimah panik sambil menggoyang bahu anak angkatnya itu.
Beruntung tetangga sekitarnya baik dan mau membantu.
“Mungkin dia kecapean Bu,” tutur ibu-ibu tetangga.
Di sebelah rumah Salimah, ada yang anaknya kuliah jurusan kebidanan. Dengan rela gadis berusia 21 tahun itu memeriksa keadaan Lucia.
Meski hanya seorang mahasiswi, namun gadis itu cukup pandai dalam memeriksa pasien.
“Bagaimana Nak?” tanya pada Arini, ketika gadis itu keluar dari kamar.
“Bu Salimah, apakah ibu sudah cukup kenal dengan dia?” tanya Arini ragu.
Salimah terdiam. Mereka baru saja saling kenal beberapa hari yang lalu.
“Ada apa Neng?” tanya para tetangga kepo.
Arini menatap sedih Salimah. Baginya ini adalah pembicaraan yang bersifat rahasia.
“Ibu-ibu, biarkan saya bicara dengan ibu Salimah empat mata,”
Arini menarik tangan Salimah masuk ke kamar. Lucia masih belum sadar.
“Dia sedang hamil muda Bu.”
“Apa?” Salimah melebarkan mata.
“Apa dia sudah menikah?”
“Entahlah Nak. Dia sendiri tidak banyak bercerita. Lucia selalu mengatakan kalau dia menderita.”
“Apa jangan-jangan, dia kabur dari rumah karena disiksa sang suami?” tebak Arini sambil menoleh pada Lucia.
“Tapi ... dia masih sangat muda untuk dikatakan sebagai seorang istri,”
“Bisa saja Bu. Zaman sekarang kan banyak yang nikah muda,”
Salimah terdiam. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Lucia. Apalagi, tidak ada yang tahu pasti identitas Lucia.
Arini melihat keraguan di mata Salimah. Gadis itu menepuk lembut bahu Salimah.
“Tapi Nak, dia akan jadi buah bibir para tetangga,”
“Siapa yang tahu tentang dia? Kita berpikir positif saja ya. Mungkin dia sudah menikah tetapi memilih kabur karena adanya masalah besar,”
Salimah kembali tersenyum meski tidak ikhlas. Arini, gadis cantik dengan kepribadian yang dikagumi banyak orang. Selalu menutup aurat serta sopan pada semua orang.
“Terima kasih Nak,” ucap Salimah tulus membuat Arini tersenyum lega.
Lucia membuka matanya perlahan. “Bu?” panggilnya.
Salimah berlari mendekati Lucia sambil memegang jemarinya.
“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Lucia ketika melihat Arini berdiri di belakang Salimah.
Wanita tua itu berbalik seolah meminta penjelasan dari Arini secara langsung.
“Hai ... sepertinya kita seumuran,” sapa Arini sambil duduk di tepi ranjang.
Lucia membalas itu dengan senyum meski canggung.
“Aku Arini,” ucapnya sambil memberikan tangan.
“Lucia.”
“Ibu pamit sebentar ya,” pamit Salimah.
Lucia mengikuti kepergian Salimah dengan matanya. Terasa ada yang aneh di sini.
“Ada kabar bahagia yang harus kamu tahu. Saat ini, kamu sedang hamil,” ucap Arini tenang seraya memperhatikan perubahan raut wajah Lucia.
Terlihat sudah. Arini yakin, Lucia belum menikah. Karena mendengar itu, Lucia melebarkan mata sambil terus menggeleng.
“Tidak ... ini tidak mungkin terjadi,” ucapnya berulang kali.
“Ada apa?” selidik Arini.
“Aku tidak mungkin mengandung anak dari b4jingan itu,”
Lucia meneteskan air mata sambil memegang perut.
“Kamu pasti salah. Tolong bilang, kalau kamu keliru!”
Arini semakin yakin, ada yang salah dengan hubungan itu sampai Lucia memberontak.
“Apa kamu belum menikah?” pertanyaan itu membuat Lucia terdiam.
“Tidak!” tangisnya sambil memegang kepala dan terus menggeleng.
Arini mendekat sambil memegang bahu Lucia.
“Apa ada masalah?”
Lucia semakin menangis lalu memeluk Arini.
“Tolong bantu aku. Kalau sampai dia tahu, aku takut dia akan datang dan menyakitiku lagi,”
“Siapa?” tanya Arini penasaran.
“Diego,”
“Diego?” Arini mengerutkan dahi. “Apakah dia ayah dari anak ini?” sambungnya lagi.
Lucia mengangguk.
“Suamimu?”
“Bukan ... aku diculik, disiksa kemudian dia tega memperkosaku,”
Arini membuka mulutnya secara tak sadar. Ternyata, wanita di depannya ini adalah seseorang yang depresi.
“Tenang saja. Dia tidak akan bisa menemukanmu di sini. Kami semua akan melindungimu,”
Arini mencoba menenangkan Lucia hingga wanita itu tertidur lagi. Demi menjaga Lucia dari gosip para tetangga, Arini pun menceritakan semua pada mereka, agar mereka mengerti dan mau ikut menjaga Lucia.
“Bu Salimah, Lucia bilang dia akan mencari pekerjaan agar tidak membebani ibu,”
“Ah ... nanti biar kami bicarakan itu. Terima kasih Nak, sudah mau membantu,”
Arini tersenyum lembut lalu berpamitan pulang diikuti oleh para tetangga.
Salimah mengusap dada lalu masuk lagi ke kamar. Terlihat Lucia yang duduk di tepi ranjang dengan wajah putus asa.
“Nak,”
“Ibu ...,” ucapnya kemudian menangis di pelukan Salimah.
“Katakan Nak. Ibu siap mendengar semua,”
Lucia berusaha mengatur nafas agar bisa bercerita. Salimah dengan sabar mendengar. Butuh waktu lama untuk menyelesaikan cerita itu.
Salimah mengerti dan mau merawat Lucia beserta anaknya kelak.
“Bertemu denganmu membuat ibu senang nak. Setidaknya, ibu merasa disayang oleh anak sendiri,”
Lucia memegang perutnya yang masih rata.
“Semoga aku sanggup, Tuhan!”